Posted on September 4, 2010
Kemarin, tepatnya Jumat, 3 September 2010, nama Stephen Hawking bertengger di posisi puncak trending topics di Twitter. Artinya, di media microblogging yang sedang ngetop itu, nama fisikawan kelas dunia itulah yang paling banyak diperbincangkan oleh dengan 145 juta penggunanya di seluruh dunia. Penulis buku A Brief History of Time tentang penciptaan alam semesta itu akan merilis buku barunya: The Grand Design, yang isinya meralat buku sebelumnya. Di A Brief History of Time, Hawking masih menempatkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Namun di The Grand Design, ia justru menyingkirkan peran Tuhan.
Di buku terbaru, Hawking menjawab pertanyaan yang belum terjawab di buku pertamanya: Mengapa alam semesta ada? Mengapa kita eksis? Mengapa ada hukum-hukum alam dan seperti apa mereka? Apakah alam semesta perlu perancang dan pencipta? Ini ucapan lengkapnya untuk menjawab pertanyaan terakhir:
“Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing. Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist. It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going”

Oleh koran The Times, kalimat itu ditafsirkan, dalam fisika modern, ”Tuhan tidak berperan dalam penciptaan alam semesta” – “leaves no place for God in the creation of the universe”. Sedangkan The Guardians memaknai “Tuhan tidak menciptakan alam semesta” - “God did not create the universe”. Dua tafsir yang sangat berbeda. Tak ada yang tahu siapa yang benar sampai bukunya terbit. Saya juga penasaran, sehingga kemarin pre-order ke Amazon.com.
Apapun tafsirnya, kalimat Hawking menghebohkan, seperti terbukti di Twitter menjadi trending topics teratas dalam beberapa jam. Tanpa membaca bukunya (saat ini belum terbit) hanya akan menjadi spekulasi. Saya perhatikan, kebanyakan justru kaum beragama yang gerah dengan pernyataan Hawking. Dan mereka cenderung membenturkannya dengan iman atau menyangkalnya, padahal belum membaca bukunya sama sekali.
Ini beberapa contohnya:
Masih banyak lagi komentar yang senada.
Ini cerminan bahwa masih ada sengketa antara ilmu pengetahuan dan agama dalam pikiran manusia. Pemeluk agama yang basisnya iman, akan waspada jika ada temuan ilmiah yang berbeda dengan yang mereka imani, atau malah berusaha menyangkal sebelum memahaminya. Sebagian mencoba mencocok-cocokkan teks-teks kitab suci dengan ilmu pengetahuan dan bersorak gembira ketika cocok.
Menolak ilmu pengetahuan jika bertentangan dengan dogma. Bersuka ria jika ilmu pengetahuan cocok dengan dogma.
Sikap seperti itu bisa dimengerti karena yang namanya iman dalam agama itu tak dapat ditawar.
Namun, sikap itu dapat merugikan upaya meningkatkan taraf hidup manusia melalui pehamanan yang mendalam tentang alam semesta, tempat di mana kita hidup, yang sesunggunya bisa didapat melalui ilmu pengetahuan.
Sejak lahir, tanpa diminta, kita mendapatkan/diberi otak, akal budi, dengan segala kemampuannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan kita tahu, basis ilmu pengetahuan adalah keragu-raguan, mempertanyakan, yang 180 derajad berseberangan dengan basis iman.
Amat sayang jika modal ini kemudian selalu dibenturkan dengan doktrin-doktrin.
Tidak bisakah dua hal ini, iman dan ilmu pengetahuan, hidup damai dalam satu tubuh dan pikiran?
Tidak dapatkah kita meletakkan kedua hal itu, iman dan ilmu pengetahuan, dalam porsinya masing-masing?
well said, pak! passion, fighting spirit, survival, and attitude modal pembelajar..
Kalau lihat dari pengalaman pak nukman dan saya pribadi Kemampuan-kemampuan itu didapatkan di keluarga....
Yodhia Antariksa - Blog Strategi + Manajemen:
Tulisan yang sangat inspiratif. Perlu di dibaca oleh semua calon...
makanya saat memilih jurusan kuliah mahasiswa juga diminta memilih yang disukai, bukan karena prestise...
Benar semua! Bagi saya dunia akademis itu harus dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, mereka mendidik kita, sisi...
Manfaatkan SDM 2.0 untuk Tingkatkan Loyalitas Karyawan
Kesalahan Umum Fresh Graduate Ketika Mencari Kerja
Resisten Terhadap Social Media, Ciri Perusahaan Tidak Terbuka
Kecakapan Akademis Saja Tak Cukup untuk Menghadapi Dunia Kerja
Wahai para CEO, CTO, CFO, Mana Eksistensimu di Social Media?
Di Mana Peran Profesional Teknologi Informasi di Era Web 2.0?
Tips Meningkatkan Follower di Twitter
Etika dan Etiket Social Media – Twitter dan Facebook
Era yang Tepat Menjadi Pengusaha Tanpa Korupsi
Pertanyaan nya sederhana, kita sering membaca buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan rela membayar mahal, namun membaca quran sampai hari ini saja tidak pernah khatam memahaminya, buku2 hadist atau software hadist pun malas rasanya menyentuh nya. Padahal sudah jelas itulah petunjuk manusia bagi mereka yg berfikir.
Terakhir, marilah kita selaraskan AKAL kita dengan Quran. Bukan nya Quran yg diselaraskan dengan AKAL kita! Think bout it!
Ilmu menyesuaikan manusia dgn diri dan lingkungannya, sedang iman menyesuaikannya dgn jati dirinya…
Ilmu & iman, keduanya merupakan kekuatan… kekuatan ilmu terpisah sedangkan kekuatan iman menyatu…
Ilmu memberi kekuatan yg menerangi jal…an, sedang iman menumbuhkan harapan & dorongan bagi jiwa…
Ilmu & iman keduanya menghasilkan ketenangan… ketenangan lahir oleh ilmu dan ketenangan bathin oleh iman…
Ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan bayi dan iman tanpa ilmu bagikan kompas di tangan pencuri…
Mungkin Tuhan tidak menciptakan alam semesta, tapi Dia yang mengecat cabai dan pelangi
Quote: Tidak dapatkah kita meletakkan kedua hal itu, iman dan ilmu pengetahuan, dalam porsinya masing-masing?
Wah berat nih mau komen, takut salah hehe.. Bener kata bapak bahwa kita sering mencocokkan apa yg didapat ilmuwan dg apa yg ada dalam kitab suci, jika sama kita senang, jika beda kita *bingung* ~.~
Tapi sejauh ini setahu ne ada satu contoh perbedaan yg sangat ganjil (mungkin) di mata kebanyakan orang: yaitu bahwa ternyata di dalam Al-Qur’an menegaskan bahwa mataharilah yg mengelilingi bumi, bukan seperti ilmu yg kita tahu bahwa bumi mengelilingi matahari. Ada buku yg membahasnya, judulnya: Matahari Mengelilingi Bumi. Wah!
Ada yang lebih atheis lagi daripada Hawkins. Namanya Richard Dawkins, biologist dari Oxford. Baca aja buku-bukunya, salah satunya adalah “The God Dellusion”.
Sayang aja kalo karena mengkonfrontasikan iman dengan ilmu pengetahuan kita sampe meninggalkan salah satunya. Ambil saja contoh Copernicus, Ibnu Sina dan Einstein. Semuanya kan ilmuwan yang punya kontribusi besar pada dunia ilmu pengetahuan tapi tetep jadi pemeluk agama yang taat. Charles Darwin sih yang seru, baru kembali beragama menjelang meninggal setelah sekian lama jadi agnostik.
Btw jaman SMA dulu belajar asal-usul alam semesta, teori evolusi dan dasar2 teori kuantum kok saya dan temen2 gak ada yang menghubungkan sama keimanan ya? Udah ngerti atau waktu itu belum kritis? Hihihi
… Mungkin Mas Hawkin juga perlu membaca buku : “Melacak Kekafiran dalam Berfikir” karena terjadinya Alam semesta atau Universe juga sudah dijelaskan di Kitab Suci … mengenai bukti2 ilmiah tentang alam semesta … sudah banyak ditemukan. Dan hebatnya .. ayatnya ternyata lebih dulu ada sebelum bukti tersebut teruangkap
Seperti SUPERNOVA, yang dibuktikan Dalam Al Qur’an Surat Ar Rahman (55) ayat : 37 – 38
“Maka apabila langit telah terbelah menjadi MERAH MAWAR seperti (kilapan) minyak. Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”
Foto SUPERNOVA dari Releskop Hubble berbentuk seperti BUNGA MAWAR Bisa cek disini >> http://ujie.com/blog/category/life/
Setuju. Ilmu tanpa iman adalah tuli. Iman tanpa ilmu adalah buta. Semua saling melengkapi.
Imho, iptek dan agama selalu sejalan, tak ada alasan utk membenturkannya, kalaupun sains (pada saat ini tampaknya) tdk sejalan dg agama, anggap saja ilmunya manusia blm sempurna. Dg memosisikan spt itu, apapun temuan sains ttg semesta, penciptaan dan apapun, sama sekali tdk melunturkan keyakinan akan kekuasaan dan ilmu Tuhan.. Malah sebaliknya
Penasaran dengan bukunya. Tapi sbg umat beragama saya tetap berpijak pada Qur’an, apapun yang stephen tulis dalam bukunya kan persepsi dia. Kita bacanya netral saja. Harus punya basic aqidah yg kuat dulu tampaknya untuk baca buku ini, kalau ga khawatir terbawa. Ini hanya soal perbedaan persepsi. Penasarandotcom
“…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3:190-191)
Menarik pembahasannya. Seharusnya iman membuat kita open minded dan menghormati pendapat orang. Lagi pula, seorang yg beriman tak perlu kuatir dgn pendapat orang. Jika percaya Tuhan Maha Kuasa, ya santai aja lah kalo ada yg meragukan itu. At the end, Tuhan (kalo memang ada) akan membuktikan kekuasaannya.
Hawkin pun tak tahu… bahwa sang Illahi..menciptakan mahluknya ada yg beriman dan ada yg kafir…
hal itu sudah jelas, bagi yang masih punya iman tidak usah diperdebatkan..buku ini hanya akal-akalan kaum kafir aja..’manusia milik sang pencitpa, hanya kepada Nya-lah kita kembali,.’
aku beriman secara sederhana. bagiku bila imanku memberikan rasa damai itu sudah cukup.
andai ilmu pengetahuan menggugat apa yang tertulis di dalam bible sebagai suatu dongeng, itu tidak masalah buatku. sekalipun dalil tersebut juga bisa dibuktikan.
dengan demikian aku bisa mengikuti pola pikir para ilmuwan tanpa harus merasa panas dingin di dalam hati.
Benturan Agama dan sains karena kadang Agama merambah wilayah sains. Harusnya agama ditempatkan di wilayah moral semata. Kalo agama masuk wilayah sains, yang terjadi adalah othak athik gathuk, memaksakan agar ayat-ayat cocok dengan sains. Memang bisa memuaskan diri sendiri… Agama yang masuk wilayah sains bisa memunculkan displin yang “aneh”, seperti matematika agama ttt, dstnya. Jika begitu maka sains akan jadi bias, tidak lagi bebas nilai…
TOP..
sebenarnya agama dan sains tidak perlu dipertentangkan. ada yang bilang kalau mau belajar agama percaya dulu baru mempelajari, kalau sains mempelajari dulu baru percaya..
kalau saya sendiri butuh keduanya.. ada hal-hal yang tidak atau belum terjawab di sains terjawab di agama..sebaliknya banyak hal yang tidak jelas di agama bisa dijelaskan secara detail oleh sains..
jadi saya percaya Kiai Einstein saja “Science without religion is lame, religion without science is blind”
Mengapa Tuhan memberikan manusia pikiran untuk berlogika, bertanya, tidak yakin sehingga butuh pembuktian, jika nantinya justru akan saling bertentangan dengan keyakinan dogma yang ada di hatinya?
Andai di tamsil kan Kerata Api…
IMAN Ibarat LOKOMOTIF…
Penggerak arah, tujuan dan maksud hidup…
Pabila Yakin nya pada Allah swt memiliki Yakin yg BENAR… maka kan kuat kokoh semangat utk menemouh perjalanan.. tak kan pernah putus asa menghadapi perjalanan di depan..
ILMU… Ibarat JALUR REL…
Landasan utk dpt mencapai maksud dan tujuan…pabila terpasang dgn baik dan benar sesuai dgn tertib dan aturan… maka kan sampai pd tujuan yg dimaksud..
GERBONG… Ibarat AMAL yg di bawa… pabila amal nya baik walau gerbong sepanjang mata memandang terisi penuh… kan ringan di tarik LOKOMOTIF dan JALUR REL kan dgn sukacita menghantarkan hingga tujuan…
Catatan…pabila sikon diatas sebaliknya maka itulah gambaran dr sosok utama tulisan ini.. seorang yg ingkar pd Allah SWT dan Rasulullah SAW
Punya ILMU tapi tak sampai tujuan… bawa GERBONG penuh dgn ke Ingkaran terasa benar bebannya… dan yg PASTI…. IMAN nya BOBROK sibborokokok..keok….
:):)
Pe eR nya nihhh….
SUDAHKAH ADA YG PERNAH MENDAKWAHKANNYA..???
MENGAJAK UTK TAAT PD ALLAH SWT DAN RASULULLAH SAW…???
bila belum maka semua umat yg mengaku umat Rasulullah saw bertanggung jawab atas nya…!!!! fuuuiiiihhhhh…. (seka keringet…)
ada penjelasan menarik dari Luthfi Assyaukanie di Twitter mengenai hal ini.
Saya kutipkan di bawah ini:
Saya kira keliru kalau Stephen Hawking dianggap berubah dari sikapnya semula. Hawking dari dulu ya spt itu.Sama spt para saintis besar lainnya, Hawking tdk terlalu menganggap penting peran Tuhan. God is not a factor. Saya heran kalau ada org yg membesar2kan bahwa Hawking dulu seorang Theis dan sekarang Atheist.Hawking memang pernah menyebut “Akal Tuhan,” tapi Tuhan di situ tak lbh dari “god of the gap.” God of the gap adlh ungkapan kemisteriusan penciptaan. Pada dasarnya bukan Tuhan. It’s just a mystery. Para saintis sungguhan hanya punya dua sikap: (i) atheis dan (ii) deist. Saintis yg percaya Tuhan adlh saintis palsu.Maksud saya adlh Tuhan spt digambarkan dan diyakini para teolog. Tuhannya saintis adlh tuhan pembuat jam.Beberapa saintis dan juga sarjana memilih standar ganda menerapkan iman personal dan iman publik.Ibn Rushd menyebutnya “kebenaran ganda,” ada kebenaran untuk kalangan awam dan kebenaran untuk kaum terdidik.
Agama adalah saudara kandung filsafat. Keduanya bisa saling melengkapi.Bahasa sains hanya bisa –atau lebih mudah– dipahami agama jika diterjemahkan oleh filsafat. Konflik agama dan sains kerap terjadi karena tidak melibatkan sang induk, filsafat.Penciptaan adalah masalah kecil dalam kosmologi. Kosmologi adalah wilayah filsafat, bukan sains.Sains tak punya cukup perangkat berbicara tentang kosmologi, karena itu perilakunya cenderung hitam-putih.Konflik agama-filsafat cenderung lbh mudah didamaikan ketimbang agama-sains.Sains menggeluti domain fisik (fisika), sementara filsafat pada wilayah fisik dan non-fisik (metafisika). Sains akan gagap berbicara tentang metafisika. Penciptaan adalah wilayah metafisika.
betul mas..makanya kalau kuliah filsafat ada pelajaran kosmologi.. dan saat belajar kosmologi kita serasa kuliah fisika, astronomi dan filsafat sekaligus.. puyeng hehehe..
ijin mas Nukman.. bagi yg mau baca soal “perang” sains-agama saya juga nulis di blog saya http://dianwidiyanarko.com/2010/09/hawking-dan-diskusi-lama-sains-agama/
mas @nukman sesuai permintaan, sudah saya tuliskan respons saya dengan sedikit lebih rapi.
sila dibaca di http://bit.ly/tauhid
salam hormat,
denny turner
@tvrner
@theonlynelly — ini sudah saya teliti, dan ternyata cuma tulisan “ulama” yang sok tahu dan men TAFSIR kan Quran tanpa dasar ilmu terkait yang mencukupi.
Lebih detilnya bisa dibaca di :
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-22-1188/
(warning: diskusi di komentar2nya sangat panjang)
Arogansi “ulama” ybs sangat kental, dimulai dari judul bukunya (Matahari mengelilingi Bumi, sebuah KEPASTIAN Al-Quran) sampai ke dalam isinya.
Ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua – bahwa Al-Quran memang adalah firman Allah swt & penuh dengan kebenaran.
Namun – jika yang membaca & membedahnya adalah orang bodoh & arogan, maka dia akan menyesatkan dirinya sendiri & orang lain.
Firman pertama yang turun adalah “Iqra!”. Allah swt menyuruh kita untuk cerdas & berpikir.
Bukan arogan.
Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan mencari pembenaran-pembenaran di kitab suci untuk penemuan-penemuan science, karena sifatnya science pasti berkembang. Bisa saja penemuan selanjutnya bertentangan dengan penemuan sekarang, trus apa yang terjadi dengan kitab suci?
menurut saya, kitab suci(Al Quran yang saya yakini kebenarannya) adalah petunjuk umum dan sumber inspirasi untuk menjalani hidup, termasuk untuk keperluan penemuan science.
Buat saya iman adalah harga mati, tapi ketika ada penemuan-penemuan science yang kemudian secara terpaksa untuk bertentangan dengan agama maka kemudian harus terus dilakukan pengembangan terhadap science tersebut.
Pemikiran seperti ini memang harus dimulai dulu dengan aksioma bahwa agama tidak bertentangan ilmu pengetahuan (banyak anjuran2 di dalam Al Quran utk memikirkan alam ini). Dan tentu saja dogma di dalam Islamlah yang menjadi motivasi utk pengembangan science.Mungkin itu yang terjadi pada ilmuan2 Islam yang kemudian membawa pengetahuan yunani dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
Bagi yang mengaku beragama, maka tidak akan menemukan kontradiksi antara agama & sains.
Karena sains adalah sunnatullah, hukum Tuhan untuk alam semesta ini.
Kalau ada orang mengaku beragama tapi masih juga menabrak2an antara agama & sains, berarti masih perlu belajar agamanya lagi
Mosok Tuhan diadu dengan hukumNya sendiri
Ada-ada saja….
A Smile for God :
http://kun.co.ro/2007/02/25/a-smile-for-god/
Tulisan terindah yang pernah saya temukan mengenai Iman & Ilmu. Can’t recommend it enough !
Sekelumit tentang Stephen Hawking
Stephen Hawking tidak menawarkan sesuatu yg benar2 baru dalam kontroversi mengenai #penciptaan alam semesta. Tak ada yg luarbiasa.
Stephen Hawking juga bukan orang pertama yg penasaran, meneliti, dan mengumumkan keyakinannya terhadap #penciptaan alam semesta.
Stephen Hawking justru mengambil jarak yg terlalu jauh dari obyek penelitian: #penciptaan. Ia memosisikan dirinya sbg orang luar.
Bagaimana Stephen Hawking yg “berada di luar” bisa melihat hal yg di dalam? Ia meneliti #penciptaan tanpa menyadari ia pun ciptaan.
Stephen Hawking spt ingin bilang: dia ada bukan krn #penciptaan Tuhan, tapi krn ayah-ibunya. Ia lupa byk suami-istri tak bisa punya anak.
Salah satu Pencari Tuhan yg paling populer & concern thd #penciptaan adalah Ibrahim. Ia menempuh cara: tidak mengambil jarak. Ia masuk.
Malam, Ibrahim menyembah bulan. Siang, menyembah matahari. Sampai ia mendapat pencerahan harus menyembah Tuhan dari segala #penciptaan.
Salah satu Pencari Tuhan yg populer adl Musa. Ia bahkan memintaNya Menampakkan Diri. Musa sgt berhasrat mengetahui Rahasia #penciptaan
Ayat #penciptaan alam semesta, manusia, dan makhluk2 lain, bertaburan di Al Quran. Teori Stephen Hawking tidak mengejutkankan saya.
Dalam teori #penciptaan, Stephen Hawking bukan orang pertama & pasti bukan yg terakhir. Sebab, memang begitulah yg dikehendaki Tuhan.
Menurut saya, Stephen Hawking (dg caranya) justru sdg jalankan ayat2 Al Quran. Sebab, memikirkan #penciptaan adl Perintah Tuhan.
Dg kata lain, Stephen Hawking justru sdg memberi kritik keras pd Muslim yg tidak memikirkan #penciptaan sebagaimana Perintah Tuhan.
Apakah hasil dari memikirkan #penciptaan itu benar atau salah, itu soal lain. Kebenaran bukan milik Stephen Hawking. Tuhan Maha Pengampun.
Namun, sebaik2nya memikirkan #penciptaan adalah dg mulai memikirkan penciptaan dirimu sendiri. Who am I. Memulainya dari dalam.
Dalam #sufisme, teori #penciptaan adalah dasar. Yaitu tentang Ahadiyah — yg pertama dalam Martabat Tujuh. Yg tertinggi: Insan Kamil.
Dalam Ahadiyah, diajarkan tentang keadaan pra #penciptaan: “Sebelum ada apa-apa, sebelum apa-apa ada, sebelum ada itu ada…”
Masih dalam Ahadiyah pra #penciptaan: “Adakah ketiadaan? Diciptakan dari apa? Setelah diciptakan, apakah ketiadaan menjadi ada?”
Saya takkan jabarkan detail di sini. Eman2. Hehe. Tapi, langsung melompat saja ke Martabat Insan Kamil. Eh? *tepokjidat!* Ga jadi.. Sorry…
Singkatnya, dalam #sufisme #penciptaan ada Empat Utama: Wujud, Yg Mewujudkan, Yg Diwujudkan, Perwujudan. Masing2 serupa tapi tak sama.
Demikian tadi sekelumit tweet saya tentang #penciptaan dan Dik Stephen Hawking. Saya harus stop karena sudah semakin membosankan
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS.3:190-191)
Sepakat dengan mas sufehmi, sesuatu hal yang mustahil jika diberitakan oleh sesuatu yang benar kemudian salah dan kontradiksi dengan berita tersebut.
Jika saya memiliki bukunya dan diberi kesempatan untuk membacanya dulu, mungkin lebih asyik lagi.
Yang penting Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu & Kun-Fayakun adalah perwujudan kita dan dunia kita sekarang ada. Kita doakan saja semoga penulisnya diberi Hidayah oleh Nya. Amin
Assalamu’alaikum
Ane seh masih percaya ALLOH SWT = THE CREATOR. Ane sih cuma bisa berdoa di Ramadhon 1431 H ini, semoga si hawking dapat hidayah dari ALLOH SWT atau kalo tidak jangan mati dulu sebelum bersahadat dan ber iman kan ISLAM kaya Mas Nukman Lutfie.
Met Berpuasa 1431
Regards & Wassalamu’alaikum
Orang marketing akan bilang ini low budget high impact… he he he
Semakin penasaran menunggu buku nya,…
Berusaha bersikap adil dan tidak akan menjustifikasi dahulu… semangatnya adalah belajar, untuk makin memahami dan akhirnya insya Allah memperkuat keimanan….
Kang Nukman di tunggu reviewnya
di negara kita, Indonesia, bicara tentang agama dan apalagi Tuhan adalah sesuatu yang pasti mengundang kontroversi. dan kebanyakan, masih mendukung upaya “menghabisi” segala yang bertentangan dengan dogma.
menurutku, paragraf akhir tulisanmu menarik. dogma adalah Titah Tanpa Kecuali, tetapi bukankah kita manusia yang dapat berpikir dan merasa?
persoalannya, ilmu bersifat dinamis dan dogma bersifat statis. tetapi, pada akhirnya, apa benang merahnya? kukira kita luput, menempatkan urusan kemanusiaan dengan cara manusia.
ada lagi. Albert Einstein pun pernah diragukan keberagamaan (yang artinya ketuhanannya) terhadap reputasi keilmuan dia. pada akhirnya, hanya mereka yang mencari yang akan menemukan. apa pun penemuan itu.
itu saja dulu.
NB : sebar di FB aku yak Um Nukman ^_^
Peraturan 1.Kitab suci adalah benar 2. Jika kamu ragu-ragu akan Kitab suci, apalagi menganggap ada kesalahan pada Kitab suci, lihat peraturan nomor 1.
Tahun 2003 sy pernah bikin seminar di ITB ttg teori evolusi darwin dan teori penciptaan menyusul diskusi serupa di Koran Kompas. kesimpulannya, sains tidak bisa menegasikan Teori Penciptaan Tuhan karena kita tidak pernah tahu pasti bagaimana cara Tuhan mencipta. Jangan2 justru melalui hukum-hukum alam.
dibanding menyingkirkan peran Tuhan, kok rasanya lebih mudah menyingkirkan peran hawking ya =)) *asaljeplak*
Menyingkirkan Hawking, artinya Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang pak… dengan selalu bertanya-jawab kehidupan akan menjadi lebih baik. Selalu bertanya walaupun hal yang sangat sensitif perlu dilakukan he..he..he..
#Pitkuapik:
no 34 bukan saya, itu Lukman.
Saya lebih suka bertanya dengan pendekatan saintifik, meski itu sensitif bagi dogma
Untuk memperkaya tulisan ini, ada opini menarik soal agama dan sains di NYTimes: ‘Mystery and Evidence’ http://nyti.ms/9ABhpk
Saya setuju kalau dia mengatakan ini sesuai dgn pemahaman agamanya dan agama lingkungannya. Karena memang bukan tuhan mereka yg menciptakan alam ini, tapi Allah SWT…
http://www.facebook.com/Usaha.Kreatif.Muslim
#zarch: kok ada tuhan mereka, tuhan kita, lalu tuhan yang mana lagi.. semua bilang tuhanku, tuhanmu, tuhan mereka… lalu semua bilang tuhanku jaminan masuk surga.. tuhanku yang mencipta alam.. tuhanmu tidak bisa.. what next ??
Saya setuju, keragu-raguan, sikap mempertanyakan adalah kuncinya ilmu. Jika sampai pada titik akal yang sudah tidak bisa dicapai lagi, seorang jenius seperti Hawking akan takluk menyadari keberadaan Tuhan. Berbaik sangka saja, bagi Hawking mungkin ini bagian dari proses pencarian Tuhan. Kita tidak pernah tahu, bisa saja setelah ini justru derajat ketakwaan Hawking akan ditinggikan oleh Sang Pencipta. Wallahualam
Menurut saya pendapat Hawking itu tidak perlu menjadi benturan antara sains vs agama. Hawking menjelaskan (dalam kutipan Pak Nukman) bahwa hukum-hukum untuk penciptaan alam semesta itu sudah ada, dan tidak perlu Tuhan turun tangan langsung untuk membuat alam semesta ini ada.
Ini mungkin bisa dianalogikan seorang direktur (director; dari kata “to direct” = mengarahkan) yang menugaskan anak buahnya untuk melakukan tugas-tugas day-to-day supaya dia bisa lebih fokus dengan visi dan strategi pengembangan perusahaannya dan tidak terjebak dengan keribetan teknis. Bukan berarti direktur tidak bisa turun tangan masalah teknis, tapi bukan pada kapasitasnya ia melakukan itu.
Hukum-hukum alam sebagai sebab (causa) itu sudah ada dari semula karena diciptakan oleh Tuhan (sang Prima Causa), supaya alam semesta lengkap dengan sistem penunjang kehidupannya bisa hadir dan bekerja tanpa campur tangannya langsung setiap saat. Bukan berarti Tuhan tidak bisa menciptakan dan mengontrol mereka langsung, tapi sebagai Sang Mahakuasa saya pikir Tuhan akan memilih anak buahnya dari hukum-hukum alam untuk menjalankan perintahNya, dan memilih para malaikat yang diberi tugas yang spesifik sebagai “manager” jalannya alam semesta tersebut.
Saya pikir ini sah-sah saja, karena, sebagaimana Einstein katakan : “Tuhan tidak bermain dadu”
@26 Chandra Malik
Kalo di lihat dlm tafsir Ibnu katsier, ada riwayat hadist dr Ibnu Abbas r.a. bahwa kisah itu terjadi setelah dia memenggal kepala berhala2, di adili dan di bakar, tp tetap selamat.Kmd di usir oleh orang tuanya setelah ndak berhasil mendakwahinya.
Kisah itu menceritakan bahwa dlm perjalanannya nabi Ibrahim bertemu dg kaum penyembah bintang, kmd utk bs mendakwahi mrk nabi Ibrahim pura2 ikutan nyembah,kmd ktk bintang hilang baru dia menjelaskan ke kaum tsb kalo itu bukan Tuhan, Tuhan ndak mgkn hilang. Dmk juga dg bulan yg lbh besar & matahari di siang hari.
Kisah pencarian Tuhan yg lbh tepat mgkn pd saat nabi Ibrahim minta di tunjukan sesuatu sbg bukti yg memperkuat keyakinannya (menentramkan hatinya).Kmd Allah menyuruhnya memotong burung mjd 4 bagian, dan di sebar ke 4 tempat yg berbeda, kmd Allah menyatukan & mghidupkanya kembali. [Bisa di rujuk di Al-Qur'an, surat Ali Imran]
@theonlynelly (4): sepertinya paradoks itu sudah lama dijabarkan einstein lewat teori relatifitasnya,dengan ilustrasi dua gerbong kereta api nyaris tanpa gaya gaya gesek antara roda dengan rel.saat salah satunya maju,penumpang dari kereta yang maju tersebut akan merasa kereta yang diam sedang bergerak mundur.intinya adalah relatifitas acuan.bila acuan yg digunakan adalah bumi,jangankan matahari,alam semesta pun mengitari bumi (jangan lupa kata ini –> SECARA RELATIF).oiya,mungkin paradoks lain untuk bahan renungan,apakah mahluk hidup benar-benar berasal dari mahluk hidup? clue:DNA
telur vs ayam?, tuhan vs alam semesta?, hidup vs mati?, agama vs sains?, yang udah jelas, kitab suci butuh teknologi yang disebut “alat tulis” supaya dapat dibaca sampai sekarang. Pertanyaan tolol “kalo gitu berarti agama butuh sains donk, biar bisa eksis sampai sekarang?” semua yg komentar, sy yakin mikir dulu sebelum “submit comment” (termasuk saya)…berarti semua masuk ke ranah sains donk..? capeee deh
, out of the box (besok makan apa?)
mungkin ini hanya sebuah contoh dari kehebatan alam pikir yang berasal dari -+ 1.200 gram otaknya Mr. Stephen Hawking. Pun yang konon hanya berfungsi 30% saja. Saya malah jadi ingat pepatah lama : katak dalam tempurung. Nah kebetulan tempurungnya mungkin mayoritas…jadi gede juga ya
Pendapat saya pribadi (yang berasal dari 1.200 gram otakku dan mungkin yang berfungsi ga sampai 30% malah )—> Tuhan itu berada di dalam dan di luar area otak ciptaanNya. Cirinya, kalau otak udah mentok untuk menjabarkan sesuatu maka aku akan menyebutNya MAHA, sebagai BATAS kemampuanku berpikir ( di luar area otakku ) Tuhan ada dimana saja dan Dia tampak sedang mengedikkan BahuNya…:D
mungkin Mr Stephen ini baru mau mengakui apa yang dia sebut “tuhan” kala dihadapkannya sakratul maut..
karena dia dalam fase apa yang dikatakan :
ISTIDRAJ
karena dia adalah contoh orang2 yang disebutkan dalam Al-quran : surah 68 (44-45)
coba dibaca dulu aja bukunya, kalo mau gampang ada gratisannya juga kok tinggal search di google
barang siapa telah beriman/mempercai sesuatu tentu dirinya takkan berubah karena terpaku pada satu ajaran yang satu barang siapa ingin mengetahui mereka pasti banyak membaca hal hal lain yang pasti akan mempengaruhi pikiran seseorang dan berani merobah pandangan dan terus berkembang menurut pikiran yang terbaru, setiap manusia boleh memilih,jang jelas semuanya belum terbukti keberadaanya hanya keyakinan aja yang ada pada diri manusiaboleh pilihh
Hubungan agama dengan ilmu
Sebelum kita berbicara secara panjang lebar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi antara hubungan antara agama dengan sains maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan dan versi sudut pandang manusia.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang lahir melalui saintisme yang mendeskripsikan definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai ‘segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ sehingga yang diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu.ini adalah pandangan yang kita kenal sebagai saintisme,faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.artinya manusia harus mengikuti pandangan manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan yang mendeskripsikan ilmu sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupaun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena manusia membatasi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang gaib sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu akan berbenturan dengan agama.
Jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistic hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu tidak akan bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fitnah ‘benturan agama vs ilmu’ maka yang harus kita analisis adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi siapa yang berbenturan dengan agama itu,bila itu adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi saintisme (yang membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera) maka itu adalah suatu yang pasti akan terjadi,sebab agama tidak membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera sebab dalam pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus bisa menjangkau keseluruhan baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga dua alam itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai satu kesatuan system).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung).jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
filosof dan saintis hanya menemukan sebagian dari realitas dan bukan keseluruhan,tak ada seorangpun diatas muka bumi ini yang bisa menangkap serta mendeskripsikan secara keseluruhan apakah itu filosof atau bahkan seorang nabi sekalipun,sebab manusia adalah makhluk yang terbatas,yang bisa ditangkapnya hanyalah sebagian kecil realitas.contoh : saintis menangkap sebagian kecil realitas sebatas itu bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,dibalik itu adalah realitas yang manusia tak mampu untuk menjangkaunya.sebab itu sungguh picik ketika agama mendeskripsikan sisi realitas yang tak bisa ditangkap oleh indera manusia kemudian langsung divonis sebagai : ‘irrasional’, sepertinya manusia sudah tahu keseluruhan realitas saja.