Cerdas Informasi di Saat Banjir Informasi Menyesatkan

Salah satu indikator kian memanasnya pertempuran dua kubu capres-cawapres saat ini adalah banjirnya informasi yang menyesatkan dari berbagai penjuru, baik dari media konvensioanal, media/situs-situs baru abal-abal yang memang dibuat untuk kampanye hitam saja, hingga para petarung di media sosial.
Saya perhatikan, kian banyak pengguna media sosial yang eneg alias muak dengan fenomena ini. Tak cuma di Facebook, tapi juga di Twitter.
infodiet
Maka, ada yang menyarankan untuk diet informasi, bahkan sampai puasa informasi.
Saya setuju dengan diet informasi, tapi tak setuju dengan puasa informasi karena bisa ketinggalan isu-isu penting.
Diet informasi intinya adalah cerdas informasi, yang kira-kira seperti ini:
1/ Saring informasi hanya dari sumber-sumber terpercaya atau teruji jurnalistiknya.
2/ Buang atau jangan konsumsi sumber-sumber informasi yang tidak bisa dipercaya.
3/ Kunyah dulu sebelum ditelan. Gunakan akal sehat untuk mengunyahnya. Telan jika sudah yakin betul. Ini berlaku untuk semua sumber, meskipun itu dari sumber terpercaya.
Dengan cerdas informasi ini, otak kita sebisa mungkin hanya mengonsumsi informasi-informasi yang sehat dan bermanfaat.
Cukupkah?
Cukup bagi diri sendiri. Tapi untuk publik, teman-teman di Facebook maupun di Twitter, akan lebih baik bila cara hidup cerdas informasi ini disebarkan ke teman-teman di media sosial.
Atau, paling tidak, kita sendiri tidak menjadi bagian dari yang ikut menyebarkan informasi-informasi yang menyesatkan itu, yang berisiko membuat teman-teman kita jadi kurang sehat.
Selamat cerdas informasi!
*sumber gambar di sini.

Related posts

7 Thoughts to “Cerdas Informasi di Saat Banjir Informasi Menyesatkan”

  1. dan saya berhenti facebook sementara hingga pilpres selesai 🙂

  2. Terima kasih pencerahannya Pak Nukman Luthfie,

    Bagaimana kalau kebanyakan media isinya informasi seperti itu?

    Thanks

    Wadiyo

  3. setuju dengan nomor 3 🙂

  4. Buddy Sutarno

    Saya kira kesimpulannya kok cuma di sini :

    “3/ Kunyah dulu sebelum ditelan. Gunakan akal sehat untuk mengunyahnya. Telan jika sudah yakin betul. Ini berlaku untuk semua sumber, meskipun itu dari sumber terpercaya.”

    artinya (yg ini asli dari saya) :

    sumber terpercaya pun bisa tidak terpercaya
    sebaliknya sumber yg tidak (atau belum) terpercaya, bisa jadi memberi informasi benar

  5. Sy pernah merasakannya di sosmed, pak 🙂 Gara2 belakangan banyak bermunculan informasi menyesatkan, terutama soal kampanya hitam/kampanye negatif, seringkali yg tadinya teman sekarang jadi lawan. Padahal sebenarnya kita tidak ada kepentingan sedikitpun terhadap salah satu kubu (bukan sebagai tim sukses misalnya). Tapi kita kadang jadi terpengaruh jg oleh info2 sialan itu. Benar, harusnya ‘dikunyah dulu sebelum ditelan’. kalau ga dikunyah dulu, jadinya jelek di pencernaan 🙂

    Makasih pak pencerahannya..

  6. Alguri

    dikunyah, ditelan, dikeluarkan lewat pantat #kentut

  7. Terimakasih sudah share artikelnya.
    Apa alasan netizen menyebarkan isu2 yang belum di ketahui faktanya..?

Leave a Comment