Berpola Pikir Marketing

Dulu, pengguna Blackberry, saat bertemu temannya yang juga pengguna ponsel cerdas itu, biasanya akan saling bertanya no PIN. Setelah saling tukar PIN via BB, mereka bisa berkomunikasi via BB Messanger (BBM).  Sekarang situasi berubah. Saling pengguna BB pun kini bertanya apakah rekannya pengguna WhatsApp (WA). Aplikasi messaging ini sedang popular di kalangan pengguna BB, sekaligus pengguna platform ponsel cerdas lain seperti iPhone (iOS), Android, Windows Phone dan Nokia.

Selain WA, aplikasi messaging lain yang sedang naik daun adalah LINE, asal Jepang, yang disukai anak-anak muda karena penuh dengan karakter dan emoticon lucu-lucu dan unik. Di akhir  tahun 2012, WeChat, dari China, meramaikan aplikasi messaging di tanah air, dalam waktu singkat meraih jutaan pengguna. Kini, KakaoTalk sedang menyerbu pasar.

BBM adalah salah satu alasan utama untuk memiliki BB karena percakapannya terenkripsi, dan ekslusif hanya untuk pengguna BB. Kini, alasan utama membeli BB mulai tersaingi oleh messaging lain, yang tak kalah menarik. Lebih hebatnya lagi, messaging lain seperti WA, LINE , WeChat dan KakaoTalk itu lintas platform. Akibatnya, mereka yang bukan pengguna BB bisa berkomunikasi dengan pengguna BB tanpa harus melalui BBM.

Apa arti fenomena di atas bagi para Chief Technology Officer?

Jika sampai sesama pengguna BB pun bertanya apakah punya WA, lalu LINE, WeChat, atau KakaoTalk, itu perubahan sangat besar di sisi konsumen.

Pertama, mereka tidak lagi mengandalkan fitur utama messaging di BB karena kehandalannya mulai disaingi aplikasi messaging yang lain.

Kedua, mereka membutuhkan aplikasi messaging yang lintas platform.

Ketiga, konsumen menghadapi pilihan yang amat banyak (dalam hal ini aplikasi messaging) dan memiliki kebebasan memilih yang lebih besar.

Buat saya, faktor ketiga ini harus menjadi perhatian bagi para CTO, yang menjadi orang nomor satu pengendali teknologi perusahaan. Yang menentukan kemenangan perusahaan meraup pasar dan memuaskan pelanggan  itu bukan hanya faktor IT di back-end saja, tetapi juga di front-end. Di zaman mainframe, juga client-server, perhatian terbesar para CTO ada di back-end.  “Front-end” yang dilayani saat itu kebanyakan melayani user internal perusahaan.

Kini, yang harus dilayani adalah konsumen langsung. Yang disebut front-end itu pelanggan langsung. Dan jika ingin memenangkan pasar, kuncinya adalah memenangkan hati mereka. Biasanya yang berpikir seperti ini adalah para Direktur Marketing. Tapi, melihat fenomena BBM, WA, LINE, WeChat, KakaoTalk para CTO juga harus memiliki pola pikir marketing.

Dulu melayani pelanggan relatif mudah karena pilihan terbatas. Kini, konsumen dibanjiri oleh begitu banyak pilihan. Untuk messaging saja, kini sudah ada lima yang popular di publik, yang sulit ditandingi oleh produsen-produsen hebat. Bahkan Apple, yang perkasa dengan iPhonenya, punya Messaging sendiri, tapi tak mampu menggoyang lima messaging yang popular saat ini. Nama besar sebuah brand pun bahkan tak mampu menggoyang pasar saat konsumen memiliki kebebasan memilih yang tinggi. Bahkan Skype yang begitu perkasa di aplikasi messaging  dan voice call, kini seolah terlupakan.

Ya, konsumen kini hidup di era “pilihan nyaris tanpa batas”.  Mau nonton film? Banyak judul film yang bisa ditonton hari ini. Banyak bisokop yang bisa jadi pilihan menonton, termasuk rumah sendiri jika ada home theaternya. Atau, menonton via online, gratis. Cukup hidupkan computer, sambung ke Internet, cari film yang mau ditonton. Kini bahkan via ponsel kita bisa nonton film.

Mau apa lagi? Ambil uang di ATM? Dulu, penguasaan ATM menjadi kunci penguasaan pasar. Itu sebabnya dulu Bank Niaga menjadi pionir di bidang ini, meski kemudian pangsa pasar terbesar direbut  BCA. Tapi dengan ATM bersama, nilai tambah ATM tunggal kini mengecil. Konsumen bisa memilih ATM mana saja yg disukai untuk transaksi perbankan. Itu sebabnya bank kini berlomba-lomba mendekatkan diri ke konsumen dengan menyediakan ATM “di kamar masing-masing pelanggan” dengan online banking dan SMS banking.

Tapi kita semua tahu, konsumen memiliki pilihan lain untuk kegiatan perbankannya, misalnya e-wallet seperti Paypal dan lainnya. Bank yang begitu perkasa di transaksi konvensional, ternyata belum berperan banyak di transaksi online/e-commerce. Justru yang berkuasa itu pemain-pemain baru non perbankan yang memahami kebutuhan pelanggan seperti Paypal dan payment gateway, atau bahkan penyedia rekening bersama online,  yang kini tumbuh pesat di digital.

Jadi, dengan teknologi yang mempermudah konsumen secara langsung, pesaing bank itu bukan bank lainnya, tapi justru pemain-pemain baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Perkembangan teknologi membuat konsumen menikmati kemewahan dari inovasi-inovasi berbagai perusahaan yang sebelumnya bukan penguasa di industri IT. Dulu raja-raja IT itu seperti Oracle, IBM, SAP. Kini nama-nama itu tersingkir oleh Facebook, Twitter, Google, Youtube, Paypal, dan sejenisnya, yang memaksa perusahaan untuk mengadopsinya karena pelanggan mereka memakainya.

Sayangnya, masih banyak CTO perusahaan-perusahaan besar yang menganggap remeh Facebook dan Twitter, meski barangkali mereka faham bahwa dua media social itu kanal penting untuk komunikasi multiarah (bukan hanya dua arah) dengan konsumennya. Facebook dan Twitter masih terbatas urusan marketing (hanya pada level manager, bahkan belum sampai ke Direktur Marketing/CMO). Padahal jika diintegrasikan dengan back-end perusahaan, misalnya CRM, akan menimbulkan efek yang dahsyat untuk loyalty program berbasis aktivitas di media social, bukan hanya berdasarkan transaksi konsumen saja yang selama ini menjadi acuan loyalty program.

Tanpa mindset marketing, CTO akan sulit membangun strategi IT perusahaannya, dan tercecer di tengah persaingan yang keras memperebutkan konsumen yang berada di euforia kebebasan memilih produk/jasa.

Apa boleh buat, agar peka dengan pola pikir marketing, CTO harus menyisihkan waktu untuk memahami insight pelanggan lewat media sosial, banyak bergaul dengan orang marketing, banyak membaca tren marketing, agar strategi IT perusahaan bisa dibangun lebih ke customer oriented dan service oriented.

tulisan Nukman Luthfie ini dimuat di  INFOKOMPUTER,

Related posts

15 Thoughts to “Berpola Pikir Marketing”

  1. Dan akhirnya, dari ketatnya persaingan ini, para produsen akan terus berinovasi. Ujungnya, konsumen lah yang paling diuntungkan. Yaah, walaupun kadang bingung juga karena saking banyaknya pilihan. 😀

  2. Benar pak lutfi bahwa banyaknya aplikasi tersebut memang menguntungkan konsumen, apalagi jika konsumen tersebut juga punya ‘konsumen’ untuk bisnis yang lainnya pula. Akhirnya belakangan ini jadi agak berpikir juga bahwa menjual itu hanyalah sebagian kecil dari marketing dimana bagian lainnya masih banyak yang perlu diekslorasi. 🙂 trims

  3. Yah, mungkin mereka yg ada di perusahaan2 tsb melihat tingkat urgensi utk hal tsb masih rendah. Dgn gaji yg sama, secara personal, orang tidak mau dpusingkan dengan hal – hal baru, sementara ia sendiri merasa dgn apa yg dijalani saat ini, pekerjaan tsb sudah cukup banyak menyita waktu.

  4. Thanks pencerahannya pak,

    Malah di banyak perusahaan baik swasta maupun BUMN layanan social media Facebook, Twitter dll dimatikan saat jam kantor. Dan baru bisa diakses waktu istirahat atau selepas jam kantor.

    semoga pengmabil keputusan tercerahkan dengan artikel ini.

    salam

  5. Saya internet marketer. Dunia internet marketing makin tertantang dengan makin banyaknya media sosial yang berkembang, karena kami “dipaksa” keadaan untuk masuk ke komunitas-komunitas sosial melalui media mereka. Tks, atas postingan yang mencerahkan.

  6. Trims artikel,
    Semoga banyak manfaatnya bagi perkembangan dunia internet marketing
    khususnya di Indonesia

  7. Kini BBM pun bisa dilakukan di android. Sebagai pebisnis online, saya akui keberadaan BB sangat memnbantu saya dalam meningkatkan omset bisnis

  8. begitu luasnya dunia internet marketing, kalau yang saya tangkap dari artikel di atas, ternyata perusahaan besar pun harus update terus agar tidak tertinggal dari pesaing2 baru yang mempunyai inovasi lebih baik di era yang serba Online.

  9. Artikelnya sangat mencerahkan pak nukman.
    Memang dalam memperluas pasar bisnis mau tidak mau juga harus mengikuti pasar yang lagi ngetrend dan mengikuti pola yang ada sekarang kalau tidak ya lambat laun akan di tertinggal.

  10. keren banget,terima kasih ya mas atas berbagi ilmu nya.. salam kenal ya mas lutfi,

  11. dapat tambahan ilmu yang sangat bermanfaat sekasi
    terima kasih mas

  12. Aslinya sebagai konsumen bingung juga memilih, akhirnya pakai semua dan kadang malah tidak efektif dan tidak fokus.

  13. Bagi saya yang menggunakan teknologi itu semua sebagai salah satu sarana pendukung pemasaran — perubahan pandangan pengguna bb menjadi perhatian khusus — satu2-nya yg menjadi alasan kami masih menggunakan bb karena masih ada konsumen yg pakai bb — berbicara keuntungan saya lebih melihat trend WA akan menjulang — setidaknya bagi pemilik OL shop atau apapun yg mengandalkan fitur kirim gambar — WA sepertinya lebih unggul dari BB — jumlah gambar yg bisa dikirim dalam satu klik send di wa lebih leluasa — disamping sejauh ini lebih sdikit gangguannya — terimakasih pak Nukman — saya mengikuti pak Nukman meskipun lebih sering sebagai pengamat dan mengikuti dalam sunyi —

  14. Bagaimana pengalaman Bapak sampai pada posisi saat ini Pak? Tentu banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari perjalanan penjang itu.
    Thanks

Leave a Comment