home
Life Style, Tips Bisnis

Bermakna di Lautan Social Media

Posted on June 1, 2011

commentsComment: 28 Comments

Salah satu sisi positif social media seperti blog, Facebook, dan Twitter adalah menguatnya fenomena jurnalisme warga (citizen jurnalism). Di pertengahan tahun 2.000-an, blog melahirkan lebih dari sejuta blogger Indonesia, yang begitu aktif menulis apapun di blog masing-masing dan rajin memberi komentar di blog teman-temannya. Tiba-tiba, jurnalisme warga, yang sebenarnya bukan barang baru di radio, menguat di dunia maya. Dan, tanpa bisa ditahan, kian meledak dengan semakin popolarnya Facebook dan Twitter. Tutup tahun 2010, mengguna Facebook di Indonesia tembus angka 32 juta dan Twitter sekitar 10 juta pengguna.

Pertanyaannya, bagaimana kita menjadi bermakna di lautan jutaan pengguna blog, Twitter dan Facebook? Bagaimana kita tidak sekadar menjadi blogger, pengguna Facebook, Twitter dan media sosial lain dan tenggelam di balik hiruk pikuk warganya? Bagaimana kita bisa memberikan kontribusi positif, membrandingkan diri menjadi jurnalis warga yang dikenal dan diakui di bidangnya, lalu mendapat benefit yang layak?

Tangga Teknografi Sosial

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, lebih baik kita fahami dulu tentang Tangga Teknografi Sosial yang diperkenalkan Forester Reaseach.

Di tangga teratas, ada golongan yang disebut sebagai Creator. Ciri utamanya adalah: memiliki blog atau website pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengupload audio atau video karyanya ke website (bisa YouTube misalnya). Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengupload video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi: memiliki blog dan rajin memperbaruinya.

Blogger memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya membuat tulisan, apapun kategorinya, ekonomi, bisnis, musik, hiburan, cerita. Apapun juga bentuknya, bisa dalam bentuk teks, gambar, audio maupun video. Di Indonesia, sudah ada beberapa yang berkarya dan menyebarkannya dalam bentuk audio di Internet seperti Indonesia Bercerita (indonesiabercerita.org).

Di anak tangga kedua ada Conversationalist. Mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Meraka tidak memiliki blog. Tapi mereka rajin menulis, meski hanya 140 karakter di Twitter, atau 300 karakter di Facebook, atau di media sosial lain seperti Linked-In atau bahkan Friendsters. Meski bukan creators, mereka cerewet. Apapun mereka tulis di status, mulai dari barang yang mereka konsumsi, diri sendiri, hingga urusan kantor, tak luput dari update di media sosial.

Menariknya, 140 karakter, jika ditulis rutin, membawa pengaruh cukup besar. Sebuah tulis di blog, dengan seribu karakter lebih, memang memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Namun 140 karakter di Twitter dan Facebook juga punya pengaruh, jika diulang-ulang atau disebarkan oleh pengguna lainnya sehingga membentu viral.

Di bawah kedua tangga di atas, masih ada anak tangga lain, yang disebut sebagai Critics (tak punya blog, tidak mengupdate status di Twitter/Facebook, namun mengomentari blog/tulisan orang lain),  Collectors (menggunakan RSS, memanfaatkan tag), Joiners (sekadar bergabung ke jejaring sosial), Spectators (membaca informasi di berbagai jejaring sosial tapi tak punya akun), dan Inactive (tak melakukan apaun).

Namun, hanya dua segmen teratas, yakni Creator dan Conversationalist, yang berperan besar dalam mempengaruhi publik/konsumen pada umumnya mengambil keputusan. Oleh karena itu, jika ingin membangun citra diri dan bermakna di media sosial, syarat utamanya adalah anda harus berada di tangga teratas, yakni memiliki blog/website sendiri, yang rajin diperbarui. Lalu gunakan Facebook dan Twitter sebagai media untuk penyebarannya, sekaligus menjalin komunikasi cepat. Tepatnya, menjadi creator sekaligus conversationalist!

Blog Seperti Apa?

Akhir tahun 2010, tercatat lebih dari dua juta blog yang ditulis pengguna Indonesia, baik itu dibangun di penyedia jasa blog gratis global seperti WordPress.com dan Blogger.com, lokal seperti BlogDetik.com, Kompasiana.com dan Dagdigdug.com, maupun yang dibangun dengan nama domain sendiri. Tidak semuanya populer tentu saja. Lalu, blog seperti apa yang dapat punya potensi populer, mendapat trafik tinggi dan menghasilkan?

Pertama: Fokus pada bidang tertentu.

Buatlah blog sesuai dengan minat. Apa saja. Mulai dari teknologi, komunikasi, hiburan, jalan-jalan, kebudayaan, pemasaran, manajemen makro, manajemen sumber daya manusia, game, dan lainnya. Apapun. Yang penting, fokus yang berdasarkan minat. Karena minatlah sumber utama energi untuk menulis.

Saya menemukan beberapa blogger yang berbasis minat ini sukses meraih nama dan keuntungan lain. Misalnya Trinity, yang saat ini dikenal luas sebagai penulis buku ternama pariwisata Indonesia, yang terus berbagi via blognya di www.naked-traveler.com. Namanya terus berkibar dan pengaruhnya diakui oleh berbagai kalangan, termasuk Departemen Pariwisata, berkat blog dan bukunya.

Contoh lain, Yodhia Antariksa, yang tekun menulis blog mengenai strategi majemen di www.strategimanajemen.net.  Tulisannya sangat renyah dan mudah dicerna, tapi isinya berbobot.  Melalui blognya itu, namanya kian tenar di kalangan manajer, terutama Human Resource, dan rerzekinya terus mengalir dari sini. Ia pun kemudian melahirkan bisnis online menjual materi presentasi manajemen….dan laku!

Hanifa Ambadar, yang semula iseng membuat blog mengenai fashion di www.fashionesedaily.com kini naik pangkat menjadi pengusaha karena blognya menjadi blog komersial yang disukai banyak perempuan di Indonesia.

Saya bisa sebutkan beberapa contoh lain seperti Roni Yuzirman yang ngeblog mengenai kewirausahaan di blog pribadinya, Roniyuzirman.com, Ollie Salsabeela – seorang penulis chicklit yang beberapa bukunya best-seller – memiliki blog Salsabeela.com dan lainnya.

Saya sendiri rajin menulis blog mengenai digital marketing di Virtual Consulting Blog yang kini menjadi referensi bagi banyak perusahaan untuk memahami online marketing, digital marketing, social media marketing dan sejenisnya.

Kedua, rajin mengupdate blog.

Kelihatannya sepele: rajin memperbarui blog. Namun tak banyak yang berhasil di sini. Apalagi di era sekarang, era social media yang sedang didominasi Twitter dan Facebook, di mana penggunanya lebih suka update status daripada update blog. Itu sebabnya, dari juta blog yang dibuat orang Indonesia, hanya segelintir yang punya nama dan pengaruh.

Untuk memaksa diri rajin menulis, Yodhia Antariksa mengumumkan jadwal khusus update blognya secara terbuka: setiap hari Kamis hadir tulisan baru di Strategi Manajemen. Pengusaha pakaian jadi Roni Yuzirman mengupdate blognya sepekan sekali. Sedangkan Hanifa, jangan tanya lagi soal seringnya update blog FashioneseDaily.com karena sudah menjadi portal perempuan top di negeri ini.

Dari pantauan saya terhadap blog-blog yang sukses, mereka meng-update minimal sepekan sekali untuk menjaga minat kunjungan pembacanya.

Ketiga, padukan dengan Facebook dan Twitter

Dulu, andalan penyebaran informasi blog adalah RSS, tautan ke blog lain, dan template aplikasi blog yang memang Google Friendly. Namun, sekarang, di era Twitter dan Facebook, semua itu tidak cukup. Blog masa kini harus diintegrasikan dengan kedua jejaring sosial agar semaksimal mungkin tersebar.

Yang paling sederhana, tambahkan menu Retweet (untuk Twitter) dan Share (untuk Facebook) di setiap posting blog baru. Dengan kedua menu tadi, pengguna Twitter dan Facebook yang jumlahnya puluhan juta itu dengan mudah menyebarkan posting blog yang ia baca. Fakta menunjukkan, blog yang dilengkapi dengan kedua menu ini menunjukkan bahwa Twitter dan Facebook menjadi referensi terbesar trafik blog setelah search engine.

Facebook ini memberi fasilitas baru berupa status “like” yang bisa ditambahkan di blog, untuk setiap postingan. Berbeda dengan “share”, maka “like” menunjukkan bahwa pengguna Facebook itu menyukai tulisan itu, yang akan terbaca oleh teman-temannya di Facebook. Dalam user behavior, status “like” ini lebih tinggi ketimbang “share”

Namun, untuk membangun brand, blogger wajib memiliki Fanpage untuk blognya di Facebook. Buatlah fanpage sesuai dengan nama blognya. Gilamotor.com misalnya, blog penggila motor yang dikelola secara profesional oleh jurnalis warga, memiliki fanpage di Facebook dengan alamat www.facebook.com/gilamotor yang bisa menggaet hampir 200 ribu fans pada akhir tahun 2010 dalam tempo satu tahun.

Kecuali memiliki fanpage di Facebook, blog wajib dilengkapi dengan akun Twitter yang sama dengan blognya. Gilamotor.com misalnya, memiliki akun Twitter @gilamotor.

Keduanya, baik Facebook Fanpage maupun akun Twitter, harus dikelola serius. Tanpa pengelolaan yang serius, kedua akun tadi hanya akan menjadi akun mati dan tidak memberi kontribusi apapun kepada blog. Bahkan, bisa jadi malah merugikan.

Sama seperti blog, kunci keberhasilan akun Facebook dan Twitter adalah percakapan. “Marketing is conversations”. Blog yang hidup akan terlihat dari komentar-komentar di postingannya. Facebook dan Twitter yang hidup akan terlihat dari percakapannya di dua jejaring sosial tersebut.

Sebagai creator, nara blog yang serius akan mengupdate blognya sepekan sekali. Namun, untuk menjadi conversationalist di Twitter dan Facebook, update status sekali sehari saja, serta menjawab pertanyaan follower dan fans, bahkan belum cukup.

Berpikir Jangka Panjang

Saya banyak bertemu dengan creator dan conversationalist yang inginnya instan, langsung berhasil. Langsung memiliki blog yang hebat, follower yang banyak di Twitter, fans yang berjibun di Facebook.

Tidak ada yang instan di membangun citra diri. Semuanya membutuhkan proses, bukti, ketekunan, konsistensi, persistensi. Blog biasanya baru terlihat bagus setelah setahun. Selama setahun itu harus ditunjukkan konsisteni mengupdate blog, menulis yang menarik, kemampuan membagi info dan menjalin komunikasi dengan audiencenya. Pada saat yang sama, untuk menumbuhkan Fans di Facebook dan follower di Twitter pun butuh kerja ekstra.

Maka, membangun citra diri sebagai jurnalis warga, bukan hanya wajib memiliki blog dan mengintegrasikannya dengan Twitter dan Facebook, tetapi juga harus memiliki visi jangka panjang.

Tanpa visi jangka panjang, pekerjaan ini akan cepat melelahkan.

Namun, jika kita berpikir jangka panjang, hasilnya akan manis, seperti beberapa contoh yang saya uraikan di atas.

catatan: tulisan ini dibuat untuk buku Linimas(s)a karya ICTWatch. Ada banyak artikel lain di buku itu, yang antara lain ditulis oleh Ono W Purbo, dapat diunduh gratis di KalamKata.

Bookmark and Share

28 Responses to “Bermakna di Lautan Social Media”

  1. bukik says:

    Pak, aku kok gak yakin persentase pada tiap jenjang teknografi sosial itu. Terutama pada level creator. 24% itu angka yang terlalu optimis.
    Masih butuh banyak usaha agar mencapai angka tersebut, agar semakin banyak pekarya di negeri ini

  2. @Bukik: ada catatan kecil di bawah gambar tangga: base: US online adults

  3. bolank says:

    saya baru beranjak dari tangga paling rendah.
    semoga bukan sepertin main ular tangga yah…

  4. bukik says:

    oh iya
    Pertanyaan lanjutannya, berapa kira-kira proposisi ideal persentase creator dalam masyarakat kreatif?
    Jawab pakai intuisi boleh pak *nyengir

  5. hartoto says:

    klo ada ranking untuk indonesia boleh juga tuh Pak Nukman…

  6. Dwi Wahyudi says:

    Alhamdulillah sepertinya saya masuk dalam kedua kategori tersebut Pak Nukman. Saya sangat setuju dengan Anda atas pernyataan bahwa segala sesuatunya tidak bisa dilakukan secara instan, butuh waktu dan proses yang terkadang tidak sebentar untuk meraih sebuah pencitraan diri di media maya. Mungkin apa yang Anda jelaskan diatas telah saya rasakan secara langsung and really it work… Trims

  7. Setuju Pak .. integrasi Social Media memang wajib dilakukan ke Blog … agar lebih ajib memancarkan aura blog .. :)

  8. eko sjamsurizal says:

    very inspiring pak … tapi link Trinity sptnya perlu dikoreksi pak … :-)

  9. Fatkur says:

    tulisan yg renyah di pagi ini. thx pak

  10. han says:

    sekarang uneg 3 kebanyakan di curahkan di facebook/ twitter bukan di blog

  11. awitara says:

    untuk blog gratisan, bisa gk di dioptimalkan menjadi bisnis OL, seperti WP?
    salam kenal mas,,

  12. Terima kasih atas pengetahuannya Pak. Saya punya blog dan sdh bisa disebut creator. Namun untuk bisa membuat blog yang menarik tampaknya butuh kerja keras lagi :)

  13. Menarik sekali ulasannya Pak Nukman.

    Butuh pengorbanan besar untuk menjadi creator yang memberi nilai tambah buat masyarakat.

    Saya mencoba melakukannya untuk bidang pendidikan lewat posting berupa video disamping artikel reguler.

    Ada rasa bahagia yang luar biasa bisa memberi kontribusi sekecil apapun buat orang banyak.

    Semoga semakin banyak blogger, pendidik dan pencipta konten bermanfaat di negeri ini.

  14. Linda says:

    “Rajin mengupdate blog”
    Terimakasih telah mengingatkan pak, memang perlu energi tersendiri untuk kontinyu membuat tulisan lebih dari 140 karakter :)

  15. Didno says:

    terima kasih infonya. Saya juga ikut acara idblogilicious Jakarta

  16. Syafrianto says:

    Salam kenal Pak Nukman. Sebenarnya kita sudah ketemu saat Bapak jadi pembicara di acara Blogilicious di Gedung Telkom yang lalu (saya disebut Bapak sebagai “ada tampang pengusaha, tapi masih miskin, tidak seperti Bapak saat ini….” hehehe) dan ternyata ada rekan Bapak di TDA (pengusaha furniture dari bahan bekas yang cukup sukses) yang ternyata adalah sahabat lama saya.
    Ternyata dunia ini begitu sempit seperti halnya dalam dunia maya.
    Satu hal yang saya kurang setuju dengan tulisan Bapak di atas adalah disebutkan bahwa:
    pada “kasta” Creators dengan ciri utamanya adalah: memiliki blog atau website pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengupload audio atau video karyanya ke website …

    Saya kurang setuju dengan ciri ini, karena pada saat ini banyak juga blogger yang membuat blog hanya diisi dengan bahan-bahan atau artikel yang dikumpulkan dari sana sini kemudian diposting atau diupload dalam blognya. Jadi blogger jenis ini lebih cenderung sebagai pengumpul (lebih cocok diistilahkan collector, yang dalam artikel Bapak dicirikan bahwa collector hanyalah sebagai pengguna RSS, tukang add/tag dan orang yang hanya ikut-ikutan survei/voting secara online.

    Blogger jenis pengumpul ini sangat banyak di dunia per-blogging-an ini. Mereka inilah yang kurang disukai oleh para blogger sejati, karena artikel para blogger sejati ini di-copy dan tidak jarang yang meng-klaim sebagai pembuat asli dari artikel atau karya tersebut.

    Demikian pendapat saya, mohon maaf apabila kurang berkenan.

  17. Eka Hary says:

    Pak Saya sangat Kagum Dengan Presentasi bapak yang sangat bersahabat di acara blogilicious jakarta terimakasih untuk pengetahuannya pak.

  18. mukhiban says:

    memang harus dimulai dari passion, semula yang hanya iseng bahkan bisa jadi duit. segera menyusul pak Nukman

  19. rudy says:

    saya kaget pas buka situs http://www.naked-traveller.com, isinya ga sesuai yang di infokan…sudah cek di google situs yang dimaksud http://www.naked-traveler.com (huruf “l” nya ga double pa)

    NL:
    terima kasih koreksinya. sudah saya betulkan ya :)

  20. Wisnu says:

    Salam Hangat Pak Nukman. Artikelnya ok punya, jadi terinspirasi membuat Artikel-artikel yang berManfat. Trims ya Pak

  21. day says:

    web atau blog yang baik itu menurut bapak harus fokus pada satu tema? atau bisa campur-campur pak?

  22. affanul says:

    Yup, ok memang menulis blog membutuhkan proses tidak bisa instan, terimakasih ms atas pencerahanya :) kapan2 kalo ad waktu mampir di blog sederhana saya,.

  23. Muadzin says:

    Sharing yg sangat bermanfaat. Thanks pa.

  24. Togap says:

    “Tidak ada yang instan di membangun citra diri. Semuanya membutuhkan proses, bukti, ketekunan, konsistensi, persistensi.”

    saya bener-bener suka kalimat tersebut pak. :D

    oh ya, saya juga ingat ada pepatah yg mengatakan begini: “skill & bakat dapat membuat kita naik ke sebuah tingkat kesuksesan, tetapi hanya karakter yg bisa membuat kita bertahan di situ.”

  25. raniyulianty says:

    Waaah…sebagai orang yang baru menanjak ke tangga creators, saya banyak belajar dari artikel ini, terutama bab konsistensi yang seringkali masih terbengkalai, terima kasih pak Nukman

  26. [...] obrolan ini awalnya terinspirasi dari tulisannya p.nukmat luthie (bermakna dilautan social media), tulisan yang mengisahkan tentang cara pandang beliau akan arus media social yang begitu besar nya [...]

  27. oding says:

    wah berarti kita sebagai blogger berada dalam hasta tertinggi…hayooo kita buat kontent sebanyak-banyaknya dan berkualitas :)

  28. ikhwan alim says:

    trims pak nukman. informasi ini sangat penting utk saya yg sedang mengerjakan thesis ttg social media ^_^

Leave a Reply

Twitter

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Chakenphat:

Wahhh :-O Warren Buffett Boss Freeport McMoRan tuh :-D Salut pak , mga aja dia ngebaca komentar gw :-D...

erik:

jadi ingat film “enemy of the state”nya will smith…

Alif:

benar, sama dengan yang saya alami, seharusnya kita lebih bangga menggunakan bahasa indonesia. Jika Prancis...

Aplikasi Koperasi:

sungguh beruntung….

Anggara:

kalau di proteksi akunnya apa ya tetap ruang publik mas?