Posted on March 31, 2008 |
Begitu banyak jenis tulisan kalau kita mau menggolong-golongkannya. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada berita hardnews dan analisa. Ada pula biografi, esai, artikel, skrip radio dan teve, editorial, weblog, surat cinta dan segudang lainnya. Jangan lupa, ada yang berkaitan dengan bisnis, seperti surat penawaran, minutes meeting, dan ribuan jenis business letter.
Lupakan dulu kategorisasi yang memusingkan kepala. Karena sebagian besar jenis tulisan bisa dikatakan baik dan benar bila memenuhi rumus baku yang sama. Yakni 5W + 1H. Itulah rumus sakti yang menjadi pegangan saya ketika menjadi jurnalis di Bisnis Indonesia, majalah PROSPEK dan terakhir di majalah SWA (ya, profesi awal saya adalah jurnalis, kurang lebih lima tahun saya menjalaninya dengan penuh suka cita).

Rumus macam apa itu? Sederhana sekali:
W1 = What
W2 = Who
W3 = When
W4 = Where
W5 = Why
H = How
WHAT adalah apa yang akan kita tulis. Tema apa yang ingin kita ungkapkan. Hal apa yang ingin kita tuangkan dalam tulisan. What ini bisa apa saja. Bisa soal “Lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai”, “Situs porno diharamkan dan akan diblokir Pemerintah”, “Bagaimana bisa menjadi kaya, sukses sekaligus mulia?” atau topik yang sedang hot di dunia gosip: “Apakah anak kandung Mayangsari juga anak kandung Bambang Tri?”.
What yang kita tentukan ini akan menjadi dasar untuk 4W lainnya. Mari kita ambil topik mengenai Mayangsari saja. Mumpung masih hangat.
WHO adalah siapa tokoh yang menjadi tokoh utama di WHAT. Dalam studi kasus ini, who-nya minimal bisa tiga tokoh: Mayangsari, Bambang Trihatmodjo, dan sang anak yang baru berusia dua tahun: Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Yang pertama dan kedua sudah amat terkenal. Sosok mereka sudah tertulis di mana-mana.
Meski Who is Mayangsari sudah banyak yang tahu, masih banyak sisi lain yang menarik untuk dieksplorasi. Bahkan kebungkamannya mengenai tes DNA anaknya, menjadikan sosoknya makin layak tulis, sampai-sampai bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya secara diam-diam dan bagaimana ia menjenguk ibunya di rumah sakit dijadikan bahan pemberitaan. Suasananya hati Mayangsari digali dengan baik sehingga makin menegaskan sosoknya dalam menghadapi isu anak kandungnya.
Buat kita, yang tidak perlu jadi wartawan untuk bisa menulis sebaik mereka, Who harus menjadi bagian yang berkaitan dengan What. Kalau kita ketemu Who yang tidak dikenal target pembaca kita, maka kita harus mengupasnya dengan baik sehingga jelas keterkaitannya dengan What.
WHEN adalah waktu kejadian WHAT. Ini yang sering diabaikan oleh banyak penulis pemula. Kapan kejadiannya akan memberi tambahan informasi dan imajinasi pembacanya.
WHERE adalah tempat kejadian WHAT. Meski kelihatannya sepele, tempat kejadian ini punya makna. Ketika Jose Mourinho berkunjung ke Milan tiga hari lalu misalnya, segera merebak isu ia mau pindah ke Inter Milan. Coba kalau ia perginya ke Bali, kemungkinan besar tak akan ada isu itu.
WHY adalah mengapa terjadi WHAT. Ini yang paling menarik karena bisa dikupas dari berbagai sudut. “Permintaan tes DNA keluarga mantan presiden Soeharto terhadap anak Mayangsari” bisa dikupas dari sisi hukum, keluarga maupun pribadi. Bahkan kalau mau diseret jauh hingga ke dunia mistis, misalnya minta diteropong oleh ahli nujum.
HOW adalah bagaimana WHAT terjadi, bagaimana prosesnya, lika-likunya, dan sejenisnya.
Yang jelas, dengan 5W+1H, tulisan kita dari segi kelengkapan informasi – sekali lagi: kelengkapan informasi — tidak akan mengecewakan pembaca kita. Kalau ada yang kecewa itu biasanya karena disebabkan oleh kekurangtepatan kita mengungkap WHY dan HOW-nya di mata pembaca.
Jangan salah faham: rumus ini bukan hanya untuk nulis artikel, esai atau tulisan serius lain. Bahkan surat lamaran kerja, undangan meeting, surat cinta bahkan diskusi pendek-pendek di berbagai milis, rumus ini amat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan kekuranglengkapan informasi.
Cukupkah berbekal rumus baku di atas? Tidak. Bagi mereka yang ingin menulis dan mendapat respon pembacanya, ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dari rumus 5W+1H. Yakni “Daya Tarik Tulisan”. Nanti akan dibahas dalam tulisan berikutnya.
Tulisan terkait:
Menulis itu Mudah : 3 Blogger dengan 3 Gaya Menulis
Menulis Itu Gampang: Mulailah Sejak Dini
Menulis itu Mudah: Menulis itu Bukan Bakat Namun Kompetensi
Menulis itu Gampang: Memberi “Roh” pada Tulisan
Menulis Itu Gampang: Mulailah dengan Blog
Menulis Itu Gampang
March 31st, 2008 at 10:01 am
hmmm, patut dicoba nih om. artikel yang sangat membantu, ditunggu tips berikutnya
March 31st, 2008 at 10:27 am
wah dapat ilmu jurnalist gratis nih. thanks om nukman…
boleh privat gak?
boleh. tapi bayarnya mahal
March 31st, 2008 at 11:07 am
Wah,dulu saya pernah di ceramahi oleh seorang teman ( okto ) mengenai tips ini. Tapi itu dulu dan sudah lupa
Sekarang sudah ingat lagi karena ada bacaan ini.
iya, dulu tips ini pernah saya tulus di milis teknik nuklir UGM
March 31st, 2008 at 1:56 pm
ga rugi neh ketemu sudutpandang…belajar langsung sama beliau yang memang kompeten. perbanyak info nya pak
March 31st, 2008 at 4:00 pm
Blog nya bagus mas.
March 31st, 2008 at 8:06 pm
Pak Nukman yang baik… makasih dah membalas email saya. 5W+1H jurus menulis klasik pak yang banyak diterapkan di kalangan jurnalistik…. ada gak Pak jurus lain menulis ala Indonesia?
5w+1h itu jurus sapujagad yang bisa dipakai siapa saja di mana saja. Jurus lain masih ada. Tunggu serial berikutnya ya.
April 1st, 2008 at 3:03 am
Jurus itu kadang2 didunia online ada yang salah kaprah karena mengandalkan kecepatan isi berita jadi suka ngaco? saya sering ketemu loh malah ada yang copy paste dari website dalam bahasa inggris menggunakan online translator.
April 1st, 2008 at 1:16 pm
Pak Nukman,
Terimakasih banyak atas tips dan trik menulisnya yang sangat bermanfaat.
April 2nd, 2008 at 8:08 am
Wah gampang tho ternyata
April 3rd, 2008 at 8:10 am
Mas Nukman, 5W+1H (bukan 5 Wanita plus 1 Happy, kan?) itu lebih sesuai untuk penulisan berita ya? Untuk karya tulis lain, misal feature atau essai, kan tidak semua unsur itu harus ada.
Ini mungkin penting untuk diketahui karena kebanyakan blog (kalau memang bahasan ini dikhususkan untuk penulisan blog) tidak semuanya mengenai berita dan harus mengandung unsur berita (5W+1H) tersebut.
Om Happy, 5W+1H itu adalah dasar kelengkapan informasi, yang biasanya lebih ditekankan untuk berita. Namun jenis tulisan lain, termasuk esai dan feature, akan lebih informatif jika memenuhi standar ini.
Selamat atas kantor barunya, salam buat virtualers!
Kapan mampir ke sini Hap?
April 3rd, 2008 at 12:15 pm
bener juga klu di bilang jurus sapu jagad, soalnya d pakai juga untuk analisa ke-engineering-an d kantor ku, setiap preject proposal harus menyertakan ke enam elemen tsb.
April 3rd, 2008 at 12:27 pm
Patut dicoba, terlebih untuk orang yang baru mulai belajar. ditunggu tulisan berikutnya.
April 3rd, 2008 at 6:50 pm
mantap boss,,
tp untuk batasan2 masing paragrap dn disisipin rada gaul dikit masalah kata2 ato kalimatnya lebih mantap lagi kayaknya,, *halahh…
anggap aja saya ngomel sendiri boss..
April 4th, 2008 at 7:40 am
saya pernah berfikir menulis itu susah… sampai sekarangpun masih seperti itu… hummff.. kenapa ya…
April 4th, 2008 at 7:55 am
@10. selamat mas… hore hore kantor baru…
pak nukman, tulisan selanjutnya di tunggu
April 17th, 2008 at 10:29 pm
[...] Terinpirasi oleh artikel Pak Nufti di blog sudutpandang.com, membuat saya ingin terus belajar menulis. Masih inget rumus 5W + 1H? [...]
April 18th, 2008 at 8:32 pm
hehehe bapak membuktikan di tulisan bapak sendiri; dari topik yang singkat bisa jadi tulisan sehalaman penuh……; tengkyuya pak
May 5th, 2008 at 1:05 pm
Thanks tuk bagi ilmunya,,moga bermafaat buat aku!!!!!!
May 11th, 2008 at 12:09 am
Saya baru tau tulisan ini namun karena saya paksa menulis akhirnya bisa juga. Bahkan saya pernah menjadi kolumnis di Tribun Kaltim Balikpapan selama 1 tahun.Bahkan rata-rata artikel hanya ditulis dalam waktu 1 atau 2 jam saja.
Saya akan coba menyempurnakan tulisan-tulisan di atas pada blok saya.
Oh ya saya juga link-kan inspirasi (hiu-hiu kecil)dr sudut pandang ini ke blog saya.
Terima kasih.
May 14th, 2008 at 2:05 pm
Kalau dari blognya Kang Isman, saya malah menemukan istilah JENDELA JOHARI, yakni sebuah model sederhana untuk memetakan kepribadian kita.
sedikit beda rumus, namun penyampaiannya kurang lebih, sama.
June 12th, 2008 at 12:40 pm
rumus 5w + 1h tidak saja untuk urusan tulis menulis tapi cocok juga untuk menganalisa problem teknik seperti yang saya lakukan di tempat kerja saya (saya teknisi)
tolong bagaimana caranya untuk memulai menulis koq rasanya berat & sulit sekali , trims jawabannya
June 22nd, 2008 at 8:58 pm
Jurus 5W + 1H emang jurus yang ampuh buat tulisan2 essay orang indonesia, ini tehnik bisa merubah style penulisan dari mbulet-mbulet ga tentu arah ke style straight kaya’ tulisan essay nya orang Eropa.
Salut buat pak Nukman yang berbaik hati “mengingatkan”.
July 9th, 2008 at 10:21 am
I can’t thank you enough, pak!
Saya suka nulis, tapi selalu kesulitan dalam menerapkan sistem yang memudahkan saya (guide line) dalam menuangkan apa yang ingin saya sampaikan kedalam satu tulisan yang informatif, inspiratif dan interaktif.
Apalagi merangkai tulisan sehingga memancing partisipasi pembaca seperti tulisan-tulisan pak Nukman.
Thank you for sharing your knowledge. Sincerely!
August 1st, 2008 at 8:24 am
Jadi ingat ilmu jurnalistik dasar…
August 13th, 2008 at 10:32 am
Thanks banget ilmunya Bos. Aku minta copy artikelnya buat diblog-ku ya.. makasih Om. Sukses Selalu!