Ngawur di Media Sosial? Jangan.

PERKEMBANGAN media sosial di dunia sangat masif dan dampaknya berbeda di setiap negara. Revolusi Arab Springs yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah menjadi contoh dahsyatnya pengaruh media sosial. Di Indonesia dampak media sosial semakin memanas jika dimanfaatkan sebagai alat politik dan saling serang sehingga tak sedikit dampak negatif dirasakan di dunia nyata akibat ‘peperangan’ di media sosial.

Melihat fenomena dan perkembangan media sosial, Media Indonesia mewawancarai Nukman Luthfie yang merupakan salah satu pengamat media sosial yang terkemuka di Indonesia. Berikut kutipan wawancaranya.

Penggunaan media sosial saat ini seperti tidak terkendali dan cenderung digunakan untuk saling menyerang. Bagaimana anda melihat fenomena tersebut saat ini?

Jadi, awal lahirnya media sosial, dimanfaatkan orang untuk aktualisasi diri sehingga dia lebih banyak memunculkan apa pun mengenai dirinya sendiri, misalnya karirnya, hobinya, keluarganya, cita-citanya, pokoknya semua diceritakan. Kedua dimanfaatkan untuk memenuhi keinginan bersosialisasi, menambah pertemanan, dan percakapan yang terbentuk percakapan antarteman dan itu masih menarik, lucu, guyub. Ketiga memunculkan gerakan-gerakan sosial, misalnya gerakan Indonesia Berkebun, orang-orang yang rumahnya sempit-sempit bisa untuk ditanami dan berkebun. Lalu ada gerakan Indonesia Mengajar, dan banyak lagi yang lainnya.

Ketika memasuki era pilpres, media sosial mulai dimasuki hal-hal yang berbau politik. Makanya mulailah pertengkaran, berbeda pendapat, lalu mulailah menyusup berita-berita palsu, fitnah, dan lain-lain. Itu mulai pilpres, zamannya pak Prabowo dan Pak Jokowi. Kemudian mulai mengeras lagi di pilkada DKI yang dulu (putaran pertama), sekarang pilkada DKI kemarin (putaran kedua) itu luar biasanya dampaknya antara pro dan kontra benar-benar sangat tegas batasnya.

Kecenderungannya akan mengeras tahun depan, ada pilkada di Jawa Barat dan Jawa Timur, kemudian memuncak pada Pilpres 2019. Kita tidak bisa menghindari karena media sosial adalah ruang terbuka, sehingga apa pun interest publik akan masuk ke sana.

Kekhawatiran perseteruan di media sosial ke dunia nyata sepertinya direspon oleh pemerintah. Mulai dari kembali menghidupkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sampai munculnya fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muamalah Medsosiah. Apa pendapat Anda tentang langkah pemerintah tersebut? Terlambat atau sudah tepat? Contohnya sampai menimbulkan Persekusi yang terkini.

Kalau mengenai persekusi, polisi sudah turun tangan misalnya Kapolres Solok sudah diganti, itu menunjukkan kepolisian keras terhadap hal ini. Di Jakarta juga pelakunya sudah ditangkap. Memang agak terlambat tapi polisi sudah bekerja keras agar tidak melebar ke mana-mana,
Tetapi tidak cukup, karena yang terpenting adalah tindakan orang yang ‘memancing’ di media sosial itu harus dihindari. Persekusi memang tindakan yang melanggar hukum, tapi karena ada pemicunya, yaitu postingan yang ngawur-ngawur itu.

Publik harus diedukasi supaya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Salah satu caranya melalui fatwa MUI itu, tapi sebenarnya yang melakukan edukasi ini cukup banyak, dari pemerintah, lembaga nirlaba, beberapa individu juga, bahkan beberapa perusahaan juga mengedukasi karyawannya supaya tidak ngawur di media sosial, mereka punya peraturan perusahaan terkait dengan media sosial dan itu ada di beberapa perusahaan.

Isu-isu di medsos sepertinya hanya terjadi di daerah perkotaan dan kurang tergaung di daerah. Apa memang seperti itu?

Ini semua terasa di semua wilayah. Contohnya Pilkada DKI, yang bertengkar tidak hanya Jakarta. Dari peta pertengkarannya itu sampai ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, bahkan ke luar Jawa karena merasa Jakarta ini miliknya Indonesia.

Langkah apa yang harus dilakukan pemerintah baik dalam jangka pendek atau jangka panjang untuk menjaga kerukun­an bangsa dari fenomena ini?

Kalau untuk mempersatukan, upaya jangka pendek ya hukum ditegakkan. Terpenting literasi masyarakat di media sosial, mereka harus teredukasi dengan baik. Tugas jangka panjangnya pemerintah adalah meningkatkan literasi di media sosial. Itu pekerjaan yang panjang, termasuk dengan MUI. MUI tidak cukup hanya mengeluarkan fatwa, tapi MUI harus bekerja keras untuk mensosialisasikan fatwa ini, supaya segera digunakan para ulama dan diikuti para umat Islam yang masih menghargai MUI. Sosialisasi itu tidak cukup sekali atau dua kali, tapi panjang, misalnya seperti khotbah Jumat harus dilakukan setiap saat, karena banyak orang lupa. Pengguna media sosial kebanyakan lupa sebenarnya mereka berada di ruang publik, makanya harus diingatkan berulang-ulang.

Seberapa khawatir sebenarnya kita seharusnya memandang kondisi yang terjadi di media sosial sekarang ini? Maksudnya segala perseteruan di media sosial sebenarnya menggambarkan yang terjadi di kehidupan nyata.

Menggambarkan itu iya, tapi dunia nyata ada batasan dengan media sosial. Mungkin segala macam curahan kebencian, ungkap­an kebencian itu disampaikan melalui media sosial dan itu bisa menjadi cerminan masyarakat. Tapi biasanya offline itu lebih adem, karena di online orang jauh lebih keras dan lebih berani. Jadi jangan terlalu khawatir dengan dunia media sosial, perlu diingat ada jarak antara media sosial dengan dunia offline, meskipun begitu tidak perlu terlena.

Makanya pemerintah harus bekerja keras, hukum ditegakkan, edukasi dijalankan, konten positif diperbanyak. Kita sebagai pengguna media sosial, sebaiknya memanfaatkan sebesar-besarnya segala benefit di media sosial untuk pribadi kita sendiri, kebaikan karir kita, maupun memperba­nyak network kita, untuk apa berantem yang tidak-tidak sementara manfaat media sosial itu banyak tapi kenapa harus terjerembap ke hal-hal yang negatif di media sosial.

Ada ungkapan lama soal mana yang lebih dulu antara ayam atau telur. Kalau kita melihat permasalahan sosial saat ini dengan pengandaian ungkapan itu, menurut Anda mana yang ayam dan telurnya, apakah isu di media sosial dulu atau isu di dunia nyata?

Media sosial itu cuma kanal sehingga secara fisik tidak bisa dibenahi. Kalau kita pegang media sosial begini kan langsung menyambung ke online jadi sama saja. Jadi isu bisa dari offline maupun online, tidak ada bedanya.

Baru-baru ini Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan bahwa perlu internet bentuk baru yang bisa dikontrol. Menurut Anda apakah dunia memang perlu itu?

Itu alasannya sekarang media sosial menjadi tempat terhebat dalam penyebaran berita-berita bohong, tempat para teroris bisa menyusupkan ide-ide radikalisme, teroris merekrut banyak orang untuk menjadi bomber mereka. Ini memang sisi negatifnya bermunculan belakangan ini. Itu sebabnya beberapa negara mengusulkan supaya para pemilik media sosial ini seperti Twitter, Facebook, Instagram itu juga berperan serta dalam menciptakan dunia yang lebih baik.

Saya bisa memahami banyak negara merasakan hal itu, Amerika Serikat, Eropa, dan sekarang kita Indonesia. Kalau para pemilik media sosial itu bisa mendapatkan rezeki dari kita, dari iklan misalnya, kenapa mereka tidak mau memberikan yang terbaik bagi kita supaya kita dapat bermedia sosial dengan tetap menyenangkan dan tidak merugikan negara. Makanya ketika ada gagasan itu, saya mendukung penuh tetapi tidak boleh melanggar privasi pengguna.

Bagi Anda, pengalaman paling unik bermedia sosial seperti apa? Pernah terkuras energinya karena bermedia sosial?

Komentar nyinyir itu biasa saja, twitt war juga biasa, saya sudah pernah merasakan. Kalau saya memang hidupnya di media sosial jadi tidak ada yang namanya menguras energi dan waktu, jadi santai saja.

Bagaimana untuk menjaga kewarasan dalam bermedia sosial?

Pertama yang paling gampang ialah, ketika bermedia sosial harus sadar betul itu ruang publik. Sama seperti kita berdiri di depan banyak orang, kita ngomong pasti dijaga dan kita tidak mungkin berbuat kriminal di depan banyak orang. Jadi senakal-nakalnya kita tapi ketika banyak orang dan ada yang melihat maka kita akan berusaha untuk mengontrol perilaku kita. Media sosial juga seperti itu. Meskipun kita pegang ponsel sendirian, jangan lupa kita itu ditonton banyak orang.

Kedua, hindari waktu-waktu yang kita mudah terjebak keliru, misalnya bangun tidur buka ponsel dan buka media sosial, itu sebenarnya kita belum sadar benar.

Ketiga adalah dalam kondisi menyopir, taruh ponsel karena kita harus konsentrasi. Begitu membuka Whatsapp misalnya, bisa memberikan pengaruh memberi komentar yang ngawur dan akhirnya menyesal kemudian.

Keempat, pakailah akun yang resmi dan nyata, pakai akun yang sesuai dengan nama kita sendiri, pakai alias pun tidak apa-apa asal identitasnya jelas, yaitu kita sendiri.

Anda punya berapa akun media sosial? Seberapa aktif? Berapa lama anda tahan tidak terkoneksi media sosial?

Saya sehari bisa 5 jam di media sosial, kalau rata-rata orang Indonesia paling 3 jam. Tapi itu karena pekerjaan saya. Saya sangat aktif di Twitter, sehari bisa posting 70 kali rata-rata, di Facebook minimal posting 2 kali sehari, Instagram juga minimal 2 kali sehari, Whatsapp, ya, karena pekerjaan. Namun, itu semua untuk kerja. (M-4)

Jangan Ngawur di Media Sosial.
Media Indonesia, 11 June 2017
Penulis: Rizky Noor Alam

Related posts

Leave a Comment