Berbagi Hidup dengan Codot

Sudah dua tahun ini jambu Dersono di halaman belakang rumah berbuah terus ketika musim berbuah tiba. Buah jambo bol itu berukuran besar dan berwana merah darah saat matang, dan rasanya cukup manis saya dan keluarga nikmati apa adanya. Tak dirawat sama sekali, setiap berbuah, sebagian besar diembat codot (kelelawar pemakan buah), dan kami dapat sisanya jika sempat memetik persis sebelum matang. Ya, codot hanya memakan buah yang matang pohon. Namun hari ini agak berbeda, karena sebulan ini kami punya pak kebon yang merawat tanaman di rumah.

Bunga-bunga  jambu Desrsono berwarna merah muda, sudah dua pekan ini berubah menjadi pentil buah jambu, dalam jumlah yang cukup banyak, merimbun di sela-sela dahan dan tangkai.

“Sudah saatnya dibungkus pak, biar tumbuh menjadi buah yang besar,” kata Emi, penjual tanaman, yang pagi ini mengantar tanaman jeruk nipis untuk ditanam di halaman belakang rumah.

Dulu, saat saya kecil dan sempat hidup dengan banyak pohon buah, kami membrongkos (membungkus pentil buah agar terlindung dari hama) agar buahnya bagus saat dipanen. Tapi selama hidup dan bekerja di Jakarta, pohon buah di rumah (rambutan, jambu, sawo, alpukat dan lainnya — dulu sempat ada durian dan mangga)  saya biarkan alami. Hanya nangka yang sempat saya brongsong, karena buahnya memang tidak banyak. Tidak heran jika di musim buah, rumah kami diserbu codot.

Karena saran itulah, pagi ini bersama pak kebon dan Emi, saya membrongsong pentil-pentil jambu Dersono dengan tas plastik yang dilobangi. Dulu sih, waktu kecil, saya membrongsong buah pakai anyaman bambu. Sekarang sulit mencari brongsong seperti itu di kota besar.

Tanpa sadar, sebagian besar buah jambu sudah terbrongsong.

“Jangan dibrongsong semua pak,” kata Emi tiba-tiba. “Sisihkan sebagian untuk codot agar mereka tetap punya makanan alami.”

Wow.

Saran “sederhana” seperti ini belum pernah saya dengar sebelumnya.

Semula saya menangkap pesan sederhana Emi yang memang polos orangnya, itu lebih ke makna: jangan serakah, berbagilah meski dengan binatang.

Hampir saja semua pentil buah jambu saya brongsong semua. Tapi sambil berpikir, saya ikuti saran itu. Saya sisihkan sebagian pentil buah jambu bebas tak terbrongkos agar bisa dimakan codot saat matang dua bulan lagi.

codot

 

Tiba-tiba saya teringat, di saat musim buah, halaman belakang rumah kami setiap pagi selalu berserakan kotoran codot yang masih segar, beserta daun dan berbagai biji-bijian yang tanamannya tak ada di rumah kami. Tak ada pohon duku di rumah, tapi di musim buah, ada saja biji duku diantara kotoran codot.

Ya, codot menjadi medium penyebaran biji matang ke berbagai tempat, yang kemudian tumbuh menjadi tanaman. Lebah, kupu dan serangga lain menjadi medium pembawa serbuk bunga ke bunga lainnya sehingga bunga pun menjadi buah.  Codot punya peran berbeda: memetik atau memakan buah matang, terkadang membawa buahnya di sarangnya dan tanpa sengaja menyebarkan bijinya tumbuh di tempat baru.

Jika ada duku tiba-tiba tumbuh di halaman belakang rumah saya atau rumah orang lain, kemungkinan besar itu hasil kerja alami codot.

Codot berperan penting dalam rantai kehidupan.

Jadi, dengan berbagi dengan codot, tidak serakah membrongsong semua pentil buah jambu, rantai kehidupan itu terus terjaga.

Nasehat sederhana, yang datang dari orang yang  pendidikan resminya tidak tinggi tapi cinta tanaman ini, ternyata mengandung makna sangat dalam.

Related posts

6 thoughts on “Berbagi Hidup dengan Codot

  1. Codot yang tiap malem tidur di “bucu” dan tiap pagi nelek-i lantai pendopo kami itu jangan2 makannya dari kebun Pak Nukman!? Depok-Bogor gak terlalu jauh, kan ya?

  2. salam.
    cerita yang Inspiratif dan sarat makna, kita sebenarnya selalu mendapatkan hal seperti itu setiap harinya, dalam bentuk yang berbeda, tapi anehnya, kita sering abai terhadap makna-makna kehidupan yang lalu-lalang di depan mata kita, yang dengannya, kita bisa memperkaya kualitas kpribadian kita.
    Salam.

  3. Berbagi dengan alam pak……
    Jambu bol dibelakang rumah juga mulai berbuah…walau tidak merata………

  4. Wah keseimbangan ekologi tercipta di lingkup mikro, dan itu berawal dari usul seorang sederhana, berbunyi: “Jangan dibrongsong semua, Pak!” Indah ya 🙂

  5. Fotonya kok pas ya Pak,
    apakah tulisan ini inspirasinya dari buah yang dimakan codot itu atau nulis dulu lalu cari bekas makanan codot 🙂

  6. Yono

    Sendapat pak nukman, Kalau dipikir – pikir kadang kasihan sama codot, beberapa bulan yg lalu buah mangga di tempat kami jg di makan codot, tapi buah belum begitu matang, tapi sdh cukup tua, kemungkinan karena kurangnya ketersediaan buah matang, maka buah blm matangpun sdh di makan, awalnya saya dan anak2 kecewa, lalu saya coba berpikir Dan kasih tahu ke anak anak, knp codot suka makan buah di pohon? Karena codot ngga bisa beli di toko buah, he..he..makanya kita harus berbagi dgn codot atau hewan lainnya.

Leave a Comment