Menulis Itu Gampang

Menulis itu Mudah: Menulis itu Bukan Bakat Namun Kompetensi

Posted on March 14, 2008 |

Menulis jika dilakukan secara benar, tak ada bedanya dengan kegiatan bercakap-cakap (Laurence Sterne — novelis)

Banyak membaca saja tidak cukup. Itu kesimpulan saya setelah mendapat jawaban yang nyaris seragam dari para penulis senior. Waktu itu saya menanyakan bagaimana membuat tulisan yang menarik, pertama kalinya ngeblog.

Membaca baru merupakan langkah awal mengumpulkan data-data yang nanti akan memperkaya tulisan. Menyodorkan data-data mengenai pengalaman apa telah yang dilihat, didengar dan dipelajari apa adanya tentu saja kurang menarik. Ini tak ada bedanya dengan straight news di sebuah portal berita.

Menulis itu Bukan Bakat Namun Kompetensi

Terhadap suatu peristwa kita harus menafsirkan atau memaknainya dengan sudut pandang yang belum pernah di lakukan penulis lain. Misalnya waktu itu banyak orang berdemostrasi menolak perayaan valentine day. Tentu kurang menarik andai kita menuliskan hanya dengan menceritakan apa yang dilakukan para pendemo.

Membaca peristiwa itu Mumu telah menuliskannya dengan sudut pandang yang sangat unik. Dia menafsirkan, ulah para demonstran itu merupakan bentuk dukungan kepada pemilik modal. Karena peristiwa yang sebenarnya biasa-biasa saja itu akhirnya mengingatkan orang untuk segera berbondong-bondong berangkat ke mal membeli coklat.

Sebagai penulis yang baik harus kritis. Kalau perlu mempertanyakan semua hal. Ya, semua hal. Termasuk misalnya kenapa kau diciptakan sebagai laki-laki atau perempuan misalnya. Agak kurang waras? Mungkin.

Karena bisa saja apa yang tampaknya hanya gejala umum, bagaimanapun tidak begitu umum atau sebaliknya. Apa yang tampaknya sebagai sebab, sebenarnya adalah akibat (dan sebaliknya). Apa yang tampaknya saling berhubungan secara positif sebenarnya saling berhubungan secara negatif atau sebaliknya dan seterusnya

Andai sudah memilih sudut pandang yang tepat apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan ke pembaca selebihnya tinggal menuliskannya. Just do it. Tumpahkan semua isi kepala sampai tuntas. Tak perlu memperhatikan pilihan kata, ejaan yang salah, susunan kalimat dan lainya.

Buruk? Tentu saja. Tugas berikutnya adalah mengedit. Inilah saatnya di tuntut untuk benar-benar berpikir. Kita harus bisa mengubah tumpahan itu menjadi tulisan paling indah versi masing-masing penulis.

Caranya kita harus pintar menyusun kalimat dengan baik. Artinya gunakan kalimat yang ringkas, pendek, jelas dan tak bersayap. Hingga pada sebuah kalimat nyaris tak ada kata-kata yang sia-sia.

Kita sekarang hidup di belantara teks, pembaca tak mau berlama-lama memboroskan waktu untuk membaca tulisan yang bertele-tele. Pembaca yang kritis akan terus melanjutkan membacanya atau tidak tergantung dari paragaf pertamanya.

Agar tak membosankan, hindari kata-kata yang terlalu biasa dan kurang kuat yang telah sering dipergunakan orang. Misalnya kata “membawa”, tentu akan lebih kuat jika kita menggantinya dengan “menjinjing” atau “memanggul misalnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah detail. Detail yang pas akan memperkuat apa yang kita diskripsikan dalam tulisan. Namun harus hati-hati, detail yang tak sesuai dosis juga akan membuat pembaca segera mengklik link ke website lain.

Hal paling memalukan dilakukan oleh penulis adalah ketika dia berlindung di balik kalimat yang dianggapnya sakti, “..tak dapat dilukiskan dengan kata-kata”. Percayalah itu hanya dilakukan oleh penulis yang malas berpikir dan mencari tahu.

Meski memang benar, bahasa tak sanggup mewakili semua suasana atau perasaan seseorang. Namun tugas penulis adalah menyampaikan pesan sehingga pembaca mendapatkan sesuatu dari apa yang telah kita sampaikan.

Menulis itu tidak sulit, namun juga tak begitu mudahnya. Seperti profesi lain, bisa dipelajari. “Dan ini tak ada hubungannya dengan bakat, namun kompetensi”, kata Yayan Sopyan (pendiri Jakarta School).
—————————–

Note:

karmin fanabisIni sudut pandang KW, sebuah inisial di balik blog Fanabis (slengekan fun abis) mengenai topik “Menulis itu Mudah” yang dipersembahkan khusus untuk Sudutpandang.com. Saya kenal baik Karmin, alias KW, dari awal ia merintis karir. Saya termasuk salah satu orang yang bangga dengan pencapaiannya sekarang dalam menaklukkan Jakarta.

Namun saya tidak menduga sama sekali bahwa ia bisa menulis begitu bagus dan produktif — blognya nyaris di-update setiap hari. Maka ketika menemukan blognya setahun lalu, saya tak percaya, dialah yang menulis. Tapi memang dialah yang menulis. Dialah sang “laki-laki yang ingin bisa terbang tanpa sayap, mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata dan orgasme tanpa ejakulasi :)” — sebuah identitas yang ia coba kampakkan di blognya.

Tulisan terkait:

Menulis Itu Gampang: Mulailah Sejak Dini
Menulis itu Gampang: Memberi “Roh” pada Tulisan
Menulis Itu Gampang: Mulailah dengan Blog
Menulis Itu Gampang

Comment: arrow

36 Responses to “Menulis itu Mudah: Menulis itu Bukan Bakat Namun Kompetensi”

  1. hidup KW!!!

  2. Hidup KW…!! Makan-makan Mas….

  3. waduh saya di puji-puji. terimakasih juga dikasih kesempatan “nampang” di sini. oh ya saya sampai sekarang belum pernah merasa sudah bisa menaklukkan jakarta pak nukman.

    dan kayaknya itu bukan target saya. bisa “menaklukkan” satu orang saja itu sudah cukup bagi saya. :)

  4. mengutip sabda sang nabi blog:
    “makan makan…makan makan….”

  5. Hidup KW! KW berapa nih, KW9 atau KW berapa. hehehe.

    Mari menulis!

  6. wah sepertinya hal ini pun tak asing dalam pandangan dan penerawangan .. imajinasi para blogger lainnya …

    upps .. saya kenal, siapa beliau … fanabis :D

  7. hore hore….

  8. menurut saya menulis itu mudah jika sudah memikirkan konsep, sebaliknya, menulis itu penderitaan, hehehe

  9. keren tulisannya mas… minta honor ama babeh

  10. Selamat “nampang” ya mas KW…

  11. wah… maznya ganteng ya. jago nulis lagi. kenalan dunk maz! no. hpnya berapa? boleh sms?

  12. saya termasuk pembaca setia blog funabis. tulisan2 bung kw pendek, ringan, lincah, renyah, banyak kejutan dan yg membuat saya iri, sering bisa sangat lucu, satu aspek paling sulit dari menulis.

  13. Tulisan mas KW cen sip. kata orang jualan carger hp..”Ini carger nokia memang bukan orisinil, tapi KW1 [kualitas 1], di jamin dah…”

  14. Hidup KW!
    *ikut-ikutan*

  15. Seandainya Indonesia memiliki 10 orang spt mas KW, pasti Indonesia akan memiliki 10 blog spt fanabis! (halah)…
    Mas KW ini dulu kalo di kantor selalu terlihat pendiam dan malu-malu kalo diajak ngobrol… ternyata di balik “malu” nya (dilarang ditambahin prefik maupun suffik!) tersimpan berjuta kata-kata cemerlang! Selamat mas KW!

  16. wah bisa minta traktiran ke KW nih

  17. eloook nan!

  18. Mas KW emang keren, sering ngiri plus kagum liat blognya selalu terisi setiap hari :) dan senengnya, nggak dia pelit begi-bagi ilmu tentang menulis.

  19. Saya juga ‘merasa’ sangat mengenal KW, luar biasa. Sekarang lagi mencoba mengikuti jejak KW. Mas Nukman lebih luar biasa lagi. Selamat untuk semuanya

  20. llooh??
    om nukman mo ngikutin jejak si KW?
    jadi penulis review?

    Ndak Tik. Saya meminta sudutpandang banyak orang-orang hebat mengenai topik yang lagi saya bahas. Kebetulan bahasannya adalah Menulis itu Gampang. Dalam hal ini, KW tergolong yang hebat. Tul ndak? NL

    hidup MUMU..!!!!
    sayah sering baca tulisan Mumu..
    **kasian ndak ada yang dukung**

  21. mengunjungi blognya kw setiap hari ibarat mengunjungi seorang pelacur yang cantik dengan pelayanan yang sempurna……hmmmmm….benar-benar membuat ketagihan

  22. Cihuyyyyyyyyyyyyyyyyy

  23. wuiihhh….saya diam2 juga ngefans sama mas KW. eh gak diem2 juga dhing. mestinya dia tau, huhuhu…

  24. KW memang jos gandos… boleh minta poto2 ga om..sama maz KW.. keekkkeekkkk

  25. makan-makan! (TM)

  26. Kang KW, emang top markotop dan gud marsogud

    Kapan ke jogja, eh

  27. maunya d traktir..tapi ndak mungkin yah..yo wes hidup mas KAWE!!!!

  28. good article

  29. tulisan nya mas KW gak pernah bosen, mungkin cerita bisa berbeda kalo dilihat dari sudut pandangnya ama gaya bicaranya :)

    pengen ketemu langsung ama mas KW :)

    kapan ke yogya?

  30. [...] Itu Gampang: Mulailah Sejak Dini Menulis itu Mudah: Menulis itu Bukan Bakat Namun Kompetensi Di Sudut Angkringan Jogja: Berinvestasilah! Menulis itu Gampang: Memberi “Roh” pada [...]

  31. Emang gampang menulis, cuma waktunya yang gak gampang… :p

  32. lhm buchori Says:

    tolong dong kasih resep agar tulisan kita sangat mudah masuk dalam pasaran & akhirnya diminati oleh masyarakat luas please! beri tahu,tlgnya bls di email saya

  33. Menulis gampang?

    Menulis apa yang gampang? Menulis disertasi, thesis, skripsi atau hanya blog?

    Menulis benarkah gampang?

    Menulis hanya butuh 5% bakat dan 95% kerja keras!!!

    Jadi menulis adalah kerja keras?

    Bisa jadi menulis adalah kerja keras yang gampang.

    Salam,
    Penjaga Sanggar Mewah
    http://elfarid.multiply.com

  34. topik yang bagus, terutama untuk saya yang baru di dunia blog..

    bookmark dulu ahh..

  35. [...] menulis ini ketika saya selesai membaca tulisan dari blog Nukman Luthfie yang berjudul “Menulis Itu Mudah: Menulis Itu Bukan Bakat namun Kompetensi” dengan [...]

Leave a Reply

Recent Comments

Billy Koesoemadinata:

weleh pak nu’man, salam kenal ya… saya baru sekali ini nemu blogs-nya.. ga laen...

JOKO PURWANTO:

Sekadar numpang nanya, boleh kan? Saya dulu punya kakak angkatan di Teknik Nuklir sekitar akhir thn...

BimBel:

musim krismon spt skrg ini….internet marketing lah salah satu solusi u/ memulai menjadi pengusaha

roy:

wah pak nukman lihat situs saya aja http://www.dhasta.co.cc :-)

Thomas:

Halo Bung Nukman, Salam Kenal … Komentar dikit : Sepertinya Bung Andrie Wongso yang ngomong gitu...

anang miranto:

siapa yang ngajari dia ya?:) hingga bisa se bijak itu dalam berbisnis?:)) ah pertanyaan yang...

seminar baru

Copyright © www.sudutpandang.com 2008 - Powered by Virtual Consulting | Valid XHTML - CSS