Baca Dulu, Sebarkan Kemudian

Isu negatif dan hitam ternyata bisa beredar begitu cepat di media sosial ini. Fenomena ini terasa makin kencang pada saat Pilpres 2014. Hampir setiap hari ada saja berita negatif, bahkan informasi hitam tanpa fakta, dikemas dan lalu menyebar begitu cepat dan luas melalui Twitter maupun Facebook.

Ada beberapa faktor yang mendukung itu. Antara lain:

1/ Lebih akrab dengan media sosial daripada media lain.

Di era media sosial ini, penggunanya, terutama yang menggunakan ponsel pintar, nyaris tak lepas dari Facebook atau Twitter. Dengan ponsel pintar yang dilengkapi aplikasi Twitter dan Facebook serta koneksi internet yang baik, di mana saja mereka bisa membaca lini masa Twitter atau news feed Facebook dan berinteraksi.

2/ Sumber informasi dan berita ada di media sosial.

Di era media sosial ini, semua media memiliki akun Twitter (dan Facebook), dan menyebarkan informasinya via akun-akun tersebut. Itu sebabnya, sumber informasi/berita pengguna media sosial itu utamanya justru dari Twitter/Facebook dengan men-follow atau me-like akun media-media tersebut.

3/ Mudahnya pengguna menyebarkan informasi

Di Twitter dan Facebook, menyebarkan informasi itu sangat sangat mudah. Tinggal satu kali klik ReTweet, langsung tersebar ke seluruh follower Twitternya. Tinggal satu kali klik Share, langsung tersebar ke seluruh teman dan follower Facebooknya.

4/ Membaca judul tanpa membaca isi.

Sayangnya kemudahan menyebarkan informasi itu tidak ditunjang dengan perilaku yang sesuai. Sebagian besar pengguna Twitter/Facebook tidak mengklik link berita. Mereka hanya membaca judulnya. Hanya sekitar 2% link di Twitter/Facebook yang diklik pembacanya.

Sangat mungkin, yang meReTwit atau men-Share berita juga belum membaca isinya.

5/ Isi belum tentu sesuai judul.

Untuk meningkatkan trafik, media-media online membuat judul yang cenderung bombastis atau provokatif. Judul berita yang seperti itu biasanya menarik minat pembaca untuk mengkliknya. Soal isi kemudian tidak sesuai judul, kadang terlupakan oleh penulisnya.

Nah, khusus untuk informasi-informasi negatif, juga untuk kampanye hitam, judul dibuat sebombastis mungkin, sehingga bahkan sebelum membaca pun, kalau bisa pengguna media sosial langsung menyebarkannya.

6/ Apakah pengguna Internet membaca berita/tulisan di online kata demi kata? TIDAK.

Mereka melihat dengan cepat halaman yang dibukanya, mencari beberapa kata atau kalimat yang dibutuhkan. Mereka melakukan scanning, bukan reading, bukan membaca kata demi kata. Maka, bagi yang belum ahli scanning atau skimming, bisa jadi salah menyimpulkan isi berita.

 

Maka, untuk mencegah penyebaran kampanye hitam, menumpas sumber/pembuat kampanye hitamnya saja tidak cukuk. Perlu ada upaya mendorong publik agar lebih berhati-hati dalam membaca dan menyebarkan info.

Sederhana sebenarnya caranya:

1/ Jika berniat untuk menyebarkan ke media sosial, baca judulnya, baca juga isinya.

2/ Cek sumbernya (URL-nya) jika isinya meragukan. Ini penting mengingat di saat kampanye hitam merebak, ada saja yang menyamar sebagai portal berita resmi.

Related posts

4 Thoughts to “Baca Dulu, Sebarkan Kemudian”

  1. Betul sekali tuh sarannya.. kadang kita tidak sadar dengan melakukan share, kita bisa dianggap sebagai penyebar berita. Kalau bagus sih tidak apa-apa. Tapi kalau berita fitnah? Berabe deh..

  2. Banyak kasus-kasus BLOG/Sosmed semasa Pilpres kemarin yang harus dibedah, karna peran media yang saling bersebrangan Pemrednya saling serang informasi, masing-masing mempunyai follower yang sama-sama banyak, sama-sama ingin mempengaruhi psikologi para pembacanya.

  3. […] ini kok ya sama dengan pengamatan seorang neterpreneur, Nukman Lutfie, dalam blognya, ia mengatakan bahwa di Facebook & Twitter, hanya 2% link yang diklik pembaca, sisanya hanya […]

  4. Untuk itu kita yang sebagai pembaca jangan mudah kena tipu gara2 hal yang belum pasti.
    Terimakasih

Leave a Comment