home
Life Style

TwitWar itu Asik, Jika …

Posted on January 16, 2012

commentsComment: 21 Comments

Beberapa hari belakangan ini, twitwar adalah kata yang sering melintas di timeline Twitter. Perang kata-kata via Twitter sesungguhnya bukan hal baru. Dulu Wimar Witoelar pernah beradu twit dengan Aburizal Bakrie. Cepat berhenti meski sempat terpublikasi ke media-media online. Antar pribadi-pribadi di Twitter pun sering jual beli wacana. Sebagian lainnya kadang imbal beli kemarahan dengan makian. Belakangan, twitwar menjadi meriah karena melibatkan artis, yang berlarut-larut yang melibatkan banyak pihak. Twitwar juga kian hangat karena mulai melibatkan isu publik (bukan lagi privat) seperti ijazah palsu.

Saya tidak tertarik membahas para artis.

Saya akan membahas twitwar dari sisi lain.

Ada dua kelompok yang terlibat di twitwar. Pertama, mereka yang baru belajar Twitter dan belum sadar bahwa Twitter itu wilayah publik, bukan wilayah privat. Betul bahwa akun yang kita miliki itu “milik kita”. Namun apapun yang kita twit akan dibaca publik (atau dibaca followernya saja jika akunnya terkunci). Akibatnya, saat kita bertengkar dengan pengguna Twitter lain, follower kita dan follower yang kita ajak bertengkar berpotensi membaca twitwar itu. Jadinya, kita bertengkar di hadapan banyak orang.  Aib kita, juga aib lawan tengkar kita, otomatis terbuka ke seluruh follower.

Kelompok kedua, mereka yang sangat paham Twitter, dan memanfaatkan twitwar untuk keuntungan pribadi atau kelompoknya. Twitwar, bagi sebagian orang/kelompok, dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah follower. Mereka biasanya lebih suka twitwar dengan seleb atau pemilik akun Twitter yang followernya jauh lebih banyak. Jika berhasil memanasi seleb dan lalu terjadi twitwar, biasanya jumlah followernya naik.

Atau, lihatlah sebagian para politisi yang kini rajin di Twitter. Mereka berani melayani siapa saja yang mengajak twitwar. Politisi yang biasa berdebat di teve, lincah berperang di Twitter. Tapi saya duga, twitwar mereka itu tak sepanas yang terbaca dari lalulintas twit mereka. Persis seperti kita melihat para politisi yang berdebat keras di layar teve, bahkan saling membentak, tetapi begitu acara selesai mereka ketawa-ketawa, saling berpelukan, lalu masih bisa ngopi bareng.

Mereka twitwar tapi terkendali.

Yang repot adalah jika twitwarnya kemudian berlanjut ke permusuhan pribadi, lalu  melebar ke offline, bahkan hingga ke meja hijau. Ini berpotensi terjadi pada kelompok pertama, yang baru belajar Twitter.

Karena itu, bagi yang baru belajar Twitter, pahamilah:

1. Twitter itu ranah publik. Bukan privat. Risikonya: jika kita menghina orang lain (mesti tak sengaja) bisa saja dituntut  pencemaran nama baik.

2. Karena Twitter itu ranah publik, terapkan etika-etika di offline ke Twitter juga. Jika menghina orang lain di depan umum dianggap tidak etis misalnya, jangan lakukan di Twitter.

3. Karena keterbatasan 140 karakter, Twitter bukan media yang ideal untuk berdebat. Salah paham dan kehilangan konteks sangat mudah terjadi di sini.

4. Berbeda dengan pertengkaran lisan yang akan hilang bersama waktu dan lupa, twitwar akan tercatat meski bisa saja dihapus.  Namun jika terlanjur di RT, di-favoritkan, atau di-capture orang lain, akan tercatat selamanya.

Twitwar memang kesannya negatif karena seringkali terkait dengan masalah pribadi. Saling menyerang dan membuka aib. Karena itu, sebaiknya hindari twitwar jenis ini.

Twitwar akan bermanfaat, jika tidak menyangkut masalah pribadi, tetapi yang berkaitan dengan kepentingan umum, misalnya memperjuangkan etika akademik, meningkatkan mutu pendidikan, ekonomi dan lainnya.  Sepanjang kita ahli di bidangnya, twitwar itu mengasah logika dan kepekaan.

Jika kita bukan ahlinya, lebih enak jadi penonton,  menikmati seni twitwar dan dapatkan ilmunya dari situ.

gambar dari: Pixey

Twitter: nukman

Bookmark and Share

21 Responses to “TwitWar itu Asik, Jika …”

  1. arioadimas says:

    tulisan menarik pak. twitwar juga perlahan mulai kehilangan etika.. yaah.. padahal kalau adu pendapat pakai etika sih sah-sah aja…

  2. Endy says:

    memang akhir-akhir ini banyak kasus yang terbongkar, dan bukti-buktinya berasal dari twitter, malah sempat ada permasalah artis indo yang dipublikasikan lewat twitter..

    Saya sendiri g punya twitter mas..heheh..

  3. Ada cara lain mas biar bisa twitwar dengan aman: jangan pake nama asli :D
    Ada bagusnya ngga pake nama asli, misalnya untuk twitwar yang ‘memperjuangkan’ kepentingan publik. Jadi mirip para superhero, offline pake identitas asli, tapi online dengan identitas lain agar bisa lebih ‘bebas’ bersuara.

  4. aji, Indonesian says:

    ya begitulah..

  5. Jossi says:

    Twitwar asikk..jika ‘berperang’ ttg opini yang membangun suatu kondisi yang tdk kondusif agr mnjadi lbh baik..misal, anggota DPR sama ICW, Produsen mobil asing sm produsen mbl Esemka..pasti asik ngikuti ‘perang’ opini nya..Piye mas Nukman..:)

  6. @Jossi: ya setuju, itu baru asik :)

  7. @Borrys: lebih enak dgn akun asli menurutku sih

  8. Vira says:

    Wah, artikel yg bermanfaat, mas Nukman. walaupun sudah lama bermain twitter, kadang msh perlu diingatkan ttg hal ini. Syukurlah… saya nyaris twitwar, tp akhirnya milih diam. hihi.. emosi kadang gak bisa ketebak.

  9. Kurnia Septa says:

    gak tahu apakah itu sebelumnya memang sudah ada permusuhan apa belum. Tetapi twit war selalu berujung tidak baik, apalagi sudah menyangku pribadi.

  10. [...] di twitter. Nukman Luthfie memandang dari sudut pandang yang berbeda twitwar yang lagi heboh itu. Di blognya dia menulis ada dua kelompok yang terlibat di twitwar. Pertama adalah orang yang baru mengenal dan [...]

  11. Bukik says:

    Wong bertengkar sama tetangga di depan rumah ditonton se-gang aja malu ya
    Apalagi sampai ditonton ribuan orang
    Dicapture pula
    Dibahas di blog ini pula *eh

  12. MdarulM says:

    Twitwar bisa mengakibatkan perang antar kelompok kalau gak diselesaikan dengan duduk bareng….

  13. dobelden says:

    @bukik : dan sekarang mau dibawa ke ranah hukum pulak *eh :D

    Saya suka ngikutin #twitwarnya pak @buniyani sama @KartikaDjoemadi , dan dimenangkan oleh @kartikadjoemadi.

    eh btw di timeline saya jarang lho ada #twitwar, adanya #WiRABUsaha #Kultwit :D

  14. ongiser says:

    twitwar yg berhubungan dgn hal pribadi itu mirip vuvuzela, bunyinya nyaring, ga ada isinya dan annoying

    abaikan

  15. Rusa says:

    Twitwar itu memang asyik om Nukman, gak pake tapi. Paling tidak buat penonton sih om

  16. wongkamfung says:

    Menarik, mas, ulasannya. ;-)

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

  17. Nazar says:

    Twitter memang luar biasa….

  18. mtaufiq says:

    Emang twitwar lagi marak2nya, follower menjadi ingin tahu mengenai masalah pribadi yang bersangkutan. Sedangkan nanti malam mbah @subiakto mau twitwar sama @budiman_hakim. Ada2 saja, twitwar kok janjian. hehehe…

  19. naufal says:

    http://artikelmotivasipemuda.blogspot.com

    jangan lupa pak nukman minta di komen tulisan saya

  20. [...] Seperti yang ditulis oleh Nukman Lutfie dalam artikelnya yang berjudul Twitwar. [...]

  21. Chandra Iman says:

    iya kadang ketidaksampaian ilmu dan ketidaktahuan etika menjadi penyebab twitwar, thanks artikelnya pa nukman :)

Leave a Reply

Twitter

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Anggara:

kalau di proteksi akunnya apa ya tetap ruang publik mas?

NASA:

Menghindari pencatatan digital memang harus dilakukan sedari dini, sudah banyak sekali program perekam data...

Muhammad Nopriansyah:

sungguh bermanfaat tulisan ini.keebanyakan orang pasti tidak sadar akan tidak adanya privasi...

afri:

Balada lupa password ternyata bukan cuma saya pemerannya ( Akun blog sampai tiga, yang dua mampus tak terurus,...

Indonesia Banged:

kenapa kasus seperti ini masuk keranah hukum ya.. atas nama pencemaran nama baik daerah apa ada...