Percuma Bersembunyi di Balik Akun Alter

Suatu ketika, sekian tahun lalu, saya mendengar percakapan para pemegang akun media sosial yang mengais rejeki dari pertikaian politik di negeri ini. “Akun-akun alter itu menyulitkan polisi melacak kita,” kata salah satunya, jumawa. Mereka memiliki banyak akun samaran, akun pseudo, akun anonim, akun alter (apapun sebutannya, yang jelas itu bukan akun dengan nama aslinya), yang sengaja dibuat dan dimanfaatkan untuk menggiring opini, termasuk fitnah jika diperlukan, sesuai dengan permintaan yang membayarnya.

Penjahat selalu lebih pintar daripada polisi. Itulah kredo yang mereka pakai. Mereka mengenal Internet lebih awal daripada polisi. Mereka menggeluti media sosial lebih awal dan mendalam daripada aparat hukum. Mereka piawai mengelabui berbagai pihak dan selalu lolos dari jeratan hukum.

Namun perlahan, para pelanggar hukum yang bersembunyi di balik akun palsu tertangkap satu per satu. Yang cukup legendaris adalah akun Twitter TrioMacan2000, yang semula diidolakan sebagai akun pengungkap kebobrokan pejabat yang tak mungkin dibuka oleh media arus utama, namun di kemudian hari ternyata itu hanyalah jalan menjadi akun pemeras.

Polisi kini semakin pintar dan didukung dengan perangkat yang memadai. Penjahat tentu saja juga semakin pintar. Mungkin saja penjahat digital lebih pintar dari polisi. Namun kini sudah banyak ahli forensik digital yang bisa dimanfaatkan jika polisi kesulitan menelusuri pemilik asli yang melanggar hukum.

Jangan lupa, sepintar-pintarnya penjahat berlindung di balik akun palsu, ia manusia juga. Ia eksis. Ia ingin dikenal. Ini yang kadang menjebak ia untuk muncul di publik.

Menemukan penjahat digital saja kini bukan hal yang sulit, apalagi hanya menemukan pemilik akun-akun penyebar kebencian. Kemarin misalnya, Bareskrim menangkap pemilik akun alter di Facebook yang mengedit foto Jokowi dan menebar kebencian.

Tidak semua akun  samaran bertujuan negatif. Banyak akun alias yang keren dan bermanfaat untuk banyak orang. Mereka rajin membuat konten-konten positif.  Namun ada yang bersembunyi di balik nama samaran untuk melanggar hukum. Angkanya melonjak saat ada peristiwa politik, terutama Pilkada dan Pilpres. Jika niatnya seperti itu, berpikirlah ulang.

Percuma bersembunyi di balik akun palsu untuk berbuat negatif atau melangar hukum. Jejak digital dan jejak non-digital bisa dilacak dengan ilmu forensik.  Mending, gunakan media sosial sebaik-baiknya untuk kehidupan kita. Banyak hal positif bisa kita lakukan dan kita petik hasilnya. Tentu saja, mengkritik penguasa atau pemerintah, tetap perlu kita lakukan. Itu hak rakyat. Tidak perlu takut mengkritik. Tapi menfitnah, membuat kabar bohong, menebarar kebencian, memicu SARA dan segara tindakan yang melanggar hukum, jangan.

*sumber gambar di sini.

Related posts

4 thoughts on “Percuma Bersembunyi di Balik Akun Alter

  1. Lebih baik berhati-hati deh kalau sekarang.
    karena teknologi pihak yang berwajib juga bukan lagi bisa di anggap remeh

  2. yang saya sebel itu pak.. masih ada yg ritwit akun pseudo tsb. sy kdg mikir yg meritwit itu beneran kpancing atauuu anak2 ahensi yg pengen mbantu meramaikan kicauan..

  3. Terkadang kepikiran untuk membuat akun Alter juga Mas.. Tapi dipikir-pikir, kok rasanya jahat banget..

  4. Tetap saja yang trio macan tidak bisa diketahui siapa yang berada dibaliknya, setidaknya begitu menurut putusan Pengadilan

Leave a Comment