Beginilah Start Up Dimulai dan Kemudian Berkembang

Siapa yang tak tahu Mark Zuckerberg? Founder Facebook, yang saat ini dihuni 1,5 miliar orang di seluruh dunia, ini begitu terkenal dan menjadi pujaan media, wajah dan profilnya dibahas di mana-mana.

Tahukah kamu siapa Peter Thiel? Namanya tak sepopuler Mark, meski CEO Clarium Capital ini sebenarnya juga co-founder raksasa bisnis digital Paypal. Tapi dialah pendana awal raksasa jejaring sosial yang sudah dipakai separuh penduduk bumi ini. Peter Thiel mempertaruhkan dananya sebesar US$ 500.000 pada Juni 2004.

Facebook pun selanjutnya mendapatkan pendanaan dari berbagai investor lain, berkembang pesat dan kemudian masuk ke bursa saham pada tahun 2012 untuk mendapatkan dana yang jauh lebih besar.

Tapi tahukah kamu siapa Venky Harinarayan dan Anand Rajaraman. Sangat wajar jika kedua pria ini tak dikenal publik. Namun mereka inilah salah satu tonggak sejarah penting meraksasanya Facebook. Merekalah yang “diam-diam” mendanai Facebook di tahap awal, sebelum investor sekelas Peter Thiel masuk. Investor yang masuk dalam senyap di saat awal ini biasanya lebih banyak berbasis kepercayaan terhadap masa depan gagasan yang dilontarkan sang founder, tanpa ribet dengan hitung-hitungan bisnis, disebut sebagai angel investor.

Facebook adalah sebuah kisah besar tentang bagaimana sebuah ide digodok dan dieksekusi founder, dipupuk angel investor, lalu tumbuh berbunga harum yang menarik banyak investor yang membantunya berkembang hebat.

Founder Facebook sesungguhnya bukan hanya Mark. Masih ada empat lainnya yang waktu itu teman kuliah Mark, yaitu Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. 

1382732587-lean-startup-methodology

Di negara yang lingkungan pendanaannya sebagus di Amerika Serikat, tak sulit bagi Facebook mendapatkan angel investor dan investor. Di Indonesia, meski tak sesulit lima tahun lalu, meyakinkan investor, apalagi yang domestik, perlu kerja ekstra. Kuncinya ada di founder.

Untuk menarik minat angle investor dan investor, founder tak cukup dengan berbekal gagasan. Founder harus bekerja keras dan cerdas membayai sendiri pengembangan produknya, sebelum menemukan/ditemukan angle investor. Mereka berani keluar dari zona nyaman sebagai karyawan atau profesional bergaji besar, untuk membangun dan membiayai gagasannya. Tak jarang, para founder ini sampai mengagunkan harta bendanya sebagai modal awal.

Para founder ini mempertaruhkan harta dan masa depannya di gagasan dan produk yang dikembangkannya dengan risiko ini: berkembang atau mati.

sumber foto: brainscape.

Related posts

4 Thoughts to “Beginilah Start Up Dimulai dan Kemudian Berkembang”

  1. Bukan berarti menjadi start up di Indonesia tak mungkin terwujud, karena sekarang mulai banyak vendor-vendor besar yang menyediakan fasilitas untuk para start up berani mengekskusi ide-idenya. Bahkan mereka menyediakan bootcamp selama 3 bulanan untuk menciptakan habitat yang ketat dan lengkap.

  2. Tulisan yang menarik, Om Nukman..
    Semoga bisa meniru jejak sukses para unicorn-startup. ^_____^

  3. Info yang menarik, karena kita terkadang tahu suksesnya saja tapi tidak mau tahu perjuangan awalnya. Moga kita bisa lebih sukses lagi …

  4. Apakah ada ukuran batas waktunya ya Pak? misalnya kalau sudah tiga tahun lebih maka jalannya sudah benar?

    terima kasih

Leave a Comment