Hidup di Era Rawan Informasi

“Sy ANI, suami sy berminat dgn rumah yg kmarin, tdi sy tlp tpi tdk bisa masuk, atatu nanti klw sdh tdk sibuk hub. lgsng ke suami sy, ini no.nya 0819blala H.Iskandar”

Saya sering menerima SMS seperti itu dengan berbagai variasi nama pengirim, no telpon dan sma suami. Teman-teman saya juga sering terima. Saya yakin tak sedikit pengguna telepon seluler yang sering mendapat SMS sejenis itu. Ini SMS penipuan, mirip fenomena SMS Mama Minta Pulsa yang merebak beberapa waktu lalu.

Pengguna telpon seluler memang sedang jadi “korban” kebocoran informasi rahasia. Selain SMS penipuan, pengguna telpon seluler juga jadi sasaran SMS iklan dan telpon dari berbagai penawaran mulai dari kartu kredit, pinjaman tunai, keanggotan hotel dan lainnya.

Dari mana mereka mendapatkan nomor ponsel kita? Banyak speklulasi mengenai hal ini. Namun, yang jelas, informasi yang harusnya bersifat rahasia saat ini mudah tersebar ke publik, dan kita nyaris tak bisa berbuat apa-apa.

Dan, tanpa kita sadari, informasi rahasia kita sekarang berada di di mana-mana di Internet. Saat ini, Facebooklah penyimpan informasi terbesar rahasia kita. Seluruh data demografis: jenis kelamin, umur,  pendidikan, dan pekerjaan secara suka rela kita catatkan di sana. Demikian juga kecenderungan kita, hobi, ngefans terhadap produk tertentu, tanpa kita sadari dicatat oleh Facebook menjadi data behavioral. Data demografis, jika dipadu dengan behavioral akan menjadi data yang amat dahsyat untuk behavioral marketing.

Sebentar lagi, data KTP kita akan tersimpan di eKTP. Lalu data-data pribadi kita lainnya, termasuk NPWP, juga akan berada di tempat yang bisa diakses via jalur publik seperti internet.

internet-security

Semuanya rawan dibobol karena bisa diakses via Internet.

Facebook, dan social media lain, serta Google, yang menyimpan data-data personal kita, akan menjaga sekuat mungkin agar tidak bobol karena perusahaan tersebut memanfaatkan data itu untuk iklan. Bahkan pemerintah AS saja sulit meminta data detil pengguna email, Facebook, Twitter dan lain-lain.

Perusahaan biasanya melindungi sehebat mungkin data pelanggannya dengan sistem keamanan berlapis, apalagi jika bisa diakses via jalur publik seperti Internet.

Pemerintah pun seharusnya juga demikian.  Tapi, pemahaman umum selama ini, pemerintah seringkali kurang perhatian dengan keamanan data seperti ini.

Pertanyaannya, jika data itu adalah data penduduk yang dikelola pemerintah, siapa yang menjaganya? Siapa yang menjaga keamanan data-data eKTP misalnya?

Dalam konteks inilah, saya memahami aktifnya Lembaga Sandi Negara mencoba masuk ke wilayah ini seperti diberitakan oleh Antara: Pramono  tegaskan Lemsaneg diperlukan untuk mengamankan informasi publik.

Menurutmu?

*sumber foto di sini.

Related posts

12 Thoughts to “Hidup di Era Rawan Informasi”

  1. Iptek itu bagai pedang bermata dua di satu sisi sangat diperlukan disisi lain bisa membahayakan contohnya penyalahgunaan yg belakangan ini sering terjadi. Setuju Pemerintah seharusnya menjaga dan melindungi data pelanggannya dengan sistem keamanan berlapis.

  2. Sepakat Oom Nukman; Dan rasanya cukup penting untuk menyebarkan sudutpandang yang satu ini. Keamanan data prifat milik publik yang sudah dipercayakan kerahasiaannya kepada pemerintahan, sudah selayaknya dijaga dengan baik oleh pemerintah.

    Tentunya ada plus-minus, positif-negatif dari meningkatnya kemampuan negara menggunakan sandi, tapi tentu bila masyarakat bisa sepenuhnya percaya pada pemerintahan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kan? Dan rasanya hanya pemerintahan yang bisa dipercaya masyarakat yang layak dipertahankan.

  3. Dilema.. dan kita sendiri sudah tau seperti apa kerja para aparat pemerintahan negeri ini… #miris

  4. Saya sering dapet penawaran jebakan tikus elektik x_x

  5. KElengkapan informasi dan sentralisasi informasi, seperti yang dilakukan pada E-KTP harusnya juga dibarengi dengan sistem keamanan nya serta back up yang kuat.

    LAgian sebaiknya juga hati2 dalam menampilkan informasi pribadi, karena banyak kasus penipuan yang informasi korbannya cukup detil sehingga seakan2 itu bukan penipuan.

  6. eka

    Saya sudah memprediksikan bahwa penggunaan eKTP sangat rawan kebocoran data.

    krena pemerintah kita hanya siap dengan ide, namun tidak siap dalam implementasi. hasilnya, masyarakat lagi korbannya.

    saya harap, kehadiran lembaga sandi negara bisa memberikan keamanan yang maksimal, agar data2 penting kependudukan bisa tersimpan dengan aman.

  7. yup sebisa mungkin kita sellu menjaga rahasia informasi di sosial media maupun di media sosial lanya,.

  8. semoga masyarakat indonesia semua sadar akan pentingnya pengamanan informasi.

    saya malah belum bikin e’ktp hehehe.

  9. sms mama, sayang, mobil, kirim rekening… dll

    wuih…

    modus2 yang berkembang di negara kita…
    bahkan ketika kita mengiklankan berita kehilangan di media massa pun di buat sebagai kesempatan…

    kita harus tetep waspada…

  10. Memang era keterbukaan informasi ini perlu di sikapi dengan cara mana yang boleh untuk publik mana yang tidak.
    Sayang untuk e KTP ini memang agak sulit dan kita juga harus mendorong pemerintah untuk mengamankan data diri pemilik KTP tersebut.

  11. Salam.
    Penipuan dengan beragam modus memang kerap terjadi, saya g habis pikir knp no mobile kita bisa bocor kemana-mana, sampai2 seorang teman berpikir bahwa jangan2..pihak2 itu.. yang membocorkan atau bekerjasama dengan pelaku.
    Salam.

  12. Saya juga sering mendapat sms penipuan. Termakan tipun sekali, ketika permintaan pulsa dibalut dengan musibah yang menimpa pengirimnya, yaitu sedang mengalami kecelakaan di tengah hutan. tolong bantu kirim pulsa 20 rb. Saya pikir kalau itu benar-benar terjadi, tentu pengirim sms benar-benar butuh bantuan, maka sy kirim pulsa 20 rb, yang belakangan jadi bahan tertawaan teman-teman krn sy tertipu. Bayangkan, niat menolong saja bisa menjadi bahan tertawaan. Si pengirim sms, bahkan musibah saja dibuat utk alat penipuan. Kalau benar-benar kena musibah baru tahu rasa si pengirim sms tipuan.

Leave a Comment