Tak Ada yang Tertutup di Media Sosial

Path, sosial media yang hanya menampung 150 teman (kini sudah diperluas menjadi 500 teman) dianggap sebagai sosial media yang asik untuk menjadi diri sendiri, tak perlu jaim, boleh nyampah, serta melakukan hal-hal yang dianggap tak pantas di media sosial lain seperti Facebook, Twitter atau Google+. Benarkah?

Dulu, bisa jadi benar. Dengan maksimal 150 orang teman terdekat, kita bisa bicara apa saja, blak-blakan, dengan gaya bahasa yang sebebas mungkin. Persis perilaku kita ketika ngerumpi hanya dengan teman-teman dekat. Bebas. Mau mengumpat pun nggak masalah. Paling teman-teman kita tertawa geli. Itu sebabnya, Path menjadi semacam “jalan keluar” bagi pengguna Facebook, Twitter, atau Google+ yang tak lagi bisa bebas memposting sesuatu dengan gaya seronok, karena tak semuanya yang di Facebook dan Google+ itu teman dekat, tak semua follower Twitternya itu lingkaran dekatnya.

Tapi, Path sendiri memberi peluang untuk menjadi sosial media yang “lebih terbuka” dengan fasilitas share ke Twitter dan Facebook. Tak sedikit yang menulis status di Path lalu menyebarkannya ke Twitter dan Facebook.

Nah, yang diluar dugaan adalah, perilaku penggunanya. Dalam kasus-kasus tertentu, pengguna Path meng-capture status pengguna Path lain, menjadi file image, lalu disebarkan ke media sosial lain sehingga menviral, seperti yang terjadi baru-baru ini.

 

sumber gambar: wrcpc

Pikir Dulu.

Apaboleh buat, dengan perilaku media sosial yang seperti itu, tak ada yang tertutup di media sosial. Tak ada lagi tempat untuk “semau gue” di media sosial. Meski secara tata krama, tak pantas menyebarluaskan status Path ke sosial media lain, tetap saja sulit mencegah penyebaran seperti itu.

Maka saya teringat pada nasehat ini: “Think Before You Speak”.

Pikirlah terlebih dulu sebelum meng-update status di Facebook, di Twitter dan media sosial lain.

Dulu, posting di Path bisa semau gue, kini pun mesti mendengarkan nasehat itu.

Tapi, ada yang jauh lebih penting: “JAUHI media sosial saat kamu sedang marah, saat kamu sedang geram.”

Bahkan di offline saja, saat marah kita sebaiknya diam agar tak keluar kata-kata yang kemudian kita sesali. Apalagi di media sosial, yang berpotensi menvirtal, penyesalan kita akan lebih mendalam.

 

Jangan Menyebar Kebencian.

Selain itu, tak ada gunanya kita ikut menyebarkan status-status geram orang lain di media sosial karena orang lain ikut menyebarkan, karena bisa saja persepsi kita keliru. Belum tentu orang yang sedang geram, menumpahkan emosinya di media sosial, bermaksud menghina orang lain, ras tertentu atau apapun itu. Bisa saja ia hanya kesal, pingin marah, tapi tak terkendali, kemudian menyesal dan minta maaf.

Buat apa kita menyebarluaskan sesuatu yang kita anggap menghina padahal belum tentu?

Related posts

14 Thoughts to “Tak Ada yang Tertutup di Media Sosial”

  1. Aam

    Setuju banget sama om nukman, saya yang selalu apatis dan silent reader pun jadi terpancing ikut komen dan menyebarkan kasus Florence ini

  2. bee

    Kasus2 seperti ini, hanya terjadi pada kalangan remaja atau termasuk dewasa juga om? Kalo kalangan remaja, rasanya masih bisa dimaklumi mengingat kendali diri mereka masih kurang. Kalo kalangan dewasa, ya konyol sih. Masa’ adab mendasar seperti ini masih harus diajarkan juga? Ntar ada kursus media sosial dong. 😀

    1. lha dua kasus yang terjadi (Florence di SPBU Yogya dan Dinda di Commuterline Jakarta) itu dewasa semua

      1. bee

        Oh gitu… maaf saya kurang mengikuti berita2 gak penting. Maklum, bukan pengamat media sosial. 😀 Lah, kalo begitu, berarti perlu dibikin kursus media sosial dong? Peluang bisnis nih! *bingung, mau senang apa sedih* 😀

        1. jangan-jangan nggak baca beritanya bahwa Flo itu mahasiswi S2, yang artinya sudah dewasa?

  3. Sepakat pak.

    Namun sejumlah studi justru menyebut : twit/status yang mengundang emosi JAUH LEBIH CEPAT menjadi viral, dibanding yang datar2 saja 🙂

    Studi itu mungin juga bisa menjelaskan kenapa status/twit yang menebar aura kebencian/emosi/marah lebih cepat menyebar (Berger, 2013)

    1. makanya kalau mau tenar di media sosial, buatlah twit/posting yang kontroversial.
      Itu sudah dilakukan oleh beberapa politikus dan artis.
      Dan BERHASIL menarik perhatian lalu menviral, meski tone-nya negatif.
      Tapi bagi yang pintar, tone negatif bisa diubah jadi positif

  4. kata-kata ini :

    “Bahkan di offline saja, saat marah kita sebaiknya diam agar tak keluar kata-kata yang kemudian kita sesali. Apalagi di media sosial, yang berpotensi menvirtal, penyesalan kita akan lebih mendalam.”

    jadi lebih banyak berhati-hati untuk update 😀

  5. benar sekali Pak Nukman, perlu sekali berhati-hati dalam bermedia sosial….
    Mulutmu Harimaumu masih tetap berlaku di media sosial ternyata….

    1. apa yang berlaku di kehidupan sosial (offline) biasanya juga berlaku di kehidupan media sosial (online)

  6. […] ini terinspirasi dari artikel yang ditulis om Nukman dalam blognya dan studi dari Beihan […]

  7. retno

    Bgm kita menyikapi ini semua… dulu ketika blm ada internet kita bebas mengutarakan uneg uneg…. seperti pepatah bilang “the man behind the gun” nah tinggal bgm kita dlm menggunakannya.

  8. Saya setuju Mas, biar bagaimanapun ada tata cara berkomunikasi. Tidak saja bagi yang menulus tapi juga yang ingin berbagi.

    Sayangnya masyarakat dan pemerintah berat sebelah dalam menerapkan aturan dan sanksi sosial. Contoh, saat kampanye pilpres kemarin, bukannya saling fitnah dan penyebaran fakta yang tidak jelas sangat nyata sekali. Bahkan penulis terkenal pun termasuk yang menyebarkan fitnah – jika dilihat dari sisi lawan -.

    Nah, hal-hal seperti itulah yang akhirnya melegalkan pendapat, boleh-boleh saja dong sumpah serapah dilontarkan di media sosial. Toh saya melakukannya di halaman saya bukan halaman milik orang lain.

    Rasanya kita masih harus banyak belajar dari negara maju yang sudah lama menggunakan media sosial untuk segalanya.

  9. terima kasih info-nya Pak.

    Bagaimana caranya agar ketenaran kita di media sosial itu baik dan berkelanjutan ya Pak?
    thank

Leave a Comment