


<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sudut Pandang</title>
	<atom:link href="http://www.sudutpandang.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sudutpandang.com</link>
	<description>entrepreneurship, manajemen, dan lifestyle</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 02:29:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Pengusaha Bermental Riset</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2012/01/pengusaha-bermental-riset/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2012/01/pengusaha-bermental-riset/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=1053</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengusaha, sekecil apapun, sepemula apapun, harus mampu membangun pasar. Bisnis itu intinya menciptakan pelanggan loyal.  Percuma punya bisnis kalau tak menghasilkan pelanggan karena dari pelanggan (terutama yang loyal) itulah arus kas masuk ke perusahaan, membuat perusahaan jadi bisa bernafas. Dan jika aliran kas positif, perusahaan bisa bernafas sehat. Dari mana mendapatkan konsumen loyal? Dari banyak jalan. Salah satunya: memahami kebutuhan konsumen <strong>sebelum</strong> kebutuhan itu muncul.</p>
<p>Kata Steve Jobs:  <em>“Some people say, ‘Give customers what they want.’ But that’s not my approach. Our job is to figure out what they’re going to want before they do… Our task is to read things that are not yet on the page.”</em></p>
<p>Jika pengusaha masuk ke pasar saat kebutuhan diketahui, pasar mungkin sudah diserbu banyak pemain lain dan jadilah lautan merah. Jika tahu terlebih dulu kecenderungan konsumen dan masuk pasar terlebih dulu dibanding yang lain, pengusaha itu berlayar di lautan biru. Bisa mengail ikan sesuka hati. Jika  tahu arus konsumen bergerak ke social media misalnya, ya terjunlah ke sana secara serius. Jadi pionir di pasar itu.</p>
<p>Bagaimana memahami kebutuhan pelanggan lebih awal? Kuncinya: Riset!</p>
<p>Maka, jika ingin kompetitif, bisa melihat ke depan, pengusaha mesti &#8220;berjiwa riset&#8221;.  Ya, berjiwa riset dulu. Itu lebih penting. Tanpa itu, pengusaha akan memasukkan riset sebagai biaya dan mengeluhkan mahalnya biaya riset. Padahal riset itu bukan biaya. Riset itu investasi bagi pengusaha.</p>
<p>Kalau begitu hanya pengusaha besar yang punya dana riset saja dong yang bisa melakukan ini?</p>
<p>Ah enggak juga <img src='http://www.sudutpandang.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pengusaha kecil juga bisa. Caranya?</p>
<p>Rajin-rajinlah berinternet-ria dengan sudut pandang riset. Internet itu bagai lautan data tentang insight konsumen. Kalau jeli, kita bisa mendapatkan sesuatu yang bermakna terkait perilaku konsumen dan kecenderungannya.</p>
<p>Pelajari fasilitas-fasilitas Google yang gratis tapi lumayan memberikan insight. Misalnya: Google Trend, Google Ad Planner dan lainnya.</p>
<p>Atau, selami lautan data social media.</p>
<p>Semilyar lebih tweet dalam sepekan itu juga lautan data yg mengandung insight pasar. Ya, kalau jeli, kita bisa mendapatkan  sesuatu.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1054" href="http://www.sudutpandang.com/2012/01/pengusaha-bermental-riset/flow/"><img class="alignnone size-full wp-image-1054" title="flow" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2012/01/flow.jpg" alt="" width="466" height="368" /></a></p>
<p>Tapi lautan data hanyalah data tak bermanfaat jika kita tak bisa menganalisanya. Butuh kejelian, intuisi dan kcerdasan untuk  mengais &#8216;insights&#8217; dalam lautan data. Dan itu biasanya hasil ketekunan belajar dan menghadapi lautan data. Saya seringkali memaksakan memelototi lautan data itu sejam dalam sehari agar mengerti. Awalnya sih nggak faham. Seiring dengan waktu dan memaksa diri setiap hari, akhirnya bisa menemukan benang merahnya.</p>
<p>Tapi kalau pun malas untuk bercengkerama dengan lautan data, cara kedua bisa dilakukan: Googling. Ya, cari paper ilmiah mengenai perilaku konsumen dan trennya. Banyak paper tentang itu yang bergeletakan di Internet. Makin pinter Googling, makin cepat dapat yang kontekstual dan bagus. Bisa gratis pula.</p>
<p>Di era Internet inilah, tak ada perusahaan yang terlalu besar untuk hancur karena mengabaikan kecenderungan perilaku konsumen masa depan. Sebaliknya, tak ada perusahaan yg terlalu kecil untuk membesar karena kemampuannya memahami  kecenderungan konsumen dan mengantisipasinya.</p>
<p>Untuk menyongsong masa depan, jadilah pengusaha bermental riset agar tak tergerus arus balik perilaku konsumen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2012/01/pengusaha-bermental-riset/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TwitWar itu Asik, Jika &#8230;</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2012/01/twitwar-itu-asik-jika/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2012/01/twitwar-itu-asik-jika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=1046</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari belakangan ini, twitwar adalah kata yang sering melintas di timeline Twitter. Perang kata-kata via Twitter sesungguhnya bukan hal baru. Dulu Wimar Witoelar pernah beradu twit dengan Aburizal Bakrie. Cepat berhenti meski sempat terpublikasi ke media-media online. Antar pribadi-pribadi di Twitter pun sering jual beli wacana. Sebagian lainnya kadang imbal beli kemarahan dengan makian. Belakangan, twitwar menjadi meriah karena melibatkan artis, yang berlarut-larut yang melibatkan banyak pihak. Twitwar juga kian hangat karena mulai melibatkan isu publik (bukan lagi privat) seperti ijazah palsu.</p>
<p>Saya tidak tertarik membahas para artis.</p>
<p>Saya akan membahas twitwar dari sisi lain.</p>
<p>Ada dua kelompok yang terlibat di twitwar. Pertama, mereka yang baru belajar Twitter dan belum sadar bahwa Twitter itu wilayah publik, bukan wilayah privat. Betul bahwa akun yang kita miliki itu &#8220;milik kita&#8221;. Namun apapun yang kita twit akan dibaca publik (atau dibaca followernya saja jika akunnya terkunci). Akibatnya, saat kita bertengkar dengan pengguna Twitter lain, follower kita dan follower yang kita ajak bertengkar berpotensi membaca twitwar itu. Jadinya, kita bertengkar di hadapan banyak orang.  Aib kita, juga aib lawan tengkar kita, otomatis terbuka ke seluruh follower.</p>
<p>Kelompok kedua, mereka yang sangat paham Twitter, dan memanfaatkan twitwar untuk keuntungan pribadi atau kelompoknya. Twitwar, bagi sebagian orang/kelompok, dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah follower. Mereka biasanya lebih suka twitwar dengan seleb atau pemilik akun Twitter yang followernya jauh lebih banyak. Jika berhasil memanasi seleb dan lalu terjadi twitwar, biasanya jumlah followernya naik.</p>
<p>Atau, lihatlah sebagian para politisi yang kini rajin di Twitter. Mereka berani melayani siapa saja yang mengajak twitwar. Politisi yang biasa berdebat di teve, lincah berperang di Twitter. Tapi saya duga, twitwar mereka itu tak sepanas yang terbaca dari lalulintas twit mereka. Persis seperti kita melihat para politisi yang berdebat keras di layar teve, bahkan saling membentak, tetapi begitu acara selesai mereka ketawa-ketawa, saling berpelukan, lalu masih bisa ngopi bareng.</p>
<p>Mereka twitwar tapi terkendali.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1047" href="http://www.sudutpandang.com/2012/01/twitwar-itu-asik-jika/twitter/"><img class="alignnone size-full wp-image-1047" title="twitter" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2012/01/twitter.jpg" alt="" width="500" height="408" /></a></p>
<p>Yang repot adalah jika twitwarnya kemudian berlanjut ke permusuhan pribadi, lalu  melebar ke offline, bahkan hingga ke meja hijau. Ini berpotensi terjadi pada kelompok pertama, yang baru belajar Twitter.</p>
<p>Karena itu, bagi yang baru belajar Twitter, pahamilah:</p>
<p>1. Twitter itu ranah publik. Bukan privat. Risikonya: jika kita menghina orang lain (mesti tak sengaja) bisa saja dituntut  pencemaran nama baik.</p>
<p>2. Karena Twitter itu ranah publik, terapkan etika-etika di offline ke Twitter juga. Jika menghina orang lain di depan umum dianggap tidak etis misalnya, jangan lakukan di Twitter.</p>
<p>3. Karena keterbatasan 140 karakter, Twitter bukan media yang ideal untuk berdebat. Salah paham dan kehilangan konteks sangat mudah terjadi di sini.</p>
<p>4. Berbeda dengan pertengkaran lisan yang akan hilang bersama waktu dan lupa, twitwar akan tercatat meski bisa saja dihapus.  Namun jika terlanjur di RT, di-favoritkan, atau di-capture orang lain, akan tercatat selamanya.</p>
<p>Twitwar memang kesannya negatif karena seringkali terkait dengan masalah pribadi. Saling menyerang dan membuka aib. Karena itu, sebaiknya hindari twitwar jenis ini.</p>
<p>Twitwar akan bermanfaat, jika tidak menyangkut masalah pribadi, tetapi yang berkaitan dengan kepentingan umum, misalnya memperjuangkan etika akademik, meningkatkan mutu pendidikan, ekonomi dan lainnya.  Sepanjang kita ahli di bidangnya, twitwar itu mengasah logika dan kepekaan.</p>
<p>Jika kita bukan ahlinya, lebih enak jadi penonton,  menikmati seni twitwar dan dapatkan ilmunya dari situ.</p>
<p><em>gambar dari: <a href="http://www.pixey.de/2009/07/10/free-pixey-birrrdfon-twitter-icons/" target="_blank">Pixey</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2012/01/twitwar-itu-asik-jika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lakukan Sekarang!</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2012/01/lakukan-sekarang/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2012/01/lakukan-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 23:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di penghujung tahun, saya penah nge-tweet tanya  soal resolusi tahunan.<br />
Siapa yang selalu bikin resolusi tiap akhir tahun? Seringnya berhasil atau gagal? <img src='http://www.sudutpandang.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Puluhan jawaban masuk, 90% bilang resolusinya hanya sebagian tercapai atau malah gagal total alias resolusi sebatas resolusi.</p>
<p>Saya kemudian men-tweet opini saya soal resolusi tahunan seperti ini:</p>
<p>Kenapa resolusi tahunan tak jarang malah gagal?  Karena setahun itu waktu yg panjang. Kalo mau berubah ya berubah aja saat itu juga.</p>
<p>Misalnya: Tahun depan resolusinya mau rajin olahraga. Lhaaa kenapa musti nunggu tahun depan? Hari itu aja paksa olahraga <img src='http://www.sudutpandang.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lain cerita, kalo resolusinya terkait keuangan, misalnya: beli rumah. Itu emang butuh waktu buat ngumpulin duit.</p>
<p>Satu tahun itu waktu yang panjang. Kita bisa melakukan banyak hal dalam setahun. Banyak. Banget.</p>
<p>***</p>
<p>Saya percaya dengan kekuatan &#8220;lakukan sekarang&#8221;. Ketika ingin melakukan perubahan, lakukan saat itu juga, tak perlu menunggu moment atau waktu yang tepat. Ketika perubahan itu terkait perilaku kita, perubahan bisa dilakukan saat itu juga. Jika tidak, berarti memang niat berubahnya tidak besar.</p>
<p>Seperti contoh di atas. Kalo pengen hidup sehat, olahraga hari itu juga. Pengen disiplin menabung, berhemat hari itu juga. Pengen lebih perhatian pada keluarga, hari itu juga sisihkan waktu bersama keluarga. Dan seterusnya.<br />
Tak lama setelah saya nge-tweet tentang resolusi, seorang pemred majalah wanita wawancara saya via phone.</p>
<p>Pertanyaannya: Apa kunci agar sebuah niat/resolusi itu tercapai?</p>
<p>Menurut saya, besarnya niat itu terkait dengan Self awareness. Artinya, jika seorang individu sadar fungsinya sebagai individu, fungsinya dalam keluarga dan lingkungan maka niat untuk berubah menuju perbaikan akan semakin besar dan cepat.</p>
<p>Contoh: Jika seorang laki-laki sadar betul tanggungjawabnya yang besar pada keluarga, maka ia akan memutuskan hidup sehat, olahraga dan berhenti merokok. Kenapa? dengan hidup sehat, dia akan lebih produktif bekerja, ngga sakit-sakitan dan menyusahkan anak istri. Bayangkan, apa jadinya jika dia ngga sehat? siapa yang akan melindungi keluarganya?</p>
<p>Contoh lain: Jika seorang ibu sadar betul bahwa ibu adalah orang yang paling punya pengaruh besar dalam membentuk perilaku anak, ia akan habis-habis mengubah karakternya yang buruk  agar tidak menular pada anak. Bayangkan, apa jadinya seorang anak yang dibesarkan oleh ibu yang memiliki karakter buruk, misalnya, senang memaki?</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1039" href="http://www.sudutpandang.com/2012/01/lakukan-sekarang/sekarang1/"><img class="alignnone size-full wp-image-1039" title="sekarang1" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2012/01/sekarang1.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
<p>Contoh lain: Jika seorang pemimpin perusahaan sadar betul bahwa banyak orang yang menggantungkan hidup di perusahaannya, ia akan terus berusaha hidup sehat supaya bisa lancar bekerja dan menjadi sandaran banyak keluarga.</p>
<p>Self awareness. Sadar tanggung jawab sebagai individu. Sadar tanggung jawab sebagai anggota keluarga, dan masih banyak lagi alasan lain untuk sadar.</p>
<p>Self awareness melahirkan &#8220;now attitude&#8221;. Berubah sekarang juga,kerjakan saat itu juga tak perlu menunggu momen khusus.</p>
<p>There is no such a &#8220;right time&#8221;. All I know is &#8220;now&#8221; time. Tomorrow is bullshit.<br />
Ketika kita menunda besok, maka yang akan terjadi adalah, kita menunda selamanya.</p>
<p>Lakukan perubahan sekarang. Atau kita tak akan pernah berubah sama sekali.</p>
<p>oleh Iim Fahima, CEO <a href="http://virtual.co.id" target="_blank">Virtual Consulting</a>,<br />
Twitter: <a href="https://twitter.com/#!/iimfahima" target="_blank">IimFahima</a></p>
<p>Tulisan lain Iim Fahima:</p>
<p><a href="http://www.sudutpandang.com/2011/10/kebiasaan-datang-pagi-ke-kantor-investasi-sehat-untuk-diri-sendiri/">Kebiasaan Datang Pagi ke Kantor, Investasi Sehat untuk Diri Sendiri.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2012/01/lakukan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Momen Embun</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/12/momen-embun/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/12/momen-embun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 04:31:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebulan terakhir ini saya sedang semangat motret embun hampir setiap pagi dengan iPhone4, lalu saya unggah ke Instagram. </p>
<p>Saya merasa ada sesuatu di titik-titik embun. Kadang saya memikirkan embun itu, kenapa bisa membentuk bulat nyaris sempurna, yang sebenarnya itu peristiwa fisika mengenai teganan permukaan. Kadang memikirnya sebagai penanda pagi. Kadang saya melihatnya sebagai tempat bermain berbagai binatang kecil&#8230;.  </p>
<p>Maka saya pun seringkali mencari objek-objek di mana embun bertengger indah. Bisa saja di dedaunan dan tetumbuhan halaman belakang dan depan rumah. Bisa di kebon tetangga. Kadang di sekolah Lala (saya hampir setiap pagi mengantarnya ke sekolah, naik motor).  </p>
<p>Sebagian hasilnya bisa dinikmati di Instagram:<br />
1. <a href="http://instagr.am/p/X3d39/" target="_blank">Embun di atas daun pepaya</a><br />
2. <a href="http://instagr.am/p/Xkh50" target="_blank">Embun di bunga hias</a><br />
3. <a href="http://instagr.am/p/XkDf6" target="_blank">Embun di daun pisang</a><br />
4. <a href="http://instagr.am/p/XY-dJ" target="_blank">Ini butiran perak atau embun?</a><br />
5. <a href="http://instagr.am/p/Wimm0" target="_blank">Selamat pagi belalang embun</a><br />
6. <a href="http://instagr.am/p/WY8UB" target="_blank">Bertahan melawan gravitasi</a><br />
7. <a href="http://instagr.am/p/VryXC" target="_blank">Di antara jalur hijau kuning</a><br />
8. <a href="http://instagr.am/p/VVO3D" target="_blank">Di balik daun</a> </p>
<p>Nah, pagi ini, di sekolah Lala saya mendapat momen yang tak terduga. Sedang asik menikmati embun di tanaman hias, mata saya terpukau oleh peristiwa yang jarang. Sepasang mahluk sedang bersenggama di antara butiran embun.  </p>
<p>Ini hasilnya:</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1020" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/momen-embun/lalat-embun/"><img class="alignnone size-full wp-image-1020" title="lalat embun" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/lalat-embun.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/12/momen-embun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Sebuah Proses</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 07:47:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=997</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bersyukur saya punya halaman belakang rumah yang cukup luas dengan beberapa pepohonan hijau yang menjadi tempat ideal bagi beberapa hewan liar seperti seperti kodok, belalang, kumbang, bahkan ular kadang melintas masuk ke dapur dan tupai melompat-lompat di pohon rambutan.</p>
<p>Beberapa waktu terakhir ini saya perhatikan ada empat ekor ulat hitam yang cukup indah rakus makan daun pohon beringin bonsai. Entah kenapa saya biarkan. Biasanya ulat seperti itu saya pindahkan ke pohon lain agar pohon bonsai itu tidak gundul.</p>
<p>Eh, beberapa hari kemudian, jadilah mereka kempompong hujau keemasan yang amat cantik!</p>
<p><a rel="attachment wp-att-998" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/kepompong1/"><img class="alignnone size-full wp-image-998" title="kepompong1" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/kepompong1.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
<p>Kepompong ini makin hari makin cerah saja warna hijau dan keemasannya.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-999" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/kepompong2/"><img class="alignnone size-full wp-image-999" title="kepompong2" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/kepompong2.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
<p>Malam hari ia berselimut dingin.</p>
<p>Pagi ia bersarung hangat matahari.</p>
<p>Kala hujan ia kukuh dengan cangkang yang melindunginya.</p>
<p>Tak peduli apa yang terjadi di luar sana, ia terus tumbuh.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1000" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/kepompong3a/"><img class="alignnone size-full wp-image-1000" title="kepompong3a" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/kepompong3a.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
<p>Lalu pada suatu pagi, aku lihat ada sebuah gerakan.</p>
<p>Sebuah mahluk kecil hitam perlahan mengoyak cangkang dari dalam.</p>
<p>Lalu keluarlah ia dengan anggunnya!</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1001" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/kepompong4/"><img class="alignnone size-full wp-image-1001" title="kepompong4" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/kepompong4.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
<p>Beberapa jam ia terdiam.</p>
<p>Menguatkan sayap.</p>
<p>Lalu perlahan ia merangkak ke atas.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1002" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/kepompong5/"><img class="alignnone size-full wp-image-1002" title="kepompong5" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/kepompong5.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
<p>Aku tinggal ia pergi ke kantor.</p>
<p>Aku pulang malam tak sempat menengoknya.</p>
<p>Esok pagi, yang kusaksikan hanya cangkangnya.</p>
<p>Ia telah pergi. Membangun kehidupan baru.</p>
<p>Yang tersisa hanya sebuah saksi bisu bahwa ia pernah lahir di pohon beringin bonsai.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1003" href="http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/kepompong6/"><img class="alignnone size-full wp-image-1003" title="kepompong6" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/12/kepompong6.jpg" alt="" width="550" height="550" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/12/indahnya-sebuah-proses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulai Bisnis Bermodal Gagasan</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/11/memulai-bisnis-bermodal-gagasan/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/11/memulai-bisnis-bermodal-gagasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 10:06:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=986</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Modal hampir selalu menjadi kendala utama para calon pengusaha. &#8220;Nggak punya modal,&#8221; itulah alasan klasik yang sering terdengar. Lalu muncullah pertanyaan yang berulang-ulang ditanyakan dari dulu hingga sekarang: &#8220;Bisakah kita memulai bisnis tanpa modal?&#8221;</p>
<p>Tentu saja, salah satu syarat berbisnis adalah modal. Namun, sayangnya, selama ini yang dianggap modal oleh awam adalah modal uang sendiri. Tunai. Jika seperti itu memang bisa jadi hambatan untuk memulai usaha. Namun jika modal itu bukan uang sendiri, atau modal itu bukan semata-mata uang tunai, maka memulai bisnis tanpa modal (tunai) itu sangatlah mungkin.</p>
<p>Saya ingat beberapa tahun lalu, Agus Supriyadi dan calon istrinya, yang masih tak punya uang, ke sana kemari menjual idenya ke pengelola hotel di Yogya dengan beberapa carik kertas.  Mereka kemudian bisa membangun portal pariwisata berbahasa Inggris dan Indonesia: <a href="http://yogyes.com/" target="_blank">Yogyes.com</a>. Kini, Yogyes.com sudah menjadi rujukan bule ketika bertandang ke Yogyakarta. Hotel-hotel di Kota Gudeg itu pun rasanya ada yang kurang jika tidak terdaftar di Yogyes.</p>
<p>Apakah Yogyes dibangun pakai modal? Tentu, ada biaya bensin bolak-balik naik motor, biaya mencetak proposal, biaya makan seadanya selama belum tembus proyeknya.  Tapi itu tidak seberapa, hanya beberapa puluh ribu rupiah. Yang &#8220;tak ternilai&#8221; adalah gagasannya. Ketika ada beberapa hotel yang akhirnya mau &#8220;membeli idenya&#8221; untuk beriklan di sana, mereka membangun portal Yogyes.</p>
<p>Banyak contoh pengusaha pemula yang seperti Agus, yang tidak pusing dengan modal uang tunai. Mereka terus &#8220;menjual gagasannya&#8221;.  Pelangganlah yang kemudian membiayainya kebutuhan awalnya.</p>
<p><a href="http://www.jamilazzaini.com/" target="_blank">Jamil Azzaini</a>, insporator SuksesMulia yang punya banyak bisnis itu pernah bercerita, saat masih mahasiswa ia berbisnis dengan menjadi penjual buku. Dari mana modalnya? &#8220;Dari uang muka para pembeli buku,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya juga punya kisah agak mirip. Ketika memulai bisnis, saya mempersiapkan modal uang tunai cukup banyak. Namun, perusahaan belum berdiri, saya sudah bisa membuat proposal dan memenangkan proyek pembuatan web. Uang muka proyek itulah yang saya pakai sebagai modal awal usaha. Ya, pada dasarnya, bisnis saya pun dimulai dengan dimodali pelanggan.</p>
<p>Untuk contoh skala besar, perhatikan para juragan properti. Mereka hanya menjual gambar, tanah masih kosong melompong, namun bisa mendapatkan pembeli yang membayar uang muka. Para pengusaha properti itu menerapkan strategi Pre-Sales: jualan dulu meski barangnya belum berwujud. Dengan uang muka dan pinjaman bank, mereka kemudian membangun propertinya.</p>
<p>Gagasan pun bisa menjadi modal!</p>
<p><a rel="attachment wp-att-987" href="http://www.sudutpandang.com/2011/11/memulai-bisnis-bermodal-gagasan/ide/"><img class="alignnone size-full wp-image-987" title="ide" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/11/ide.jpg" alt="" width="605" height="535" /></a></p>
<p>Jadi, sekarang singkirkan jauh-jauh pertanyaan &#8220;Bisakah memulai bisnis tanpa modal uang tunai?&#8221;. Dalam banyak kasus, gagasan pun bisa menjadi modal. Uang muka dari pembeli bisa jadi modal.</p>
<p>Pertanyaan kini perlu diganti: &#8220;Bagaimana bisa mendapatkan uang muka dari pelanggan agar bisa memodali usaha?&#8221; Di sinilah otak kreatif pengusaha diuji. Salah satu ujian bagi pengusaha adalah: bisakah mendapatkan uang dari pihak lain untuk memulai usahanya.</p>
<p>Salah satu syarat menjadi pengusaha itu kemampuan mencari modal untuk menjalankan usahanya. Bukan memiliki modal tunai.</p>
<p>foto: <a href="http://instagr.am/p/VVO3D" target="_blank">Instagram Nukman</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/11/memulai-bisnis-bermodal-gagasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengusaha itu Fokus pada Value, Bukan Kekayaan</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/11/pengusaha-itu-fokus-pada-value-bukan-kekayaan/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/11/pengusaha-itu-fokus-pada-value-bukan-kekayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 03:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=979</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perjalanan bisnis saya, sedikitnya ada dua hal yang harus &#8220;diciptakan&#8221; oleh pengusaha. Pertama: laba. Ya, tidak ada gunanya berbisnis jika tidak menghasilkan laba. Kedua, value atau nilai tambah. Sederhananya: pengusaha itu harus bisa mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai, misalnya menjadi pupuk. Syukur bisa menjadi emas.</p>
<p>Banyak cara menciptakan value. Dari yang terukur seperti mengubah kain menjadi pakaian atau memperlancar distribusi barang, hingga yang tak terukur seperti memperpintar, membahagiakan orang lain, itu juga menciptakan value.</p>
<p>Nyaris tidak ada batas menciptakan value. Bisa saja mengubah singkong menjadi gethuk hingga menciptakan peranti lunak atau jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Menciptakan value itu batasnya langit. Maka, ruang gerak pengusaha itu amat luas. Luaaaassss.</p>
<p>Dengan dua hal tadi, menjadi pengusaha bukanlah tujuan jangka pendek. Ini perlu saya sampaikan karena tak sedikit yang ingin menjadi pengusaha karena ingin cepat kaya. Memang betul, menjadi pengusaha bisa saja cepat kaya. Tapi kalau tujuannya hanya cepat kaya, banyak jalannya: korupsi, jual narkoba, berjudi, merampok, atau mencuri. Tapi semua itu tidak menciptakan value. Sebaliknya, malah merusak.</p>
<p>Atau, kalau mau cepat kaya, jadilah rentenir. Ada value yang diciptakan oleh rentenir, yakni memberi kemudahan mendapatan pinjaman. Bahkan tanpa syarat apapun. Tapi, fokus rentenir bukan pada value, melainkan pada laba. Rentenir mematok bunga pinjaman yang sangat mencekik, dan bisa saja mematikan peminjamnya.</p>
<p>Bisa dibilang, ingin cepat kaya itu cara pandang jangka pendek. Sebaliknya, menjadi pengusaha itu memerlukan cara pandang jangka panjang karena menciptakan value. Kalau mau jadi pengusaha, hindari buku-buku dan seminar-seminar yang menjanjikan cepat kaya. Mungkin saja bisa. Tapi itu menjebak kita untuk terbiasa berpikir jangka pendek. Padahal cara pandang pengusaha itu jangka panjang.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-980" href="http://www.sudutpandang.com/2011/11/pengusaha-itu-fokus-pada-value-bukan-kekayaan/embun/"><img class="alignnone size-full wp-image-980" title="embun" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/11/embun.jpg" alt="" width="490" height="490" /></a><br />
Menciptakan value itu butuh proses. Proses butuh waktu, kesabaran, modal, tim, manajemen dan lain sebaiknya. Jangka panjang. Tidak ada yang instan. Bahkan mau makan mie instan saja kita harus merebusnya terlebih dulu.</p>
<p>Fokuslah pada menciptakan value. Ubahlah sampah jadi pupuk. Singkong jadi gethuk. Syukur-syukur, sekali lagi, bisa jadi emas. Syukur-syukur lagi jika bisa menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.</p>
<p>Jika berhasil menciptakan value, laba akan terbentuk. Efek sampingnya? Kekayaan menghampiri.</p>
<p>foto: <a href="http://instagr.am/p/TUyW-/?ref=nf">Instagram</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/11/pengusaha-itu-fokus-pada-value-bukan-kekayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisihkan Laba untuk Pertumbuhan Usaha</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/10/sisihkan-laba-untuk-pertumbuhan-usaha/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/10/sisihkan-laba-untuk-pertumbuhan-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 12:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=975</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah kenapa, saya teringat penjual gethuk jaman saya masih kecil, yang setiap hari menggelar jajan pasarnya di ujung pasar Mbasahan, Semarang, tak jauh dari kantor pusat Pertamina di Semarang.</p>
<p>Dulu, saat SMP, karena saya masuk siang, maka saya mendapat jatah belanja keluarga setiap pagi. Ayah dan ibu memang sangat disiplin dan tegas dalam mendidik anak dan membagi tugas. Yang berangkat siang, mendapat tugas keluarga yang bisa dilakukan pagi. Sebaliknya yang masuk pagi, mendapat tugas keluarga yang bisa dikerjakan sore. Ada yang tugasnya mencuci pakaian, memberesihkan rumah, melipat dan menyeterika pakaian, dan lainnya, tanpa peduli jenis kelamin.</p>
<p>Maka setiap pagi saya belanja kebutuhan sehari-hari ke pasar, seperti sayur, ikan, beras, dan lainnya. Selesai belanja kebutuhan pokok, biasanya saya beli jajanan pasar: gethuk, tiwul, chetot, dan lainnya di penjual gethuk gendongan yang mangkal di pintu masuk pasar.</p>
<p>Setiap hari ia membawa satu gendongan gethuk, plus tiwul dan lainnya. Setiap hari ia menggelar jajan pasar di pojok yang sama. Setiap saya beli, ia selalu menyapa dengan ramah: &#8220;eh cah bagus&#8230;&#8221; sambil tersenyum. Ia hapal makanan kesukaan saya , dan selalu memberi lebih.</p>
<p>Sampai kelas tiga SMP, berarti tiga tahun saya jajan di tempatnya, ia masih saja menjual yang sama: segendongan gethuk, tiwul. Begitu jualannya habis, ia pulang. Tak menunggu pasar tutup. Entah apa yang dilakukannya setelah itu. Yang saya tahu, ia pernah cerita, ia harus bangun sepagi mungkin membuat gethuk, agar saat jam 07:00 pagi di bawa ke pasar masih hangat.</p>
<p>Begitulah irama hidupnya setiap hari.</p>
<p>SMA saya masuk pagi dan tugas belanja pagi dialihkan ke adik. Tapi, saat libur, saya kadang belanja dan jajan gethuk. Saya masih ketemu dengan penjual yang sama, namun dengan wajah yang lebih sepuh.</p>
<p>Demikian pula saat saya kuliah di Yogyakarta dan sesekali balik ke Semarang, ketika lewat pasar bertemu penjual yang sama, gethuk yang sama, gendongan yang sama, namun kerut wajah semakin kelihatan dan uban menampak.</p>
<p>Hari ini saya ingat sang penjual gethuk dan bertanya-tanya: kenapa nyaris seumur hidupnya ia menjual segendongan gethuk setiap hari? Mengapa penjual gethuk itu nyaris seumur hidup ada di tempat yg sama, jualan yg sama, hasil yg sama tanpa ada pertumbuhan usaha? Doh, saya hampir menangis saat menulis ini karena saya tahu  ia sangat tangguh &#8211; bangun sepagi mungkin membuat gethuk agar bisa jualan ke pasar dalam kondisi hangat.</p>
<p>Saya jadi teringat pengusaha-pengusaha mikro lain yang juga tangguh, tapi seperti penjual gethuk tadi, tak berkembang bisnisnya. Sepertinya, mereka berjualan hari ini untuk hidup besok. Berjualan esok untuk hidup lusa. Begitu seterusnya. Irama hidup pengusaha mikro seperti berjalan di tempat.</p>
<p>Saya tidak akan menilai apa penyebabnya, yang mungkin saja tidak sederhana, seperti pandangan hidup dan budaya secukupnya, kurangnya pendidikan, terbatasnya informasi dan lainnya.</p>
<p>Tapi yang jelas, salah satu ciri usaha adalah PERTUMBUHAN. Usaha bukan hanya mengejar laba, dengan arus kas yang sehat, tetapi juga perlu pertumbuhan. Bisnis itu seperti mahluk hidup. Ia butuh tumbuh.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-976" href="http://www.sudutpandang.com/2011/10/sisihkan-laba-untuk-pertumbuhan-usaha/grow/"><img class="alignleft size-full wp-image-976" title="grow" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/10/grow.jpg" alt="" width="491" height="348" /></a></p>
<p>Oleh karena itu, teman-teman pengusaha pemula, tekadkan untuk menyisihkan sebagian laba untuk INVESTASI usaha, jangan dimakan habis!</p>
<p>Ambillah sebagian laba untuk bersenang-senang. Pengusaha berhak untuk itu. Namun jika masih di tahun-tahun awal, sisihkan sebanyak mungkin laba untuk membeli barang modal, memperluas bisnis atau membuka usaha baru agar usaha kita tumbuh. Dari satu menjadi dua, lalu menjadi empat dan seterusnya sampai ke batas pertumbuhan.</p>
<p>Usaha yang sehat itu yang arus kasnya bagus, mencetak untung, dan TUMBUH.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/10/sisihkan-laba-untuk-pertumbuhan-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Datang Pagi ke Kantor, Investasi Sehat untuk Diri Sendiri.</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/10/kebiasaan-datang-pagi-ke-kantor-investasi-sehat-untuk-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/10/kebiasaan-datang-pagi-ke-kantor-investasi-sehat-untuk-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 11:45:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Style]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, seperti biasa, saya sampai ke kantor lebih pagi para pegawai bahkan OB sekalipun. Sebelum jam menunjukkan pukul 8.00 ,saya sudah anteng duduk di sudut favorit di ruangan saya sambil baca buku dan browsing ditemani secangkir kopi ringan.</p>
<p>Sambil check in di Foursquare,dengan nada becanda saya bilang: Kalah cepet nyampe kantor tuh para OB <img src='http://www.sudutpandang.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Respond pun bermunculan dari para follower. Beberapa menduga kebiasaan ini disebabkan saya pemilik perusahaan sekaligus CEO.</p>
<p>Tentu saja, dugaan itu salah. Kebiasaan datang pagi tidak hanya berlaku saat saya menjadi  pengusaha, melainkan hal yang selalu saya lakukan sejak menjadi pegawai dengan posisi junior copywriter di sebuah biro iklan.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-965" href="http://www.sudutpandang.com/2011/10/kebiasaan-datang-pagi-ke-kantor-investasi-sehat-untuk-diri-sendiri/selamat-pagi/"><img class="alignnone size-full wp-image-965" title="selamat pagi" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/10/selamat-pagi.jpg" alt="" width="612" height="612" /></a></p>
<p>Kenapa saya cinta datang pagi ke kantor? Sederhana. Karena pagi menyediakan energi positif dan kesegaran yang berlimpah. Jika saat jadi pegawai, saya memanfaatkan momment pagi sebagai momment belajar dan baca buku marketing dan advertising, maka kebiasaan itu bertambah ketika jadi wirausaha.</p>
<p>Saat ini, saya selalu memanfaatkan momment pagi sebagai momen belajar, hibernasi dan evaluasi. Setidaknya, saya luangkan waktu 1-1,5 jam untuk baca buku, evaluasi apa yang sudah dikerjakan plus mencari inspirasi untuk mengembangkan bisnis. Dan efek lain yang saya temukan, momen pagi menjadi waktu yang nyaman untuk kita hibernasi sebelum berhadapan dengan urusan bisnis yang menumpuk.</p>
<p><em>Hasilnya? bekerja lebih tenang, ilmu nambah, inspirasi terus bermunculan. </em></p>
<p>Mungkin banyak yang akan berkilah sulit datang pagi karena faktor jarak rumah atau ngga punya energi datang pagi.</p>
<p>Let me tell you this.</p>
<p>Sebelum subuh saya sudah bangun mengurus keperluan anak sekolah bersama suami. Dari mulai pakaian, sarapan sampai mandi dan siap berangkat sekolah. Semuanya diurus sendiri karena kami memutuskan tidak pakai mba/baby sitter untuk mengurus anak. Setelah itu, jam 6.30 am, saya harus nganter anak sekolah di Cilandak yang jarak tempuh apartemen &#8211; sekolah &#8211; kantor sekitar 1.5 jam kalo ngga macet.  Selama di mobil, saya gunakan waktu buat ngajarin anak ngaji.</p>
<p>Jam 8.00 pagi saya sudah duduk anteng dan belajar ini itu di kantor.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-966" href="http://www.sudutpandang.com/2011/10/kebiasaan-datang-pagi-ke-kantor-investasi-sehat-untuk-diri-sendiri/iim-2/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-966" title="iim" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/10/iim-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Energi saya sudah &#8220;disita&#8221; dari sebelum subuh. Jarak tempuh saya ke kantor, relatif sama lamanya dengan rata-rata penduduk Jakarta lainnya.</p>
<p>Tidak ada alasan untuk tidak bisa datang pagi <img src='http://www.sudutpandang.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Membiasakan diri datang pagi, keuntungannya lebih besar buat diri sendiri.</p>
<p><strong>oleh <a href="http://twitter.com/#!/iimfahima" target="_blank">Iim Fahima</a>, CEO <a href="http://virtual.co.id" target="_blank">Virtual Consulting</a></strong></p>
<p><em>foto: <a href="http://instagr.am/p/PxVl5" target="_blank">Selamat Pagi</a></em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/10/kebiasaan-datang-pagi-ke-kantor-investasi-sehat-untuk-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Memilih Mitra Membangun Usaha</title>
		<link>http://www.sudutpandang.com/2011/10/tips-memilih-mitra-membangun-usaha/</link>
		<comments>http://www.sudutpandang.com/2011/10/tips-memilih-mitra-membangun-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 03:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=946</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bisa saja seseorang membangun bisnisnya dari awal sendirian. Tapi, bisa juga memilih bermitra saat membangun usaha dengan berbagai alasan rasional, terutama karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki (misalnya modal, pengetahuan, jaringan) serta untuk berbagi risiko. Saya juga termasuk yang lebih nyaman membangun usaha bersama orang lain.</p>
<p>Namun memilih mitra tidaklah mudah. Mendapat mitra yang salah akan memperburuk kinerja bisnis, bahkan bisa membangkrutkan usaha. Saya termasuk yang pernah bangkrut di salah satu usaha (antara lain) karena mitra bisnis keluar dengan membawa seluruh modal dan uang kas yang ada. Untungnya, pengalaman itu hanya sekali, selanjutnya bisa mendapatkan mitra yang lebih bagus.</p>
<p>Pengalaman teman juga mirip. Mendapat mitra yang hanya memasukkan uang sebagai modal, lalu diam saja, namun di saat usaha berhasil, tiba-tiba meminta banyak posisi manajerial, termasuk direktur keuangan, dan perlahan-lahan mengambil alih perusahaan yang sudah jadi tersebut.</p>
<p>Namun tak sedikit yang berhasil mendapatkan mitra bisnis bagus, kemudian usahanya berkembang. Dari pengalaman gagal dan berhasil itulah, juga pengalaman pengusaha lain, inilah tips pendek memilih mitra membangun usaha:</p>
<p><a rel="attachment wp-att-947" href="http://www.sudutpandang.com/2011/10/tips-memilih-mitra-membangun-usaha/mitrabisnis/"><img class="alignnone size-full wp-image-947" title="mitrabisnis" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2011/10/mitrabisnis.jpg" alt="" width="506" height="338" /></a></p>
<p><strong>1. Pilih mitra bisnis yg punyai value, visi, dan semangat wirausaha yang sejalan dengan kita.</strong></p>
<p>Soal value misalnya, saya tidak ingin mengaliri darah karyawan (termasuk anak istrinya) dengan uang haram, maka saya mencari mitra bisnis yang anti korupsi. Mitra ini yang menarik saya keluar saat saya akan terjebak ke tender-tender yang harus dengan uang sogok.</p>
<p>Soal visi, jika visi kita ingin menjadi pengusaha kelas nasional, mitra terbaik adalah yg visinya lebih tinggi, sekurang-kurangnya selevel dengan kita. Bukan mitra yang ingin jadi pengusaha kelas daerah.</p>
<p><strong>2. Pilih mitra bisnis yang kompetensi yang berbeda dengan kita dan mengisi kekurangan kita.</strong></p>
<p>Audit diri sendiri, apa kekurangan kita untuk membangun usaha. Nah kekurangan itulah yang seharusnya diisi mitra kita. Kalau kita jago di marketing dan lemah di finance, cari mitra bisnis yang jago finance.</p>
<p>Mitra yang kompetensinya sama dengan kita hanyalah akan mempersubur pertengkaran dan perbedaan pendapat yang seringkali kurang produktif.</p>
<p><strong>3. Pilih mitra bisnis yg rekam jejak pribadi dan bisnisnya positif.</strong></p>
<p>Rekam jejak pribadinya yang tidak positif  itu misalnya: suka menindas istri, kurang baik dengan tetangga, sering pinjam uang tak kembali, suka terlambat <em>meeting</em> dengan berbagai alasan, dan lainnya.</p>
<p>Rekam jejak bisnis yang kurang positif itu misalnya: ngemplang uang mitra bisnisnya, mengkhianati mitra bisnisnya.</p>
<p>Rekam jejak positif itu termasuk memiliki pengalaman bisnis yang baik (bukan hanya pengalaman gagal tapi juga pengalaman berhasil di bisnis). Untuk memulai usaha, sebaiknya hindari yang mitra yang hanya punya pengalaman gagal.</p>
<p><strong>4. Pilih mitra yang kondisi keuangannya sudah stabil.</strong></p>
<p>Mitra yang mapan finansial, tidak akan mengganggu keuangan perusahaan. Bisa memisahkan uang perusahaan dan kebutuhan pribadi. Ingat lho, banyak pengusaha pemula yang sulit memisahkan uang pribadi dan bisnis.</p>
<p>Selain itu, jika mitra bisnis kita mapan finansial, mereka  tidak akan terburu-buru meminta deviden. Dengan demikian, laba usaha bisa lebih maksimal digunakan untuk pengembangan usaha.</p>
<p>Ada yang ingin menambahi tips di atas?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sudutpandang.com/2011/10/tips-memilih-mitra-membangun-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

