<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Sudut Pandang</title>
	<atom:link href="http://www.sudutpandang.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sudutpandang.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 03:35:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Selamat Jalan Bill Gates</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/selamat-jalan-bill-gates/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/selamat-jalan-bill-gates/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 09:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Saya termasuk yang bahagia begitu mendengar kabar Bill Gates mengundurkan diri dari Microsoft Corporation tiga hari lalu, tepatnya pada Jumat 27 Juni 2008. Sudah saatnya ia melepaskan jabatan apapun di perusahaan yang dibangunnya sejak 30 tahun lalu. Terlalu lama berkutat di bisnis &#8212; apalagi setelah ia mencapai titik tertinggi sebagai pebisnis terkaya di dunia &#8212; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya termasuk yang bahagia begitu mendengar kabar Bill Gates mengundurkan diri dari Microsoft Corporation tiga hari lalu, tepatnya pada Jumat 27 Juni 2008. Sudah saatnya ia melepaskan jabatan apapun di perusahaan yang dibangunnya sejak 30 tahun lalu. Terlalu lama berkutat di bisnis &#8212; apalagi setelah ia mencapai titik tertinggi sebagai pebisnis terkaya di dunia &#8212; hanya buang-buang waktu. Maka keputusannya untuk melepaskan diri dari Microsoft  dan memilih konsentrasi ke kegiatan amal melalui yayasan yang dibangun bersama istrinya &#8212; Bill &amp; Melinda Gates Foundations &#8212; merupakan langkah jitu menurut saya.</p>
<p>Begitu banyak yang mendukung langkah Bill Gates itu. Hampir semua pebisnis dan selebritis memberikan respon positif. Kebanyakan mengucapkan selamat jalan kepada raja peranti lunak tersebut. Bagaimana pun juga, ia manusia langka di bumi ini. Prestasinya amat luar biasa. Sulit dicari tandingannya. Bahkan ketika majalah Forbes mencoba membandingkan Bill Gates dengan pengusaha lain, mereka kesulitan. Hanya sedikit orang yang bisa memberi kontribusi sosial sebesar Bill Gates. Tentu jauh lebih sedikit lagi yang bisa sesukses Bill Gates dalam hal mengumpulkan kekayaan. Bayangkan saja, dengan USD 58 miliar di kantongnya, total kekayaan bersih Bill Gates setara dengan 1/190 GNP <em>(gross national product)</em> Amerika Serikat saat ini.</p>
<p>Perhatikan perjalanan kekayaan Bill Gates di bawah ini.</p>
<p><strong>1986: Kekayaan bersihnya sebesar USD 315 juta.</strong></p>
<p>Maret 1986, Microsoft masuk bursa saham, dan Bill Gates masih menggenggam 45% saham. Dalam sehari, harga sahamnya melonjak USD 7 di atas harga penawaran perdana yang sebesar USD 28 per saham. Untuk pertama kalinya Bill Gates masuk dalam daftar orang terkaya sejagad di majalah Forbes.</p>
<p><strong>1987: Kekayaan bersihnya sebesar USD 1,25 miliar.</strong></p>
<p>Harapan investor terhadap peluang dan masa depan industri peranti lunak melambung tinggi. Seiring dengan itu, melambung pula harga saham Microsoft sebesar enam kali lipat harga saat IPO &#8212; hanya dalam tempo setahun. Saat itulah Bill Gates menjadi miliader (<em>dengan mata uang UDS lho</em>) untuk pertama kalinya. Meski kaya raya &#8220;mendadak&#8221;, ia enggan pensiun.</p>
<p><strong>1990: Kekayaan bersihnya sebesar USD 2,5 miliar.</strong></p>
<p>Pada saat itu Microsoft meluncurkan Windows 3.0. Penjualan melejit tinggi, sampai 2 juta kopi terserap ke seluruh penjuru dunia.  Micoroft pun mencetak rekor sebagai perusahaan komputer yang berhasil mencatat penjualan di atas USD 1 miliar. Bill Gates membeberkan strateginya untuk menaruh &#8220;Windows dimana saja&#8221;. Akibatnya, harga saham Microsoft meroket, dan kekayaan bersih Bill Gates melonjak dua kali lipat.</p>
<p><strong>1995: Kekayaan bersihnya sebesar USD 14,8 miliar.</strong></p>
<p>Keberuntungan Bill Gates seolah datang tiada henti. Harga sahamnya terus saja naik tanpa kompromi. Apalagi ketika Microsoft meluncurkan Windows 95. Piranti lunak itu menciptakan rekor: terjual sebanyak sejuta kopi hanya dalam tempo empat hari setelah peluncuran. Pada tahun 1995, Bill Gates juga menoreh sejarah baru dalam hidupnya: ia menulis buku <em>The Road Ahead</em>. Meski mendapat banyakkritikan, bukunya juga masuk dalam jajaran <em>best seller </em>dunia.</p>
<p><strong>1997: Kekayaan bersihnya sebesar USD 39,8 miliar.</strong></p>
<p>Kekayaannya terus melambung. Bahkan pada tahun 1997, Bill Gates lebih kaya USD 19 miliar dibandung orang kaya kedua di dunia saat itu: Warren Buffet. Dengan perbedaan begitu besar, rasanya amat sulit menggeser Bill Gates dari posisi orang terkaya sejagad. Barangkali itu sebabnya Bill Gates mulai tampak lebih santai. Ia, seperti dicatat oleh Forbes, tidak <em>ngoyo</em> lagi.</p>
<p><strong>1999: Kekayaan bersihnya sebesar USD 85 miliar.</strong></p>
<p>Kejayaan industri teknologi terus mendorong kenaikan harga saham Microsoft. Hanya dalam setahun saja, kekayaan bersihnya bertambah sebesar USD 35 miliar. Itu artinya, kekayaanya bertambah sebesar USD 3 juta alias Rp 276 miliar setiap jamnya!</p>
<p><strong>2000: Kekayaan bersihnya sebesar USD 63 miliar.</strong></p>
<p>Pada satu titik di 1999, kekayaan bersih Bill Gates pernah melampaui USD 100 miliar. Namun pada tahun 2000 kekayaan bersihnya merosot tinggal USD 63 miliar. Kekayaannya tergerus oleh tiga faktor. Pertama, hancurnya pasar modal yang dipicu oleh tumbangnya bisnis dotcom. Kedua, Microsoft harus menghadapi persoalan pengadilan yang mencoba memecah bisnis Microsoft karena dituduh memonopoli pasar. Ketiga, Bill Gates sendiri sedang banyak melakukan kegiatan amal yang menyedot banyak uangnya.</p>
<p>Tahun ini juga menjadi sejarah bagi Bill Gates karena ia mengundurkan diri sebagai eksekutif. Ia mengangkat Steve Balmer sebagai CEO. Ia sendiri duduk sebagai <em>Chairman</em>.</p>
<p><strong>2008: Kekayaan bersihnya sebesar USD 58 miliar.</strong></p>
<p>Setelah 13 (tiga belas) tahun berturut-turut memegang tahta sebagai orang terkaya sejagad, kini untuk pertama kalinya ia tergeser di posisi ketiga oleh raja investasi <a href="http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/warren-buffett-sang-pendepak-bill-gates/">Warren Buffet</a> dan raja telko asal Meksiko, Carlos Slim.</p>
<p><a href="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/07/gates.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-110" title="gates" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/07/gates.jpg" alt="Goodby Bill Gates" width="300" height="237" /></a>Tahun ini pula Bill Gates mencatat sejarah baru: mengundurkan diri dari Microsoft secara total.</p>
<p>Ia memilih jalan lain: mendermakan kekayaan dan ilmunya untuk kemaslahatan umat manusia sedunia melalui berbagai kegiatan yang terfokus pada pemberantasan penyakit yang membunuh anak, pendidikan dan pemberantasan kelaparan. Ia tidak peduli lagi dengan posisinya sebagai orang terkaya sejagad.</p>
<p>Selamat jalan Bill Gates. Perjalanan bisnis dan hidupmu yang warna warni menginspirasi banyak orang &#8212; termasuk saya tentunya.</p>
<p>Selamat datang ke dunia baru: sebuah dunia yang nyaris tak bersentuhan dengan &#8220;benda tanpa nyawa&#8221; seperti inovasi peranti lunak yang selama tiga dasawarsa ia geluti. Tentu ini pengalaman menarik baginya. Saya berharap, ia mencetak prestasi hebat juga di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/selamat-jalan-bill-gates/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Sebuah Boutique Villa di Seminyak Bali</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/life-style/pada-sebuah-boutique-villa-di-seminyak-bali/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/life-style/pada-sebuah-boutique-villa-di-seminyak-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 04:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/jalan-jalan/pada-sebuah-boutique-villa-di-seminyak-bali/</guid>
		<description><![CDATA[Kerja keras dan cerdas (hard &#38; smart working) boleh saja. Bersenang-senang bekerja sepanjang waktu silahkan saja. Namun rehat &#8212; mengambil jarak sementara waktu dengan pekerjaan sehari-hari &#8212; itu juga penting. Maka menjelang ulang tahun pernikahan ke 14, saya dan istri merancang sebuah rehat.  Tentu, rehat ini tidak semudah tahun-tahun sebelumnya karana kami kini sudah punya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerja keras dan cerdas <em>(hard &amp; smart working)</em> boleh saja. Bersenang-senang bekerja sepanjang waktu silahkan saja. Namun rehat &#8212; mengambil jarak sementara waktu dengan pekerjaan sehari-hari &#8212; itu juga penting. Maka menjelang ulang tahun pernikahan ke 14, saya dan istri merancang sebuah rehat.  Tentu, rehat ini tidak semudah tahun-tahun sebelumnya karana kami kini sudah punya dua anak perempuan cantik, yang pertama berusia 14 tahun dan adiknya 3,5 tahun. Kami tidak mau rehat berdua saja. Maunya sama anak-anak.</p>
<p><em>Kita ke Bali saja?</em> tanya saya. Istri saya mengangguk setuju. Eh, sebulan sebelum hari H saya mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam acara ulang tahun kedua Bali Villas Association (BVA) yang akan diselenggarakan 24 Mei 2008 di Denpasar, Bali. Itu persis sehari sebelum ulang tahun pernikahan kami. &#8220;Nanti menginap di <a href="http://www.coconuthomes.com/" target="_blank">Uma Sapna</a> saja mas, sekalian bulan madu,&#8221; kata Ismoyo S. Soemarlan, General Manager Uma Sapna, yang juga Ketua BVA.</p>
<p>Awal tahun ini, ketika saya ke Bali, saya sudah mendengar cerita mengenai vila tersebut. &#8220;Rugi kalau ke Bali ndak pernah menginap ke sana,&#8221; kata beberapa teman yang pernah menginap di sana. Kenapa, tanya saya. Karena suasananya teduh dan klasik. Konsepnya pun bukan vila biasa, tapi butik. Plus, di setiap kamar dilengkapi dengan <em>private pool</em>. Aha, ini yang memang saya cari untuk liburan keluarga. Maka tawaran mas Ismoyo saya sambar. Tanggal 23 Mei saya berangkat bersama istri dan dua anak.</p>
<p>Betul juga, begitu kami sampai di depan vila butik yang terletak di Seminyak, Bali, tersebut, terasa betul suasana butiknya: pelayanan yang khas, personal. Jalan menuju kamar penuh dengan pemandangan klasik, rumput dan tetumbuhan yang tertata rapih, dengan saung kayu yang bisa dipakai untuk tetirah. Begitu membuka pintu vila, mata kami langsung tersedot ke kolam renang pribadi di depan kamar, yang tampak bening dan bersih. Rasanya pingin langsung berenang.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/06/umasapna.jpg" alt="Uma Sapna private pool" /></p>
<p>Begitu membuka pintu kamar, tertampang <em>double bed </em>yang tertata rapih,  dengan setangkai bunga anggrek berwarna merah. Romantis. Tentu saja, dua anak kami langsung berebut kasur :). Karena langsung ngurusi anak, kami lupa meminta <em>complimentary welcome massage </em>selama 15 menit.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/06/umasapnabed.jpg" alt="Uma Sapna bed" /></p>
<p>Esok harinya, sebelum berangkat ke Denpasar memberikan seminar di ulang tahun BVA, sebenarnya saya ingin berendam di bath-up yang amat besar untuk ukuran saya (memang itu untuk ukuran bule). Karena sudah agak terlambat, saya mandi pakai shower saja. Anajk-anak tidak mau ikut ke Denpasar. Mereka lebih suka menunggu di vila, berenang sepuas hati di private pool dan kemudian berendam air panas di bath-up.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/06/umasapnabathup.jpg" alt="Uma Sapna bathup" /></p>
<p>Sorenya, kami ingin jalan-jalan. Haryono, sopir Uma Saptna, dengan ramah menawari kami untuk mengantar ke mana saja kami mau pergi. Kami ingin dinner di pinggir pantai Jimbaran, menyantap menu <em>sea food</em>, sambil menikmati <em>sun set</em>. Dengan sigap Haryono mempersiapkan <a href="http://toyota-ownerclub.com/blog-kijang/" target="_blank">Kijang Innova</a> yang menjadi mobil resmi Uma Sapna. Mobil Toyota bermesin 2.000 cc tersebut melaju mulus di jalanan. Hanya di isi oleh kami berempat dan satu sopir, Innova terasa lega sekali. Itu sebabnya si kecil Lala girang sekali karena bisa bergerak bebas meski di dalam mobil.</p>
<p>Kami beruntung bisa mencapai Jimbaran sebelum sunset. Tanpa terasa, udang panggang, kerapu tim bumbu bawang putih, kepiting saus lada hitam ludes tanpa bekas. Meski demikian, kami baru beranjak ke hotel setelah jam 11.00 malam karena kami tak puas-puasnya menikmati pemandangan di pinggir pantai Jimbaran yang penuh dengan pasangan romantis.</p>
<p>Ketika kembali ke vila, kamar sudah dalam kondisi bersih. Kami mandi sebentar, lalu mengantar anak tidur. Setelah itu, saya dan istri keluar kamar. Kami menikmati beningnya malam di pinggir kolam renang. Bulan memang tidak sedang purnama penuh, namun bagi kami saat itu bulan terasa seperti purnama sempurna.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/06/umasapnadinner1.jpg" alt="Uma Sapna dinner" /></p>
<p>Saya yakin, suatu ketika saya ingin meningap di sini lagi.</p>
<p>Tiba-tiba hari ini &#8212; sekitar sebulan setelah saya menginap di sana &#8212; saya mendapat email dari mas Ismoyo.</p>
<p><em>Assalamu’alaikum Mas,</em></p>
<p><em>Tuk menambah modal/ dana Tangan Di Atas (TDA), saya siapkan 1 voucher 2 malam menginap di Uma Sapna di 1 bed room deluxe villa, senilai US$ 400. Voucher bisa dilelang dan uang keseluruhan disumbangkan untuk TDA.</em></p>
<p><em>Semoga bermanfaat.</em></p>
<p><em>Best Regards,<br />
Ismoyo S. Soemarlan<br />
General Manager<br />
Uma Sapna Villa<br />
Jl. Drupadi No. 20xx, Seminyak – Bali<br />
Email: ismoyo@coconuthomes.com<br />
Tel: +62-361-736628<br />
Fax: +62-361-736629<br />
Mob: +62-81139 2264<br />
www.coconuthomes.com<br />
</em></p>
<p>Wow, luar biasa. Mas Ismoyo baru mengenal Tangan Di Atas yang ingin <a href="http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/membentuk-10000-pengusaha-milyarder/">membentuk 10 ribu pengusaha milyader</a> dari blog ini langsung tersentuh dan bertindak.</p>
<p>Anggota Tangan Di Atas, ada yang berminat mendapat pengalaman luar biasa di sana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/life-style/pada-sebuah-boutique-villa-di-seminyak-bali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membentuk 10.000 Pengusaha Milyarder</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/membentuk-10000-pengusaha-milyarder/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/membentuk-10000-pengusaha-milyarder/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 03:38:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/membentuk-10000-pengusaha-milyarder/</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluh ribu pengusaha milyarder? Itu berarti membantu para calon pengusaha menjadi pengusaha atau para pengusaha yang sudah ada, agar mereka mampu memiliki kekayaan bersih (net worth) di atas satu miliar rupiah per tahun. Fantastis. Yang fantastis bukan angka satu miliarnya, tapi jumlah 10 ribu pengusahanya itu!
Tapi itulah yang menjadi salah satu misi Tangan Di Atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepuluh ribu pengusaha milyarder? Itu berarti membantu para calon pengusaha menjadi pengusaha atau para pengusaha yang sudah ada, agar mereka mampu memiliki kekayaan bersih <em>(net worth)</em> di atas satu miliar rupiah per tahun. Fantastis. Yang fantastis bukan angka satu miliarnya, tapi jumlah 10 ribu pengusahanya itu!</p>
<p>Tapi itulah yang menjadi salah satu misi <strong>Tangan Di Atas</strong> (TDA), sebuah &#8220;gerakan tak berbentuk&#8221; para pengusaha menengah ke bawah yang dibidani <a href="http://www.roniyuzirman.com" target="_blank">Roni Yuzirman</a>. Kalimat lengkapnya seperti ini: &#8220;<strong>Membentuk 10.000 pengusaha milyarder yang tangguh dan sukses sampai tahun 2018</strong>&#8220;.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/06/tda.PNG" alt="tangan di atas" /></p>
<p>Tentu itu bukan angka main-main.  Itu sebabnya, TDA yang kini memiliki .2.100 anggota saat ini &#8212; yang kebanyakan adalah calon pengusaha dan pengusaha pemula &#8212; mulai membentuk sebuah organisasi yang lebih profesional. Tantangan di depan sangat banyak. Mewujudkan 10 ribu pengusaha milyader butuh upaya yang hebat dan terus-menerus tanpa lelah, serta perlu bekerjasama dengan berbagai pihak yang dapat mendukung salah satu visi TDA tersebut.Organisasi itulah yang diumumkan Jumat, 6 Juni 2008 kemarin. Posisi Ketua Badan Musyawarah dipegang sendiri oleh: Badroni Yuzirman, sementara sekretarisnya adalah Hasan Basri, dan anggota: Hertanto Widodo, Iim Rusyamsi, Agus Ali, Hantiar, Yulia Astuti. Mereka memang para pendiri TDA, sudah selayaknya mereka yang memimpin generasi pertama pengurus profesionalnya.</p>
<p>Saya sendiri, Nukman Luthfie, ditunjuk sebagai penasehat bersama Eri Sudewo, Jamil Azzaini, Valentino Dinsi, Zainal Abidin,   Prijono Nugroho, Tung Desem Waringin, H Jhon Idris dan  Hanawijaya. Ketua Dewan Penasehat dipegang oleh pemrakarsa TDA, yakni Haji Alay.</p>
<p>Selain itu, TDA membentuk pengurus yang bisa mengekskusi visi dan misi organisasi, terdiri dari komisi etika, direksi, dan internal audit. Pengurus ini dipimpin oleh <a href="http://www.iimrusyamsi.com/" target="_blank">Iim Rusyamsi</a> untuk periode 2008-2010.</p>
<p>Di bawah ini visi lengkap TDA:</p>
<p><strong>Membentuk pengusaha-pengusaha tangguh dan sukses yang memiliki kontribusi positif bagi peradaban.<br />
</strong><br />
<strong>Tangguh</strong>, dalam arti: Konsisten, Kuat, Tanggungjawab, Gigih, Berani, Kreatif &amp; inovatif.</p>
<p><strong>Sukses</strong> , dengan pengertian: Seimbang dalam hidup (finansial, sosial, kesehatan, spiritual, keluarga, mental), Bahagia, Financial freedom, Mampu berbagi serta Abundance Mindset (keberlimpahan).</p>
<p>Adapun misi TDA adalah:<br />
1. Menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan<br />
2. Membentuk 10.000 pengusaha miliader yang tangguh dan sukses sampai tahun 2018<br />
3. Menciptakan sinerji diantara sesama anggota dan antara anggota dengan pihak lain, berlandaskan prinsip high trust community<br />
4. Menumbuhkan jiwa sosial dan berbagi di antara anggota<br />
5. Menciptakan pusat sumber daya bisnis berbasis teknologi</p>
<p>Sesuai dengan motonya &#8220;Bersama Menebar Rahmat&#8221;, saya yakin, TDA agar bergerak maju untuk mewujdukan visi dan misinya. Apapun hasilnya kelak, apa yang dirintis TDA ini merupakan sumbangan nyata bagi kebangkitan Indonesia.</p>
<p><strong>Tautan:</strong></p>
<p><a href="http://roniyuzirman.blogspot.com/2008/06/ini-adalah-milestone-bagi-komunitas-tda.html" target="_blank">Ini adalah Milestone Bagi Komunitas TDA </a></p>
<p><a href="http://roniyuzirman.blogspot.com/2008/06/susunan-pengurus-komunitas-bisnis.html" target="_blank">Susunan Pengurus Komunitas Bisnis Tangan Di Atas 2008 - 2010 </a></p>
<p><a href="http://www.iimrusyamsi.com/2008/06/10/terima-kasih-atas-ucapan-selamat-dan-doanya-2/" target="_blank">Terima Kasih Atas Ucapan Selamat dan Doanya</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/membentuk-10000-pengusaha-milyarder/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Mudah Yang Menjebak Entrepreneur</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/jalan-mudah-yang-menjebak-entrepreneur/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/jalan-mudah-yang-menjebak-entrepreneur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 03:33:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/jalan-mudah-yang-menjebak-entrepreneur/</guid>
		<description><![CDATA[Apa salah satu godaaan terbesar bagi mereka yang sedang mulai merintis usaha? Kalau menyimak penuturan Agus Suprijadi, bos Yogyes.com, adalah godaan untuk bekerja menjadi karyawan.
Ia merintis usaha hanya berbekal uang enam ribu rupiah pada tahun 2000, separonya habis untuk beli bensin, separonya untuk buat proposal yang ia tawarkan ke berbagai hotel di Jogjakarta. Amat sulit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa salah satu godaaan terbesar bagi mereka yang sedang mulai merintis usaha? Kalau menyimak penuturan Agus Suprijadi, bos <a href="http://www.yogyes.com" target="_blank">Yogyes.com</a>, adalah godaan untuk bekerja menjadi karyawan.</p>
<p>Ia merintis usaha hanya berbekal uang enam ribu rupiah pada tahun 2000, separonya habis untuk beli bensin, separonya untuk buat proposal yang ia tawarkan ke berbagai hotel di Jogjakarta. Amat sulit meyakinkan pelaku industri pariwisata Jogja agar bergabung di portal pariwisata asli Kota Gudeg itu. Di saat sulit, tanpa uang, tanpa kepastian masa depan, tawaran bekerja berdatangan. Tanpa mental bisnis, ia sudah pasti akan menerima tawaran itu. &#8220;Kalau ingin menjadi pengusaha, harus tangguh,&#8221; katanya pada seminar <a href="http://www.virtual.co.id/blog/virtual-corner/mau-jadi-dotcomers/">Being a Dotcomer </a>di Jogja Sabtu, 31 Mei 2008 kemarin.</p>
<p>Jelas ia tolak kesempatan itu, meski ia dalam posisi amat butuh uang menunjang hidupnya. Ia memilih bertarung melawan diri sendiri. Dan kini ia memetik hasilnya: Yogyes.com menjadi portal wisata terbesar di Jogja, dan mendapat pujian dari koran dunia The Washington Post, sebagai portal yang wajib dikunjungi sebelum berwisata ke Jogja. Pundi-pundi rupiahnya semakin banyak, sehingga ia berani membeli mobil baru yang kemudian diberi logo Yogyes.com, sebagai media promosi berjalannya.</p>
<p><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/06/puzzle.jpg" alt="puzzle.jpg" /></p>
<p>Jika anda orang kaya, atau anak orang kaya, barangkali agak sulit membayangkan kekerasan hati Agus. Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada ini perantauan dari Bangka Belitung <strike>Medan</strike>, yang selama kuliah menghidupi dirinya sendiri. Ia harus menjaga irama antara kuliah dan hidup. Kekerasan itulah yang membentuknya untuk tangguh memilih jalan sebagai pengusaha. Ia mampu melewati godaan-godaan untuk cepat berhasil mendapatkan uang. Ia, antara lain, menolak menjadi orang gajian.</p>
<p>Lebih dari itu, ia juga berhasil menolak godaan berupa jalan mudah lain: suap. Ia menolak praktik suap-menyuap untuk mendapatkan proyek. &#8220;Sekali kita melakuan hal itu, kita tidak akan pernah membangun kompetensi menjadi yang terbaik,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya sepakat soal itu. Sekali kita membangun jalan mudah mendapatkan rezeki dengan suap, maka kita akan melupakan upaya membangun kompetensi kita sendiri. Kita bisa abai terhadap kualitas layanan dan jasa kita karena merasa sudah menyumpal mulut klien dengan uang suap. Kompetensi yang kita kembangkan akhirnya bukan kompetensi untuk kualitas, tetapi kompetensi untuk menyuap. Mereka yang terjebak di sini akan menjadi usahawan yang tanpa kompetensi. Begitu pasar dibuka, suap diberangus, mereka akan hilang dari peta persaingan.</p>
<p>Saya jadi teringat kisah <a href="http://www.builttobless.com" target="_blank">Paulus Bambang</a>, Vice President Director PT United Tractor ketika membangkitkan perusahaan tersebut dari keterpurukan. Kecuali melakukan langkah-langlah strategis, perusahaan juga melarang praktik-praktik suap yang sudah biasa terjadi di dunia pertambangan. Semula, langkahnya melarang suap ditertawakan banyak orang. Namun, hasilnya luar biasa. United Tractor bisa berubah jadi penyedia alat-alat berat menjadi perusahaan solusi untuk pertambangan. Sudah begitu, perusahaan mampu lolos dari jebakan kerugian dan kebangkrutan. Bahkan, perusahaan publik itu berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dan laba yang luar biasa tahun lalu.</p>
<p>Saya sendiri termasuk yang keras dalam hal suap. Pernah pernah menolak mengerjakan sebuah proyek yang kami menangkan hanya karena masalah suap. Saya memilih mundur dan kehilangan peluang mendapatkan proyek yang nilainya cukup besar untuk ukuran perusahaan saya. Hati saya kecewa waktu itu, karena kehilangan profit dan cashcow yang bagus. Tapi sekarang saya justru senang, karena dengan menghindari jalan mudah itu, tim saya makin bagus, kesempatan kami mengerjakan proyek lain yang bersih dari suap makin banyak. Rejeki kami tidak kurang.</p>
<p>Dalam dunia usaha, banyak jalan mudah untuk kaya dan berlimpah uang. Tapi jalan mudah seringkali menjebak. Pindah haluan, suap, dan banyak lagi jalan mudah lainnya (misalnya menipu dan memberi janji-janji sorga kaya mendadak tetapi sesungguhnya kita hanya mengeruk uang mereka yang terpesona janji cepat kaya), memang cara cepat menjadi kaya. Namun Agus berhasil menunjukkan, tanpa jalan mudah ia berhasil membangun bisnis yang menarik. Sementara Paulus Bambang bukan hanya berhasil mengubah dari rugi menjadi laba, bahkan membangun United Tractor wajah baru sebagai perusahaan solusi dengan penjualan Rp 18 triliun (delapan belas triliun rupiah) pada tahun 2007.</p>
<p>Di tengah munculnya tantangan baru (kenaikan harga minyak, kenaikan harga barang modal, kenaikan gaji karyawan, penurunan daya beli masyarakat), inilah momentum untuk makin berkeras hati membangun kompetensi perusahaan dan tim agar perusahaan makin memiliki daya saing yang bagus dan solusi yang makin prima.</p>
<p>Saya jadi teringat sebuah kalimat menarik &#8212; entah siapa yang membuatnya. <strong>&#8220;Jika anda lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada anda. Sebaliknya, jika anda keras pada diri sendiri, dunia akan lunak kepada anda&#8221;</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/jalan-mudah-yang-menjebak-entrepreneur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Contoh Bill Gates</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/inspirasi/jangan-contoh-bill-gates/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/inspirasi/jangan-contoh-bill-gates/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 13:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/jangan-contoh-bill-gates/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah banyak yang tahu kehebatan Bill Gates. Pendiri Microsoft Corporations ini menjadi manusia terkaya di planet ini selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini posisinya direbut Warren Buffet, karena ia ceroboh ingin mencaplok  Yahoo!, sehingga nilai saham Microsoft melorot, dan kekayaan bersihnya pun ikut terpotong. Andai tidak melakukan langkah blunder itu, ia masih terkaya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah banyak yang tahu kehebatan Bill Gates. Pendiri Microsoft Corporations ini menjadi manusia terkaya di planet ini selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini posisinya direbut Warren Buffet, karena ia ceroboh ingin mencaplok  Yahoo!, sehingga nilai saham Microsoft melorot, dan kekayaan bersihnya pun ikut terpotong. Andai tidak melakukan langkah blunder itu, ia masih terkaya di dunia tahun ini. Tidak heran jika ia menjadi idola banyak orang, termasuk saya.</p>
<p>Fokusnya di dunia peranti lunak memang tak tergoyahkan. Sepanjang hidupnya, fokus bisnisnya hanya di satu bidang ini &#8212; atau yang berkaitan dengan peranti lunak, jasa dan solusi. Ia tak pernah menoleh sedikitpun ke bidang lain.  Pria kelahiran 28 Oktober 1955 ini mampu membangun Micrsoft dari titik nol menjadi perusahaan dengan penjualan sebesar US$ 51,12 miliar alias sekitar Rp 500 triliun pada tahun fiskal Juni 2007. Itu artinya hampir setara dengan 70% belanja negara kita tahun ini.</p>
<p>Melalui payung Microsoft pula ia mampu menampung 78 ribu tenaga kerja yang tersebar di 105 negara. Melalui Microsoft pula ia mendominasi pasar peranti lunak dunia.</p>
<p>Dengan prestasi yang sedemikian hebat, tidak mengherankan jika kedatangannya di Indonesia pekan lalu disambut meriah. Kuliah umumnya berjudul &#8216;Second Digital Decade&#8217; yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat 9 Mei lalu, dihadiri 2.500 orang, mulai dari presiden, menteri kabinet, pengusaha, profesional hingga mahasiswa. Masih ribuan lagi lainnya yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket untuk mengikuti kuliah umum itu.</p>
<p>Ada satu hal penting yang disampaikan Bill Gates mengenai pendidikan pada kuliah umum itu. &#8220;Semua anak (pelajar) harus menyelesaikan pendidikan, untuk itu perlu semua pihak termasuk pemerintahan anda, harus turun tangan untuk itu,&#8221; kata Bill Gates, yang disambut tepuk tangan hadirin. Bahkan pada saat sesi tanya jawab, Bill Gates secara tegas menyarankan agar para mahasiswa tidak meniru dirinya,yang DO di tengah jalan meski sempat kuliah di Harvard University.</p>
<p>&#8220;Selesaikan kuliah Anda dan raihlah gelar akademis,&#8221; katanya.</p>
<p>Bagaimanapun juga, kuliah adalah saat yang paling tepat untuk memenuhi segala keingintahuan mahasiswa. Dan jika ingin menjadi pengusaha, gunakanlah kesempatan magang di perusahaan secara maksimal.</p>
<p>&#8220;Saya ini contoh yang buruk,&#8221; katanya seperti dikutip <a href="http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/09/time/112936/idnews/936704/idkanal/68" target="_blank">Detikcom</a>.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/05/bill-gates.jpg" alt="Bill Gates" /></p>
<p>Selama ini, saya sering membaca kesalahpahaman banyak orang yang ingin menjadi pengusaha dengan mengorbankan kuliah. <em>&#8220;Bill Gates yang nggak lulus kuliah saja bisa jadi yang terkaya di dunia,&#8221;</em> kira-kira begitulah alasan mereka. Bahkan mereka bisa memberikan banyak contoh orang yang sukses di dunia usaha tanpa embel-embel sarjana. Larry Allison &#8212; pendiri Oracle Corporation &#8212; misalnya, adalah mahasiswa gagal. Steven Spielberg, sutradara film-film box office dunia, juga putus kuliah. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sang triliuner baru yang baru berumur 23 tahun, juga tak menyelesaikan kuliahnya di Harvard University.</p>
<p>Kenyataan di atas kadang malah digunakan sebagai lelucon: bahwa mereka yang pintar secara akademis tidak akan sukses di dunia usaha. Mereka yang pintar dan lulus sarjana malah menjadi jongos orang-orang &#8220;bodoh&#8221; yang tidak lulus kuliah.</p>
<p>Memang, mereka yang tidak memiliki gelar sarjana tetap berpeluang menjadi pengusaha sukses. Namun bukan berarti bahwa mengorbankan kuliah merupakan tiket menuju sukses. Bahkan, jika dilakukan penelitian, kemungkinan sarjana yang sukses menjadi pengusaha amat banyak. Namun, karena sarjana sukses berusaha dianggap sebagai hal yang biasa, tidak banyak media yang mengulasnya. Lebih menarik mengupas tokoh-tokoh sukses yang latarbelakangnya menderita atau kurang bagus &#8212; termasuk tidak lulus kuliah. Ini yang bisa menimbulkan persepsi sesat bahwa DO adalah ciri pengusaha sukses.</p>
<p>Bill Gates sudah menyampaikan dengan jelas, bahwa dirinya adalah contoh yang buruk dalam hal akademis. Sesungguhnya ia sangat ingin menggondol gelar sarjana. Simak bagaimana pidatonya setelah ia menerima gelar sarjana kehormatan dari Harvard University tahun lalu:</p>
<p><em>“Sudah lebih dari 30 tahun saya menunggu untuk mengatakan ini, ‘Ayah, saya selalu bilang saya akan kembali (ke kampus) dan meraih gelar.’ Tahun depan (2008) saya akan ganti pekerjaan. Merupakan sesuatu yang menyenangkan bahwa bisa mencantumkan gelar sarjana di daftar riwayat hidup.”<br />
</em><br />
Benar, ia kini telah berganti pekerjaan. Ia sudah mundur dari manajemen Microsoft, dan &#8220;hanya&#8221; menjadi <em>chairman</em>. Waktunya lebih banyak didedikasikan ke Yayasan “Bill and Melinda Gates” yang didirikan tahun 2000 dengan tujuan membantu proyek-proyek peningkatan kesehatan, pengurangan kemiskinan, dan proyek yang memperluas akses masyarakat kepada teknologi.</p>
<p>Ucapan Bill Gates menyiratkan sesuatu, yang kira-kira seperti ini: &#8220;Contohlah saya, tapi jangan di sisi akademis.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/inspirasi/jangan-contoh-bill-gates/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Siti Fadilah Supari Menghancurkan Lingkaran Setan Dunia</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/inspiring-person/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/inspiring-person/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 14:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiring Person]]></category>

		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/inspiring-person/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[Senyumnya ramah. Bicaranya lembut. Namun, jangan kaget kalau ia bisa berapi-api ketika berbicara mengenai kesewenang-wenangan dan penindasan negara kaya, lembaga internasional, serta kapitalis vaksin terhadap negara miskin. Dialah DR.Dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), Menteri Kesehatan RI, yang kini sedang menjadi sorotan dunia karena gebrakannya dalam melawan dominasi WHO (World Health Organization) dan Barat (Amerika Serikat).
Ceritanya bermula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senyumnya ramah. Bicaranya lembut. Namun, jangan kaget kalau ia bisa berapi-api ketika berbicara mengenai kesewenang-wenangan dan penindasan negara kaya, lembaga internasional, serta kapitalis vaksin terhadap negara miskin. Dialah DR.Dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), Menteri Kesehatan RI, yang kini sedang menjadi sorotan dunia karena gebrakannya dalam melawan dominasi WHO <em>(World Health Organization)</em> dan Barat (Amerika Serikat).</p>
<p>Ceritanya bermula dari paksaan WHO terhadap Indonesia agar mengirimkan virus flu burung H5N1 <em>strain  </em>Indonesia yang melanda negeri ini dua tahun lalu ke WHO Collaborating Center (CC) untuk dilakukan <em>risk assesement</em>, diagnosis, dan kemudian dibuatkan <em>seed virus</em>. Entah bagaimana caranya, virus asal Indonesia itu berpindah tangan ke Medimmune dan diolah menjadi <em>seed virus. </em>Hebatnya, <em>seed virus </em>ini diakui sebagai miliknya karena diolah dengan teknologi yang sudah mereka patenkan. Indonesia, yang memiliki virusnya tidak punya hak apa-apa. Padahal, dengan <em>seed virus </em>inilah perusahaan swasta itu membuat vaksin yang dijual ke seluruh dunia dengan harga mahal.</p>
<p><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/05/buku-sitifadilah.PNG" alt="Saatnya Dunia Berubah - Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung." align="left" />Bagi Siti Fadilah, hal ini aneh. Yang memiliki teknologi mendapatkan hak amat banyak. Sebaliknya, yang memiliki virus tidak dapat apa-apa.  &#8220;<em>Sehebat apapun teknologi Medimmune, jika ditempelkan di jidatnya kan tidak akan menghasilkan seed virus H5N1 </em><em>strain  Indonesia</em>,&#8221; kata lulusan kedokteran Universitas Gadjah Mada yang juga lulus program doktor di Universitas Indonesia itu dalam bukunya yang berjudul <strong>Saatnya Dunia Berubah - Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung</strong>.</p>
<p>Apa yang terjadi di Indonesia ternyata juga dialami negara miskin lain. Negara yang terjangkit penyakit, dipaksa mengirimkan virusnya ke WHO CC melalui skema GISN (<em>Global Influenza Surveilance Network</em>). Namun bukannya dimanfaatkan untuk kesehatan seluruh dunia, virus itu malah disalahgunakan oleh negara kaya untuk membuat komoditas dagang, antara lain dalam bentuk vaksin. Bahkan ada kemungkinan dijadikan senjata biologis. Celakanya, negara miskin sering kesulitan mendapatkan vaksin tersebut karena sudah diborong negara lain yang belum terkena virus tersebut untuk pencegahan.</p>
<p>Kalau posisinya seperti itu, Siti Fadilah berpraduga, negara kaya akan berusaha menciptakan virus baru untuk dilemparkan ke negara miskin. Kemudian negara miskin mengirim virus baru tersebut ke WHO. Dan selanjutnya WHO akan mengirim virus ke negara kaya untuk dibuatkan vaksinnya. Dus, negara kaya pun memiliki komoditas dagang virus baru.</p>
<p>&#8220;Siklus itu akan berputar seumur hidup,&#8221; kata spesialis jantung dan pembuluh darah ini. Negara miskin akan sakit terus, sakit dan sakit. Siklus yang tak berujung ini bak lingkaran setan.  Celakanya, ketika negara miskin makin terpuruk gara-gara virus, negara kaya datang bak dewa penolong dengan memberikan sumbangan yang tidak seberapa dibanding keuntungan mereka dari berdagang vaksin.</p>
<p>Siti Fadilah melihat ketidakadilan itu &#8212; yang ternyata sudah berlangsung selama 60 (enam puluh) tahun dilakukan oleh WHO. Tergeraklah nuraninya. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang Menteri Kesehatan dari negara bukan <em>super power</em>. Namun, ia berpikir dan bergerak cepat. Nalurinya mengatakan, kalau bahwa pemaksaan pengiriman virus ke WHO adalah salah satu kunci lingkaran setan. Maka kalau ia enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi. Intuisinya benar. Dunia bereaksi. Negara barat &#8212; terutama pemerintah dari negara penghasil vaksin &#8212; geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke seluruh dunia dan terjadi pandemi.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/05/sitifadilah.jpg" alt="Siti Fadilah Supari" /></p>
<p style="text-align: center"><em>foto: Siti Fadilah Supari ketika berpidato di WHO</em></p>
<p>Dari sinilah perang Siti Fadilah terhadap penindasan WHO dan negara kaya dimulai. Ia membuka borok WHO dalam mengelola lalulintas virus dunia. Perang ini amat menggetarkan, seru dan melelahkan. Maklum, yang dilawan adalah lembaga dunia yang didukung penuh oleh negara kaya dan berkuasa, yang bisa berbuat apa saja. Pertempuran itu tergambar begitu bagus di bukunya. Saya terpukau membaca halaman per halaman. Saya tak mau berhenti sejenak pun.  Terbayang betapa gigihnya Siti Fadilah dan timnya berjuang di kancah internasional. Pengagum Bung Karno ini tak mengenal kata mundur.  Ia tanpa lelah melobi negara-negara lain untuk mendukungnya. Setiap anak buahnya mengabarkan bahwa posisinya terjepit di tengah negosiasi dan kemungkinan besar kalah, ia selalu mengatakan: tidak ada kompromi. Aturan pengiriman virus ke WHO yang tidak transparan harus dihapus.</p>
<p>Perjuangannya berhasil. Ia mampu memaksa WHO berubah. Ia berhasil menghancurkan lingkaran setan pervaksinan dunia. Kini aturan mainnya lebih adil, transparan dan setara.</p>
<p><strong>Adil </strong>artinya negara miskin yang mendapat penyakit flu burung mendapatkan hak atas virus yang dimilikinya. Jika virus itu dibuat vaksin, maka negara korban akan mendapat haknya atas vaksin sesuai aturan.</p>
<p><strong>Transparan </strong>artinya negara yang menderita maupun negara lain mengetahui pasti kemana virus itu perginya, diapakan oleh siapa, dan yakin bahwa virus itu tidak digunakan untik senjata biologis.</p>
<p><strong>Setara </strong>artinya antara pengirim virus dan pembuat vaksin setara, selevel.</p>
<p>Tak terasa, buku setebal 200 halaman yang diluncurkan 6 Januari 2008 lalu itu saya khatamkan dalam tempo empat jam.</p>
<p>Dari sinilah saya mulai bangga memiliki seorang menteri bernama Siti Fadilah. Ia bukan hanya menteri. Ia juga ilmuwan yang sudah menghasilkan 150-an karya ilmiah dan meraih berbagai penghargaan (antara lain: <em>Best Young Investigator Award </em>pada Kongres Kardiologi di Manila, Filipina, 1998. T.  <em>Best Young Investigator Award  </em>pada Konferensi Ilmiah tentang &#8220;Omega 3&#8243; di Texas, Amerika Serikat, 1994. Serta <em>Antony Mason Award </em>dari University New South Wales, Sidney, Australia).</p>
<p>Namun, lebih dari itu, dalam kasus melawan WHO dan AS, ia menujukkan diri sebagai seorang negosiator tangguh dan &#8220;diplomat&#8221; ulung yang mengangkat harkat bangsa Indonesia di kancah dunia.</p>
<p>Jangankan saya, pihak luar pun sangat bangga dengannya. Dengarlah apa kata majalah top dunia seperti The Economist (6 Agustus 2006):</p>
<p>&#8220;<em>For the sake of basic human interest, the Indonesian government declares that genomic data on bird flu viruses can be accessed by anyone. With those words, spoken on August 3rd (2006), Siti Fadilah Sapari started a revolution that could yet save the world from the ravages  of pandemic disease. That is because Indonesia&#8217;s  health minister  has chosen a weapon that may prove more useful than todays best vaccines in tackling such emerging threats as avian flu: <strong>transparency</strong>.</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/05/sitifadilahnukmanluthfie.jpg" alt="Siti Fadilah Supari &amp; Nukman Luthfie" /></p>
<p align="center"><em>foto: Siti Fadilah Supari dan saya (Nukman Luthfie)</em></p>
<p>Namun puteri Solo kelahiran 6 Nopember ini sadar, perjuangan belum selesai. &#8220;Saya sedang membuat buku kedua,&#8221; katanya kepada saya setelah acara <em>talkshow</em> di SmartFM Jakarta Jumat lalu (2 Mei 2008).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/inspiring-person/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Syarat Jadi Pengusaha</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/tiga-syarat-jadi-pengusaha/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/tiga-syarat-jadi-pengusaha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 08:48:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/tiga-syarat-jadi-pengusaha/</guid>
		<description><![CDATA[Ya, tiga syarat saja untuk jadi pengusaha. Itu yang saya sampaikan di acara talkshow &#8220;Wanita dan Wirausaha&#8221; yang digelar Kutukutubuku.com dalam rangka hari Kartini, Sabtu lalu di ITC Permata Hijau, Jakarta. Di hadapan para pelanggan toko buku online yang kebanyakan ibu-ibu muda itu saya memberikan contoh wanita yang sukses meniti gelombang kewirausahaan dari nol. Termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, tiga syarat saja untuk jadi pengusaha. Itu yang saya sampaikan di acara <em>talkshow</em> &#8220;<a href="http://kutukutubuku.blogsome.com/2008/04/26/laporan-event-wanita-wirausaha/" target="_blank">Wanita dan Wirausaha</a>&#8221; yang digelar <a href="http://www.kutukutubuku.com" target="_blank">Kutukutubuku.com</a> dalam rangka hari Kartini, Sabtu lalu di ITC Permata Hijau, Jakarta. Di hadapan para pelanggan toko buku online yang kebanyakan ibu-ibu muda itu saya memberikan contoh wanita yang sukses meniti gelombang kewirausahaan dari nol. Termasuk dalam contoh itu adalah <a href="http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/susi-pudjiastuti-sudah-menjadi-kupu-kupu/">Susi Pudjiastuti</a>. Tiga dara pendiri Kutukutubuku.com &#8212; Ollie, Angel, dan Christine &#8212; juga termasuk yang saya jadikan contoh, meski mereka baru memulai bisnis ini setahun lalu.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/nukmankutukutubuku.jpg" alt="Nukman Luthfie di Kutukutubuku.com" /></p>
<p>Apa ketiga syarat itu?</p>
<p><strong>Pertama: Berani meninggalkan zona nyaman.</strong></p>
<p>Setiap orang selalu merindukan zona nyaman. Mereka setengah mati berusaha meraihnya. Dan setibanya di zona tersebut mereka istirahat dan menikmati kenyamanan. Sayangnya, sebagian besar tertidur di zona itu, tak mau bergerak, sehingga tanpa sadar zona itu lama-lama tidak nyaman dan bahkan cenderung berbahaya. Dan ketika sadar, ia tak mampu lagi keluar dari zona nyaman dan &#8212; apa boleh buat &#8212; ia terjabak di sana selamanya.</p>
<p>Salah satu zona nyaman yang berbahaya bagi karyawan adalah gaji atau pendapatan yang tetap. Sedangkan bagi pengusaha adalah penguasaan pasar atau kestabilan perusahaan.</p>
<p>Nah, mereka yang berbakat jadi pengusaha adalah mereka yang tidak terjebak dalam zona nyaman. Bahkan mereka cenderung mencari tantangan untuk menciptakan zona nyaman baru.  Mereka berani bertarung di pasar. Mereka berani menjual harta yang dimilikinya untuk memulai usaha. Susi Pujiastuti, sang ekportir hasil laut terbesar di negeri ini misalnya, memodali sendiri bisnisnya dengan menjual anting-anting dan gelangnya seharga Rp 750 ribu. Saya sendiri sempat &#8220;menggadaikan&#8221; rumah dan menjual mobil ketika usaha saya sempat goncang di tengah jalan.</p>
<p>Sementara Ollie dan Angel berani meninggalkan zona aman sebagai karyawan dengan gaji tetap demi membesarkan toko buku onlinenya (Kutukutubuku.com), butik onlinenya (<a href="http://www.heartyboutique.com" target="_blank">Heartyboutique.com</a>) serta solusi toko onlinenya (<a href="http://www.tukuSolution.com" target="_blank">TukuSolution.com</a>). Contoh lain, Iim Fahima dan Adhitia Sofyan berani meninggalkan gaji mewahnya sebagai karyawan biro iklan tradisional dan masa depannya yang cerah di sana, untuk membangun konsultan komunikasi pemasaran online <a href="http://www.virus-communications.com" target="_blank">Virus Communications</a>.</p>
<p>Ketika sudah jadi pun, mereka yang berjiwa pengusaha tidak berhenti. Mereka biasanya resah dan segera berusaha meninggalkan zona aman &#8220;bisnis sudah jadi&#8221;. Mereka terus berpacu untuk membesarkan usahanya. Uang mereka tidak dibiarkan menganggur di bank, reksanada dan sejenisnya. Mereka tumpahkan harta mereka untuk menciptakan peluang baru.</p>
<p><strong>Kedua, Fokus.</strong></p>
<p>Memang ada saja pengusaha yang sukses meski ia tidak fokus di bisnis terntentu. Meski demikian, setahu saya, lebih banyak pengusaha yang sukses karena fokus ketimbang yang kurang fokus. Bill Gates tutup mata bertahun-tahun sepanjang hidupnya hanya fokus di bisnis peranti lunak, dan dia menjadi orang terkaya di dunia13 tahun berturut-turut. Susi Pudjiastuti yang setiap hari bergelut dengan ikan, kini jadi eksportir hasil laut terbesar. Sebaliknya, kebanyakan konglomerat yang masuk ke sana ke mari, bahkan membuat bank ketika boom bisnis finasial 1980-an, akhirnya terpuruk dan jadi pasien BPPN.</p>
<p>Fokus itu bertahun-tahun. Bukan cuma beberapa tahun. Apalagi beberapa bulan. Maka fokus di sini adalah fokus yang butuh kesadaran dan penuh <em>passion</em>.</p>
<p><strong>Ketiga, Determinasi.</strong></p>
<p>Pengusaha itu jatuh sekali, bangun dua kali. Jatuh dua kali, bangun tiga kali. Jatuh sepuluh kali, bangun sebelas kali, dan seterusnya. Sama seperti laba-laba membangun sarangnya. Ia terus menerus merajut sarang. Meski kena angin dan jatuh, ia kembali lagi meneruskan sarangnya agar jadi utuh. Jatuh lagi pun, ia kembali lagi. Seperti tak kenal lelah. Tak kenal kecewa. Tak kenal putusasa. Tak kenal mengeluh.</p>
<p>Mereka punya determinasi.</p>
<p>Tak kenal menyerah sebelum saatnya.</p>
<p align="center"> <img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/wanitausaha.jpg" alt="Peserta talkshow kutukutubuku.com" /></p>
<p align="center"><em>foto: peserta talkshow yang ingin jadi wanita pengusaha </em></p>
<p>Anda mau menambahkan syarat lain menjadi pengusaha?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/tiga-syarat-jadi-pengusaha/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kantor Kecil atau Besar, Kenyamanan dan Efisiensi Tetap Penting</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/kantor-kecil-atau-besar-kenyamanan-dan-efisiensi-tetap-penting/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/kantor-kecil-atau-besar-kenyamanan-dan-efisiensi-tetap-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 16:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/kantor-kecil-atau-besar-kenyamanan-dan-efisiensi-tetap-penting/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika memulai bisnis sendiri lima tahun lalu, saya mendapat gudang seluas 40 m2 di lantai tujuh sebuah gedung di kawasan segitiga emas Jakarta. Dengan investasi lumayan besar bagi orang yang baru pindah kuadran pengusaha, sepetak gudang itu saya sewa dan sulap menjadi kantor pertama Virtual Consulting. Dua tahun kemudian, seiring dengan perkembangan usaha, karyawan tambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika memulai bisnis sendiri lima tahun lalu, saya mendapat gudang seluas 40 m2 di lantai tujuh sebuah gedung di kawasan segitiga emas Jakarta. Dengan investasi lumayan besar bagi orang yang baru pindah kuadran pengusaha, sepetak gudang itu saya sewa dan sulap menjadi kantor pertama <a href="http://www.virtual.co.id" target="_blank">Virtual Consulting</a>. Dua tahun kemudian, seiring dengan perkembangan usaha, karyawan tambah banyak, kami pindah ke ruangan di sebelahnya, yang 2,5 kali lebih luas. Tepat pada usia ke lima usaha (awal 2008 ini), kami memutuskan untuk pindah ke kantor yang lebih besar lagi. Maklum, jumlah karyawan membengkak menjadi 35 orang. Jelas ruang sekecil itu jauh dari memadai.</p>
<p>Memilih dan menata kantor memang salah satu tantangan dunia usaha. Saya bersyukur, ketika memulai usaha, langsung berjodoh dengan Gedung Cyber di Kuningan Barat, Jakarta. Waktu itu, karena masih sendiri, 40 m2 masih terasa mewah. Namun dalam sekejap saya harus merekrut 10-an orang, mulai dari web consultant, web designer, web programmer, dan tentu saja sekretaris,  karena proyek konsultasi dan strategi web berdatangan. Maka kantor itu pun menjadi sesak, penuh dengan meja kursi, komputer desktop dengan monitor jenis CRT, printer, fax, scanner dan server. Buat saya, sesak seperti itu indah, karena itulah tanda kemajuan bisnis. Namun buat karyawan, bisa saja menyebalkan karena kenyamanan kerja berkurang.</p>
<p>Maka, hijrahlah kami ke ruangan yang lebih besar, sekitar 100 m2. Kebetulan ada ruangan di sebelah kami yang kosong karena penyewanya pindah ke tempat lain. Meski awalnya lega bagi kami, saya sudah antisipasi jika suatu saat penuh. Misalnya saja, sebagian besar karyawan menggunakan layar monitor jenis LCD yang tipis, untuk mengurangi kesan sesak. Dalam setahun saja ruangan jadi penuh, karena bisnis memang membaik dan karyawan bertambah. Karena mencoba irit ruang, bebarapa layout kursi terasa seperti tatanan di warnet: sempit, berdesakan. Ruang yang tadinya nyaman, mulai terasa kurang mengasyikkan.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/kantorlama.JPG" alt="kantor Virtual Consulting di Cyber" /></p>
<p align="center"><em>foto: kantor lama Virtual Consulting di Cyber Building, Kuningan, Jakarta </em></p>
<p>Alhamdulillah, Maret lalu kami pindah ke kantor baru di Gedung Kindo, Jl Raya Duren Tiga, Jakarta. Tidak jauh dari kantor sebelumnya. Kantor baru ini jauh lebih luas, sekitar 320 m2. Berarti 3x lipat lebih luas dari sebelumnya.  Saya sadar betul, suatu saat ruangan ini pun penuh, dan kembali lagi menghadapi kenyataan: kenyamanan terganggu. Maka, jauh-jauh hari saya mengambil langkah untuk mengurangi risiko itu.</p>
<p><strong>Pertama, penerapan wireless network.</strong></p>
<p>Ya, meski semua komputer saling tersambung dalam sebuah jaringan komputer, namun tidak ada satupun yang menggunakan kabel. Semuanya nirkabel. Investasi kami memang lumayan mahal karena sebagian besar PC desktop kami belum wireless, jadi mesti ditambahi <em>wireless</em> LAN.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/kantorbaru.jpg" alt="kantor Virtual Consulting di DurenTiga" /></p>
<p align="center"><em>foto: kantor baru Virtual Consulting di Duren Tiga, Jakarta </em></p>
<p><strong>Kedua, menggunakan laptop ketimbang PC desktop.</strong></p>
<p>Kini, setiap ada karyawan baru, saya lebih senang menyediakan laptop ketimbang PC desktop. Dengan laptop, meja jadi kelihatan lebih lega. Memang masih banyak yang menggunakan desktop PC, namun secara bertahap akan tergusur oleh laptop.</p>
<p><strong>Ketiga,  mengefisienkan alat pendukung kantor.</strong></p>
<p>Ada beberapa alat pendukung kantor yang amat vital bagi bisnis kami. Yakni Server koneksi Internet, server jaringan, printer, scanner, fax dan telpon.</p>
<p>Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Internet Consulting, Online Marketing Communications, dan Customer Relationship Management (CRM), kami memang amat dekat dengan dunia IT. Maka, kami pun amat akrab dengan pemanfaatan IT untuk pekerjaan kantor, antara lain menggunakan fax server, sehingga tidak harus membeli mesin fax khusus yang menghabiskan tinta, karena semua fax masuk disimpan dalam bentuk digital. Telpon pun sudah menggunakan PABX.</p>
<p><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/hp-laserjet-m1522nf-mfp.jpg" alt="HP LaserJet M1522nf MFP" align="right" />Nah, sepekan lalu saya mendapat kiriman dari HP Indonesia untuk diujicoba. Yakni HP LaserJet M1522nf MFP, sebuah alat multifungsi yang bisa digunakan sebagai printer, fax dan scan.</p>
<p>Hanya dengan melihat sosok HP LaserJet M1522nf MFP saja, saya sudah senang. Bagaimana pun, menyatukan tiga fungsi dalam satu alat adalah terobosan cerdas untuk efisiensi ruangan.</p>
<p>Memang, saya lebih senang kalau fungsi fax masih dijalankan di server fax. Lebih irit. Namun, meng-install dan mengelola server fax tidak mudah. Paling tidak, untuk meng-install-nya butuh orang IT. Apalagi, jika kita ingin mengirim fax dari sebuah dokumen cetak, kita harus men-scan dokumen tersebut bila ingin mengirimnya melalui fax server.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/nilahp.jpg" alt="Nila sedang mencoba HP LaserJet M1522nf MFP" /></p>
<p style="text-align: center"><em>foto: Nila, sekretaris kami, sedang mencoba HP LaserJet M1522nf MFP</em></p>
<p>Mungkin untuk perusahaan yang dukungan tim IT nya kurang, HP LaserJet M1522nf MFP merupakan pilihan yang tepat untuk efisiensi ruangan dan meningkatkan kenyamanan kerja. Apalagi, selain tidak menyita ruangan, alat ini mudah digunakan. Jika bisa menggunakan fax, printer dan scanner, sudah pasti Anda juga bisa memanfaatkan alat ini dengan mudah. Bahkan, ternyata, setelah saya buka-buka manualnya, fungsi fax di mesin ini juga bisa diset seperti fax server: setiap fax masuk bisa disimpan dalam bentuk digital sehingga dapat diakses dari komputer manapun di jaringgan.</p>
<p>Bagaimanapun juga, kantor adalah tempat kerja. Produktivitas akan tinggi jika tempat kerja tersebut nyaman. Maka, setiap kehadiran alat-alat kantor yang mendukung hal ini akan disambut antusias.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/kantor-kecil-atau-besar-kenyamanan-dan-efisiensi-tetap-penting/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Susi Pudjiastuti: Sudah Menjadi Kupu-kupu.</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/susi-pudjiastuti-sudah-menjadi-kupu-kupu/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/susi-pudjiastuti-sudah-menjadi-kupu-kupu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 09:36:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspiring Person]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/susi-pudjiastuti-sudah-menjadi-kupu-kupu/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan itu mengaku asli Jawa, wajar jika berbahasa Jawa. Namun karena bertahun-tahun berjibaku membangun bisnis di pantai Pangandaran, ia juga luwes berbahasa Sunda. Apa boleh buat, lantaran puluhan tahun melayani pelanggannya di manca negara, dan ia sering terbang ke sana dengan pesawatnya sendiri (ya, pesawatnya sendiri), ia pun bercakap bahasa Inggris seolah berlidah bule. Rasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perempuan itu mengaku asli Jawa, wajar jika berbahasa Jawa. Namun karena bertahun-tahun berjibaku membangun bisnis di pantai Pangandaran, ia juga luwes berbahasa Sunda. Apa boleh buat, lantaran puluhan tahun melayani pelanggannya di manca negara, dan ia sering terbang ke sana dengan pesawatnya sendiri (ya, pesawatnya sendiri), ia pun bercakap bahasa Inggris seolah berlidah bule. Rasanya nyaris mustahil hal itu terjadi jika kita tahu masa lalunya, karena ia &#8220;cuma&#8221; lulusan SMP dan &#8220;hanya&#8221; bakul ikan laut. Wanita berkulit gelap eksotis itu bernama Susi Pudjiastuti.</p>
<p><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/susi.gif" alt="Susi Pudjiastuti Pangandaran" /></p>
<p>Barangkali, April ini kebanyakan perempuan Indonesia mengingat Kartini, para pahlawan perempuan lain, serta perempuan perkasa lain yang ditulis media menjelang Hari Kartini. Namun, yang terbayang di benak saya saat ini justru seorang perempuan yang lolos dari pantauan media. Saya justru ingat Susi Pujiastuti &#8212; seorang perempuan pebisnis, yang membangun bisnisnya dari nol, sehingga menjadi perusahaan pengekspor hasil laut segar (lobster, tuna, udang, kakap) kelas kakap di Indonesia dengan nilai ekspor puluhan juta USD. Maka untuk menuntaskan rasa ingin tahu mengenai sosoknya, tim <a href="http://www.niriah.com" target="_blank">Niriah.com</a> &#8212; portal ekonomi bisnis syariah yang kami bangun tahun lalu &#8212; berusaha mewawancarainya.</p>
<p>Tak mudah mendapatkan waktu wawancara karena ia terbang ke sana ke mari. Ketika ia ada waktu, sekretarisnya mengirim sms, bahwa kami akan diterima di Pangandaran. Kami dipersilahkan ke bandara Halim, Jakarta dan akan dijemput dengan pesawat Cessna menuju Pangandaran. Maka terbanglah Mumu, editor Niriah.com, dengan salah satu pesawat Susi Air &#8212; maskapai pesawat carter yang dibangun Susi &#8212; menuju pantai Selatan. Hasil pengamatan dan wawancaranya bisa dinikmati di Niriah.com: <a href="http://www.niriah.com/sosok/2id887.html" target="_blank">Susi Pudjiastuti: Sukses Berbisnis Lewat Jalur Alami</a>.</p>
<p>Saya menulis di sini hanya untuk memberi catatan tambahan saja.</p>
<p><strong>Pertama, ia seorang yang sukses karena gigih melewati proses. </strong></p>
<p>Berbekal Rp 750 ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai jadi pengepul ikan pada 1983. Waktu itu ia baru sanggup membeli 1 kg, besoknya 2 kg, lusa 5 kg. Begitu seterusnya. Dalam tempo setahun, ia berhasil memasuki pasar Cilacap.</p>
<p>Makin maju usahanya, Susi lalu mulai menyewakan perahu untuk nelayan mencari ikan dan mobil untuk pengiriman. Kini ia punya ratusan perahu dan puluhan truk. Ia pun kemudian menjadi penyalur tetap hasil laut ke beberapa pabrik besar di Jakarta. Tiap hari, pukul 15.00, ia ke Jakarta untuk setor. Di tengah jalan, ia mampir ke Cikampek untuk mengambil kodok. Sampai di Jakarta malam. Setelah mandi dan istirahat ia langsung balik ke Pangandaran. &#8220;Begitu tiap hari,&#8221; tutur perempuan bersuara berat ini seperti dikutip Jawa Pos.</p>
<p><em>Ia terus berproses untuk maju. </em></p>
<p>Dari pengepul dan memasok pabrik dan restoran, ia kemudian meningkatkan diri menjadi produsen dan pengekspor hasil laut.</p>
<p><strong>Kedua, dia selalu berusaha memberi nilai tambah.</strong></p>
<p>Ia tahu, semakin segar ikan yang diekspornya, semakin tinggi pula harganya. Harga ikan dan udang yang fresh sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, bisa dua kali lipat lebih mahal. Misalnya, ikan laut yang biasanya US$ 3/kg, maka kalau tiba kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8/kg. Itu sebabnya ia tak segan-segan membeli pesawat terbang Cessna agar ikan atau udang yang diekspor bisa tiba kurang dari 24 jam.</p>
<p>Ia juga tahu, semakin murni ikan itu dari bahan pengawet, semakin banyak diburu penggemarnya. Maka ia pun membuat pabrik pengolahan ikan tanpa bahan kimia. Pendinginnya pun ramah lingkungan karena menggunakan amoniak, bukan freon yang merusak ozon.</p>
<p>Ia juga paham, meski karyawannya bergelut dengan ikan setiap hari, mereka membutuhkan tempat kerja yang nyaman. Maka pabrik ikannya pun dibangun mirip mal &#8212; penuh dengan keramik dan kaca &#8212; meski untuk itu ia harus menggelontorkan biaya investasi yang lebih mahal.</p>
<p><strong>Ketiga, ia mengamalkan ilmu ekonomi bisnis.</strong></p>
<p>Jangan tanya teori kepadanya. Ia akan menggeleng. Ia memang tak dibekali ilmu akademis. Sekolah SMA saja DO. Jadi ketika ditanya apa resep suksesnya, ia tak mampu menjawab. Tapi coba perhatikan apa katanya kepada Niriah.com: &#8220;Menurut saya ilmu ekonomi itu alamiah. Kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus, kasih harga yang bagus, begitu saja.&#8221;</p>
<p>Ia memang tidak belajar secara akademis. Namun dari jejaknya, terlihat jelas bahwa  ia justru mengamalkan berbagai ilmu manajemen yang banyak diteorikan oleh para pakar manajemen.</p>
<p><a href="http://www.csmonitor.com/2005/0105/p06s01-woap.html" target="_blank"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/susi-air.jpg" alt="Susi Air" align="left" /></a>Dengan ketiga faktor itulah, menurut saya, ia bermetamarfosa dari ulat (seorang yang tekun menggeluti bisnisnya tanpa mengeluh, pantang menyerah) menjadi kupu-kupu (pengusaha hasil laut yang sukses). Kini kupu-kupu itu terbang makin tinggi karena ia juga membangun maskapai pesawat carteran, sebagai ekspansi usahanya. Pesawat Cessna yang semula hanya dipakai untuk mendukung ekspor hasil lautnya ternyata mampu menggugah semangat wirausahanya untuk masuk ke bisnis baru: pesawat carteran. Tahun ini ia bakal memiliki 14 pesawat kecil yang terbang ke daerah-daerah pelosok, termasuk Aceh dan Papua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/entrepreneurship/susi-pudjiastuti-sudah-menjadi-kupu-kupu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Steve Jobs vs Bill Gates: Simplicity vs Complexity</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/manajemen-personal/steve-jobs-vs-bill-gates-simplicity-vs-complexity/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/manajemen-personal/steve-jobs-vs-bill-gates-simplicity-vs-complexity/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 14:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Manajemen Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/manajemen-personal/steve-jobs-vs-bill-gates-simplicity-vs-complexity/</guid>
		<description><![CDATA[April ini adalah bulan paling sibuk bagi saya untuk urusan presentasi. Saya harus memberikan enam presentasi, baik berupa  seminar, pelatihan, maupun sebagai dosen tamu di sebuah sekolah manajemen. Saya sangat suka dengan kegiatan ini. Namun saya dilanda kebosanan karena template presentasi saya dengan Microsoft Power Point ya itu-itu saja. Padahal, kebosanan semacam ini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>April ini adalah bulan paling sibuk bagi saya untuk urusan presentasi. Saya harus memberikan enam presentasi, baik berupa  seminar, pelatihan, maupun sebagai dosen tamu di sebuah sekolah manajemen. Saya sangat suka dengan kegiatan ini. Namun saya dilanda kebosanan karena <em>template</em> presentasi saya dengan Microsoft Power Point ya itu-itu saja. Padahal, kebosanan semacam ini adalah sumber malapetaka presentasi di depan publik. Maka saya mencari berbagai tips presentasi via Internet. Apa yang saya temukan amat berharga buat saya. Antara lain, ini: jenis presentasi dua orang yang amat saya idolakan &#8212; Steve Jobs, bos Apple Inc, dan Bill Gates, pendiri Microsoft Corp. &#8212; yang ditulis dengan baik oleh <a href="http://presentationzen.blogs.com/presentationzen/2005/11/the_zen_estheti.html" target="_blank">Garr Reynolds</a>, penulis buku Presentation Zen.</p>
<p><strong>Steve Jobs: Sederhana.</strong></p>
<p>Kebetulan saya pernah menyaksikan dua presentasi Steve Jobs pada acara peluncuran Apple Mac berbasis prosesor Intel dan peluncuran iPhone. Ia berdiri di panggung yang amat luas dengan layar raksasa. Di layar lebar itulah materi presentasinya terpampang. Sebuah materi presentasi yang sederhana. Kadang kosong. Lalu muncul gambar, tabel, dan sedikit teks untuk mendukung presentasinya.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/steve-jobs-zen_master.jpg" alt="Steve Jobs Zen Master" /></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/jobs_intel_1.jpg" alt="Steve Jobs - Mac Intel" /></p>
<p style="text-align: center"><em>Steve Jobs - photo source <a href="http://presentationzen.blogs.com/presentationzen/2005/11/the_zen_estheti.html" target="_blank">PresentationZen</a> </em></p>
<p>Yang mengherankan, inovasi luar biasa penggunaan prosesor Intel ke dalam Apple Mac ataupun revolusi iPhone, bisa disampaikan dengan begitu detil, hanya dengan slide-slide presentasi yang sunyi. Ia &#8220;menggores kanvas presentasi&#8221; dengan penuturan cerita yang luar biasa. Ucapannya yang meluncur mulus dari bibirnya terangkai dengan indah menjadi kalimat yang enak didengar dan jelas. Gabungan antara kemampuan  tutur plus kesederhanaan slide presentasi itu  memberikan  efek yang  hebat ke pendengarnya. Saya tidak heran jika sahabat saya Boy Avianto, pakar usability dan dosen   Binus Internasional, amat menggemari presentasi Steve Jobs.</p>
<p>Penasaran sama gaya presentasi Steve Jobs? Simak <a href="http://www.apple.com/quicktime/guide/appleevents/" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p><strong>Bill Gates: Rumit, Kaya.</strong></p>
<p>Saya belum pernah menyaksikan presentasi Bill Gates. Namun dari blog Garr Reynolds saya tahu bahwa tipe slide presentasi Bill Gates kaya dengan text, bullet point dan gambar.  Biasanya setiap slide dimulai dengan judul, kemudian isi &#8212; yang kemudian terbagi-bagi lagi dalam beberapa bullet. Hirarki presentasinya amat jelas, runtut, dari bullet pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/bill-gates-complexity.jpg" alt="Bill Gates - Complexity" /></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2008/04/gates_bullets.jpg" alt="Bill Gates - Live" /></p>
<p style="text-align: center"><em>Bill Gates - photo source PresentationZen </em></p>
<p>Jika Anda biasa menggunakan Microsoft PowerPoint, ya seperti itulah gaya presentasi Bill Gates. Seperti itu pulalah saya selama ini membuat materi presentasi. Sangat runtut dari satu halaman ke halaman berikutnya. Hirarki penuturan juga dibuat detil, ditulis satu persatu. Lengkap. Kompleks. Kaya.</p>
<p>Penasaran sama gaya presentasi Bill Gates? Simak <a href="http://www.microsoft.com/events/executives/billgates.mspx" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Sejauh  ini saya tidak bermasalah dengan jenis presentasi yang rumit ini. Saya malah diuntungkan karena dengan cara seperti ini saya bisa menyampaikan sebuah materi dengan runtut pula. Tidak ada pesan yang terlupakan. Satu-satunya kelemahan adalah, peserta akan bosan kalau kita terjebak ke &#8220;membacakan materi presentasi&#8221; ketimbang &#8220;menuturkan dan berdialog dengan peserta&#8221;.</p>
<p>Setelah membaca dua kutub presentasi antara Steve Jobs dan Bill Gates ini, saya sedang berusaha menuju ke tipe Steve Jobs.  Saya lebih menyukai  tipe materi presentasi yang sederhana, tepat guna, namun dilengkapi dengan cara tutur yang berbobot, sehingga secara keseluruhan peserta mendapat banyak informasi di balik kesederhanaan materi presentasi.</p>
<p>Kalau Anda?</p>
<p>Jika tidak pernah presentasi namun sering mendengarkannya, jenis mana yang lebih Anda sukai?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/manajemen-personal/steve-jobs-vs-bill-gates-simplicity-vs-complexity/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
