Posted on March 4, 2008 |
Itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa Magister Management Executive di STMB (Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis) Bandung, ketika saya diundang menjadi dosen tamu mata kuliah Entrepreneurship, Jumat pekan lalu, 29 Februari 2008. Saya memang memaparkan, bahwa saya bukan pengusaha tulen. Saya adalah profesional yang memberanikan diri terjun menjadi pengusaha. Sebelum menjadi usahawan, jabatan saya adalah Direktur Marketing dan Information Technology Detikcom.
Saya menjadi direksi Detikcom selama lima tahun, sejak 1998 hingga desember 2002. Direksi sebuah bisnis dotcom terakbar di negeri ini jelas posisi yang mapan. Pada tahun 2003, Detikcom sudah menjadi satu-satunya pemain dotcom yang lolos jebakan kehancuran dotcom di Indonesia. Pemain lain, seperti Astaga.com, Satunet.com, Kopitime.com dan lainnya sudah terseret arus kehanduran bisnis dotcom yang melanda seluruh dunia, mulai dari Amerika Serikat, Hongkong hingga Singapura, yang merembet juga ke Indonesia. Praktis, setelah itu Detikcom melenggang sendirian, menguasai pasar iklan dotcom. Aman. Mapan. Enak.
Lalu, kalau enak, kenapa ditinggalkan dan memilih dunia yang lebih keras dan tidak pasti, yakni dunia kewirausahaan alias entrepreneurship? Mengapa berani pindah ke kuadran yang berisiko tinggi? Itulah inti pertanyaanya. Sebagai catatan, saya diundang memberikan kuliah tamu karena tema kuliah saat itu adalah untuk memahami sosok usahawan.
Jujur saja, saya kesulitan menjawab pertanyaan yang tidak saya sangka-sangka tersebut. Bisa jadi, saya sendiri memiliki benih-benih kewirausahaan yang melekat dalam diri saya sendiri tanpa saya sadari, sehingga selalu tertantang untuk memulai usaha. Jadi, saya memang memiliki passion di sini. Bisa jadi karena jenuh berada di puncak sebagai eksekutif. Atau bisa juga faktor-faktor lain.

Namun yang jelas, faktor utama yang akhirnya memaksa saya pindah kuadran pada tahun 2003 adalah mitos umur.
Banyak yang bilang, umur 40 adalah masa keemasan seorang lelaki. Setelah itu, surutlah keperkasaannya.
Saya juga termakan mitos bahwa butuh waktu minimal dua tahun untuk membangun usaha agar usaha itu menunjukkan tanda-tanda berhasil.
Maka dua tahun sebelum usia 40 tahun itulah saya memutuskan mundur sebagai eksekutif dan memilih menjadi pengusaha.
Saya menutup mata terhadap godaan hidup nikmat, karir enak, zona nyaman, dan sejenisnya yang terhampar di depan mata seandainya tetap bertahan sebagai profesional.
Anda yang sudah pindah kuadran ke pengusaha, bisakah membantu menjawab pertanyaan ini? Kenapa Anda berani pindah dari zona mapan?
March 4th, 2008 at 2:05 pm
panggilan jiwa mungkin ya pak…
March 4th, 2008 at 2:23 pm
Wah saya bukan pengusaha, atau seorang yg hidupnya sudah mapan dengan posisi atau karier yg terjamin. tapi setidaknya keputusan saya untuk profesional atau ‘jalan sendiri’ mungkin bisa dikatakan hampir sama dengan yg njenengan lakukan.
Bahwasannya saya memang menikmati posisi saya ini, saya tidak peduli dengan segala macam title, jabatan dan embel embel lainnya, yg penting saya kerja nyaman, enjoy bisa menghidupi keluarga serta menyiapkan masa depan untuk semua, saya sudah sangat cukup enjoy dengan itu. Dan saya lebih suka membayar orang daripada di bayar orang
Well.. bukan berarti saya tidak suka kemapanan, seperti halnya Pak Nukman meninggalkan detik. Mungkin hal itu terlebih kepada ‘Tantangan’, biasanya seorang yg berjiwa pengusaha dan enterpreneur memang sangat suka dengan tantangan, apalah artinya hidup nyaman di posisi yg enak tanpa ada tantangan yg sangat asik untuk kita lalui
Terlepas semua itu, tentu saja untuk meningkatkan taraf hidup kan
March 4th, 2008 at 3:00 pm
Saya dulu juga pernah beberapa tahun ada di zona yg disebut orang sebagai Zona Mapan, bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak terbesar di dunia, dengan penghasilan yg cukup besar sehingga saya tidak pernah merasakan bedanya tanggal tua dan tanggal muda karena penghasilan selalu lebih besar daripada pengeluaran.
Walaupun demikian, Zona Mapan ini tidak membuat saya nyaman. Saya merasakan demikian karena di dalam kemapanan ini saya merasa otak dan kemampuan saya tidak lagi digunakan dengan optimal. Mengapa bisa begitu? Karena semakin mapan suatu kondisi, maka makin kecil tantangan yg dihadapi. Dan lebih lanjutnya lagi, makin jarang otak saya digunakan, maka otak itu akan makin tumpul.
Hal ini membuat saya khawatir, apa yg akan terjadi jika suatu saat saya kehilangan posisi mapan ini (dan itu bisa saja terjadi)? Apakah ketika itu terjadi otak dan kemampuan saya masih siap untuk bertarung? Saat itulah saya menyadari bahwa Zona Mapan itu adalah Zona Semu.
Begitulah akhirnya sehingga saya memutuskan untuk meninggalkan Zona Mapan itu dan melatih lagi otak dan kemampuan saya dengan menjadi pengusaha.
March 4th, 2008 at 3:01 pm
Pertanyaan itu memang sangat layak diajukan kepada Pak Nukman, jawabannya juga sangat inspiring. Kalo saya sungguh-sungguh tidak bisa menjawabnya
Apa boleh buat, jalan hidup mengharuskan saya berada di zona kere sebelum memulai usaha sendiri. Saya tidak punya Nissan Terrano yang bisa dilego untuk dijadikan modal awal. Bahkan pada hari pertama memulai usaha ini, saya dan inda belum makan sejak sehari sebelumnya.
Namun sekarang kami sangat mensyukuri keadaan itu karena telah “memaksa” kami untuk berusaha sekuat tenaga menjalankan usaha tersebut atau tidak makan sama sekali. Bukankah mempertahankan hidup adalah salah satu motivasi yang terkuat?
Alhamdulillah hasil usaha itu kini sudah mencukupi untuk menghidupi keluarga dan karyawan. Lebih dari itu hasilnya sedikit banyak juga telah membantu beberapa UKM di Jogja untuk memasarkan produknya dan mempertahankan kelangsungan usahanya.
Koq menempuh “jalan yang terjal”, kenapa tidak menempuh “jalur licin” saja? Ah, kalo itu sih cuma soal tantangannya yang kurang, hahaha… Lagipula kalo sudah terbiasa manja, nanti tidak bisa “tumbuh kuat”
Salam,
Agus Supriadi
March 4th, 2008 at 3:05 pm
Saya memilih kuadran bisnis dikarenakan pilihan bukan tuntutan, karena menurutt saya siapapun punya kesempatan untuk memulainya.
Bagi saya zona aman adalah zona dimana kita memiliki asset aktif yang mampu mengalirkan uang ke kantong kita tanpa memerlukan kehadiran kita di perusahaan. Bagaimana caranya? jawabanya adalah sistem, saya rekomendasikan buku “Guide To Investing” oleh Robbert Kiyosaki.
Gaji bulanan yang besar di perusahaan besar bukan zona aman, menurut saya resikonya justru terlalu tinggi jika kita berada di zona tersebut, dan saya sudah terlalu banyak melihat contohnya termasuk beberapa keluarga saya sendiri.
Bagi saya bisnis itu adalah hobi yang menyenangkan, tempat dimana saya bisa mencurahkan segala idealisme tanpa takut sama bos, atasan, supervisor, dll
Sebesar apapun perusahaan tempat kita bekerja, kita hanya akan menjadi buntut dari seekor gajah. Sebaliknya, sekecil apapun usaha yang kita rintis kita akan menjadi kepala ayam yang kelak akan berevolusi menjadi gajah dan kita bukan sebagai buntutnya.
Beberapa pertimbangan diataslah yang menjadi peta saya untuk mulai membangun bisnis dan berhenti mengurusi bisnis orang lain.
“Enak Aja Kau Bos, Aku Kau Gaji Kau Enak2an Main Golf !! kekekekek….”
March 5th, 2008 at 2:31 pm
Ibarat cycling (aktivitas yang paling saya suka), zona mapan itu adalah duduk meluncur di jalan turunan sambil merasakan angin sepoi-sepoi gunung, tapi usahanya zero calorie. Lebih baik pindah kuadran, cari tanjakan, kayuh sepeda, sweat.. sweat..sweat.. sampai puncak, kalori terbakar, badan sehat, next cari tanjakan lagi, ada tantangan baru, sambil nambah skill
March 6th, 2008 at 8:35 am
Harap diketahui zona mapan itu tidak ada, yang ada adalah zona penjara, nah hidup yang lebih hidup itu ya, di zona bebas, alias entreperenuer, try it out, you will knew how comport it is!!!!!.
March 6th, 2008 at 11:29 am
to my opinion, it’s not about zona nyaman atau zona bebas,…bukan pula employee atau entrepreneur,…
itu semua adalah pilihan hidup,…ada sisi plus dan minus nya,…
jadi pengusaha dan pegawai adalah pilihan hidup,…bukan pula masalah keberanian,..karena sebagai pegawai pun kita tetap harus BERANI,…(berani sengsara, berani dpt duit sedikit, berani dll,..hwakakak)
March 6th, 2008 at 11:35 am
Semalem saya mengikuti acara taping Kick Andy Metro TV.
karena kebetulan Bapak kami (Hermawan Kartajaya) menjadi salah satu Narasumber Ahli diacara tersebut.
Yg menarik disini adalah topic bahasan yg diangkat, yakni: “kisah sukses seorang enterpreneur” bahwa kekurangan modal dan pendidikan bukanlah sebuah hambatan untuk sukses.
Kisah sukses yg diusung adalah, ttg usaha waralaba Tela Tela (fried cassava) alias gorengan ketela pohon, yg dengan berbagai perjuanganya dan keterbatasan modal (sekian ratus ribu saja) dalam 2thn mampu mendapatkan omset rata-rata 1-2M per bulan.
Ada juga usahawan muda asal bandung yg karena hobby skateboardnya, dia bikin distro “ovale research”, hanya dengan modal patungan 250rb, akhirnya per bulan masuk omset ga kurang dari 1M.
Ada juga kisah sukses perusahaan forwarding NCS yg didirikan oleh seorang pemuda dari karanganyar beserta istrinya, yg gak segan menggadaikan cincin kawin mereka hanya untuk memastikan karyawannya tetap gajian.
Kisah yg ga kalah menarik, adalah kisahnya ibu Susi Pujiastuti, seorang perempuan yg tidak lulus SMA yg rela menjadikan truck sebagai tempat bermalamnya sambil menjual ikan, dan berkat ketekunannya kini dia memiliki 12pesawat terbang (12penumpang) SUSI Air yg fungsionalnya selain untuk pesawat penumpang antar kota di indonesia juga untuk alat pengangkutan export udang lobster ke jepang.
menurut Hermawan Kartajaya, mereka semua memiliki PDB (Positioning Differentiation Brand) yg kuat sebagai seorang entrepeneur, dan keseimbangan antara IQ, EQ dan SQ akan semakin mendukung kesuksesan usaha mereka.
Untuk lengkapnya silahkan disimak sendiri di Kick Andy, Metro TV, hari kamis 20 maret, 2008 pkl.22.05 atau minggu 23 maret, 2008, pkl 15.05 WIB (www.kickandy.com)
Sungguh, saya merasa terbakar dengan kobaran semangat mereka ini. saya semakin terinspirasi oleh kesuksesan mereka. Silahkan ditonton, dan saya yakin acara ini akan lebih menyemangati kita semua.
Dan untuk mas Nukman, saya mau sampaikan, benang merah itu semakin nyata, saya semakin siap untuk “connecting the dots”.
Karena itu kemaren saya jadi kangen pengen curhat n dpt wejangan dotcom lagi dari mas Nukman. Untuk memantapkan kegundahan dalam hati ini … hehe.
(sampai ketemu minggu depan mas)
March 6th, 2008 at 6:55 pm
pelajaran buat para fresh graduated…. soalnya entar orang2 seperti pak Nukman pasti bilang : kenapa ga dari duluuuu
,,, so setelah anda lulus, melamar kerja adalah salah satu alternatif yang patut disesali setelah anda lulus,,, berwirausahalah,,,
March 6th, 2008 at 7:02 pm
huss, saya sih ndak nyesal bekerja dan baru jadi usahawan 5 tahun kemudian. Bekal bekerja 5 tahun sangat berharga untuk menjadi landasan kewirausahaan.
March 7th, 2008 at 2:35 pm
warakadahhhhhhhh…. masih suka kasih wejangan di jogya ya, nih pak Nukman… kasih kabar dong biar bisa ikut….
March 7th, 2008 at 4:58 pm
apa pula itu zona mapan….he he he…
apapun nama zonanya dan dimanapun posisi zona kita
yang penting kita bisa mensyukuri dan berbagi dengan sesama….kita sudah dizona “power of giving”
March 7th, 2008 at 5:01 pm
Wah, saya malah belum sempat ngerasain kerja sama orang (kecuali penelitian abis selesai kuliah, itu diitung gak?).
Sehabis kuliah, thn 1998, saya n teman2 langsung berniat berusaha sendiri. Pinjaman nol. Modal start dari 1 kompuer, 1 scanner, 1 printer. Sampe sekarang CV yg saya pernah buat belum pernah saya kasih ke siapa2 (hihi, gak pernah ngirim lamaran soalnya).
jadi saya ndak sempat ngerasin zona nyaman. ato jangan2 kerjaan wirausaha saya skrg ini malah zona nyaman saya? hehe.. ndak tau lah.
sedikit joke tentang berwirausaha dari nol.
http://pitra.dagdigdug.com/2008/02/13/jangan-mau-jadi-entrepeneur
March 12th, 2008 at 10:14 am
Kalau saya dulu, setelah lulus sebagai Dokter Hewan dari FKH Unair, langsung bekerja di Pupuk Kaltim, pada Divisi Pertanian dan Peternakan Terpadu, di Bontang Kaltim.
Dan, saya diangkat sebagai Kepala Divisi Kesehatan dan Produksi Ternak, dengan fasilitas Mobil, dan Rumah Tinggal dg isi komplit di Kompleks Pupuk Kaltim dan gaji tinggi dibandingkan yg sekelas di Jawa, yang seperti Kerajaan Tersendiri di wilayah Bontang, berhadapan dengan Kerajaan Badak LNG.
Itupun saya hanya bertahan di sana selama lebih kurang 1,5 tahun saja. Alasan saya? Pertama, saya ini maunya cepat jadi Presiden Direktur. Kan kelihatannya lama banget kalau saya berharap jadi Presdir Pupuk Kaltim. Oleh sebab itu saya harus mengangangkat diri sendiri jadi Presiden Direktur…di perusahaan saya sendiri.
Alasan kedua, karena saya belum punya pacar…hehehe… Sehingga saya harus cepat pulang ke Jawa, karena saya nggak mau punya pacar orang dari etnis luar Jawa, khawatir nggak bisa nyambung…
Nah, dua alasan kuat inilah yang menjadikan saya berani ke luar dari “comfort zone” saya, sebagai karyawan yang berfasilitas bagus di perusahaan BUMN besar sekelas Pupuk Kaltim itu.
Memang, jika anda ingin terjun ke bisnis mandiri jadi entrepreneur, maka anda harus punya alasan kuat untuk memulainya. Tanpa alasan kuat menurut anda sendiri, maka itu akan menyulitkan anda untuk berani terjun bebas sebagai pengusaha.
Wah..kepanjangan nggak ya. Btw, ini hanya sekelumit pengalaman saya pribadi aja. Semoga bisa menambah wawasan untuk menjadi pengusaha sukses.
Terimakasih,
Wuryanano
March 24th, 2008 at 1:14 am
salam kenal pak. jadi inget pepatah “the enemy of a great life is a good life”. zone nyaman itu enak apalagi dgn posisi yg mantap. tp sesuai pepatah itu, lbh baik keluar dari zone mapan/nyaman utk mendapatkan great life dgn cara yaitu jadi enterprenuer.
saya sebenarnya sudah mulai pindah kuadran cuma msh kepengen aja kerja di kantor skrg krn bisa cuci mata
penghasilan jg lbh byk dr internet & puluhan kali lipat lbh gede dr gaji skrg. krn kerja dgn gaji sedikit lah yg mungkin bisa dibilang zone ngga nyaman, mknya saya ngga mo keluar dl. mungkin yg bikin nyaman itu adalah penghasilan dr bisnis online 
March 24th, 2008 at 10:06 am
salam kenal pak nukman. perlu keberanian untuk memulai suatu bisnis dan meninggalkan sesuatu yang menjadi keseharian kita. ada tips untuk bisa semangat terus ketika dihadapkan suatu kegagalan? terus terang saya baru berani meninggalkan pekerjaan lama saya..
April 23rd, 2008 at 8:16 pm
Saya juga ngalamin hal seperti itu 3 tahun yang lalu, saat itu saya keluar dari zona nyaman sebagai GM di sebuah property di Bali. Jawabannya simple saja Bang Nukman, saya merasa zona nyaman saat itu semu belaka - sampai kapan? tentu tidak akan bertahan selama yang kita mau, saat itu saya yakin bisa menciptakan zona nyaman sendiri yang lebih langgeng dengan penjadi pengusaha - and thanks God - I am here now!
June 19th, 2008 at 3:37 pm
Saya malah udah ama gak kerja pada orang lain… mungkin udah gawan bayi ya… kalo kerja ikut orang inginnya kurang puas aja… ya udah keluar aja bikin usaha sendiri hehehe…
November 1st, 2008 at 10:09 am
Manusia memiliki keinginan yang tak terbatas, ketika apa yang diraihnya dalam satu hal telah sampai pada puncaknya, maka Ia pun menginginkan sesuatu yang lain berada di puncak juga. Ketika manusia sudah tidak memiliki keinginan maka sebenarnya ia pun telah berada di liang lahat. Saya pikir ini bukanlah masalah zana nyaman atau bukan, tetapi lebih pada “passion”.