Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!

Hari ini saya membaca berita menyedihkan di Detik.com mengenai gadis cantik yang hilang dan orang tuanya menduga anaknya diculik setelah janjian di Facebook. Hari ini juga, koran Kompas menulis sebuah artikel betapa rentannya anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di dunia maya. Sepekan lalu, pelacuran ABG Indonesia melalui Facebook terbongkar. Setahun lalu, saya menonton Oprah Show yang membahas khusus betapa para pedofili memanfaatkan Facebook untuk mencari korbannya yang masih anak-anak. Melihat perkembangan akhir-akhir, tren negatif jejaring sosial itu kian menyeruak. Memang manfaat positif media sosial ini sangat banyak. Namun kita tidak dapat menutup mata terhadap dampak negatifnya.

Facebook menyediakan data yang berlimpah bagi orang yang berniat tidak baik. Data itu antara lain nama, alamat, pendidikan, pekerjaan dan data demografis lainnya, serta hobi dan kecenderungan lainnya. Dengan mempelajari profil di Facebook, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas terhadap seseorang.

Kecuali data, Facebook dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk berinteraksi, mulai dari email, berbagi foto, bahkan hingga chat.

Perpaduan kelimpahan data dan fasilitas interaktif itu sangat mempermudah orang  menjalin hubungan dengan orang lain (yang bahkan sebelumnya dianggap sebagai orang asing sekali pun).

Anak-anak yang masih polos, akan lebih mudah tertipu oleh kalimat-kalimat manis dibanding mereka yang sudah dewasa. Anak-anak yang biasanya tanpa prasangka buruk, lebih mudah terjebak untuk berkomunikasi dan menjalin keakraban jika terus menerus diajak berkomunikasi dengan berbagai fasilitas di Facebook. Tidak mengherankan jika para penggemar sex dengan anak-anak di Amerika Serikat mencari korban via Facebook. Jangan-jangan, fenomena ini juga sudah merambah ke Indonesia.

Dengan fiturnya yang memberi dampak luar biasa itulah Facebook jelas-jelas mengharamkan Facebook bagi anak-anak. Saya kutipkan aturan Facebook tersebut di sini:

No information from children under age 13. If you are under age 13, please do not attempt to register for Facebook or provide any personal information about yourself to us. If we learn that we have collected personal information from a child under age 13, we will delete that information as quickly as possible.

Aturan tersebut jelas-jelas menunjukkan bahwa Facebook bukan untuk anak-anak. Demikian pula jejaring sosial lain yang sejenis seperti Friendster atau MySpace.

nokid

Namun, banyak anak-anak Indonesia di bawah 13 tahun yang menjadi anggota Facebook, bahkan dengan sepengatahuan orang tuanya. Sebagian orang tua tersebut malah bangga anaknya punya akun di Facebook.  Hari ini saya mengecek Facebook dan mendapatkan fakta bahwa dari 17,6 juta pemilik akun asal Indonesia, 360 ribu diantaranya berumur 13 tahun. Saya yakin, yang kurang dari 13 tahun mengaku berumur 13 saat membuat akun tersebut.

Bagi orang tua, saya sarankan untuk segera menghindarkan anak-anaknya yang belum berumur 13 tahun dari Facebook dan jejaring sosial sejenis. Memang banyak game-game menarik di Facebook yang bisa menggoda anak-anak. Namun tetap saja hindari. Masih banyak game lain yang menarik dan bisa dimainkan tanpa harus jadi anggota Facebook.

Bahkan untuk remaja yang sudah berhak membuka akun di Facebook pun, perlu mendapat perhatian dari orang tuanya. Bertemanlah dengan mereka di Facebook dan jejaring sosial lain, kenali teman-temannya, jadi sahabatnya di dunia maya, sehingga orang tua mengenal betul dengan siapa anaknya berteman di jagad maya ini.

Para orang tua, waspadalah, dan pelajarilah secara mendalam soal media sosial ini demi masa depan anak-anak.

*sumber foto di sini

Related posts

33 thoughts on “Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!

  1. Lilix Kilik

    Smoga para orang tua membaca artikel ini, dan sadar akan artinya kontrol bagi anak2nya. dan sebalikya anak2 diberikan pengertian penggunaanya

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Iim Rusyamsi. Iim Rusyamsi said: RT @nukman: Blog Sudutpandang: Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak! http://bit.ly/beAmtK […]

  3. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by nukman: Blog Sudutpandang: Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak! http://bit.ly/beAmtK

  4. ngutip

    jangan larang anak untuk memakai jejaring sosial yg populer di mata mereka, nanti anak akan merasa misfit atau lebih parah lagi mereka mengunakannya secara sembunyi2, dan kita tidak bisa mengontrolnya.

    kita hanya ingatkan dan beri penjelasan baik dan buruknya jejaring sosial tadi, sehingga sianak nanti bisa memilah mana yg baik dan mana yg buruk. beri kebebasan mereka untuk memilih.

    jadilah teman(friend) dalam jejaring sosial dgn anak tsb, sehingga kita bisa sedikit mengontrol dam memonitor apa yg menjadi wacana si anak.

    jangan terlalu dominan dan mengomentari status si anak secara berlebihan. biarkan mereka bergaul dan tidak merasa risih jika mereka mengomentari / membuat status, ingat kita juga kan pernah anak2

  5. 360.000 facebooker indonesia berusia 13 tahun? saya juga yakin banyak yang dibawah usia itu sudah punya akun di facebook, dengan anggapan usia 13 tahun adalah usia anak kelas 1 smp, di beberapa pelatihan internet yang pernah saya ikuti, anak SD juga sudah mengaku punya akun di facebook.
    dan ini artinya mengerikan bila dilihat sebagai obyek seks, atau penipuan oleh orang dewasa lainnya.

  6. setujuh pak, orang tua juga harus tau bahaya dari internet

  7. Sampai saat ini, anak saya, Hana (5.5 tahun) masih meminta dibuatkan akun FB karena saudara2nya punya. Tapi, tentu saya tolak. Karena, saya paham betul bahaya apa yang bisa terjadi. Saya bahkan katakan kepadanya bahwa dia baru bisa punya akun FB jika sudah punya KTP (usia 17 tahun). Dia bertanya, kenapa saudara2nya yang usianya belum 17 thn boleh? Terpaksa saya mengarang lagi, :D. Tapi, ini demi kebaikan anak saya, tentu. Sekarang, ia menggunakan akun saya, suami, atau oom-tante-nya untuk bermain pet society dan game2 lainnya di FB. Sayangnya memang banyak orang tua yang tidak mau ambil pusing padahal mengambil pusing hal2 seperti ini adalah salah satu tugas orang tua, bukan?

  8. yg lucu orang tuanya malah bangga, karena anaknya sudah bisa pespubkan 🙂

  9. Cewek yang tadinya status hilang udah ditemukan dan dinyatakan sebagai korban pemerkosaan.

    Semoga menjadi pelajaran bagi semuanya. Kalau bisa yang cewek-cewek gak usah pasang foto-foto yang aneh-aneh hehe

    update dari Sudutpandang:
    korban sudah ditemukan dinihari bersama pasangannya Detik.com: Polisi Temukan Nova Bersama Ari di Tangerang

  10. Lebih waspada lebih baik, add anak sebagai teman, dan child, ikuti feednya, ketahui paswordnya, cermati jika anak punya akun lain.

  11. mayoritas orang Indonesia memang masih gaptek dan ironisnya begitu antusias dengan barang baru yg hype *sigh*

  12. Tulisan di blog ini menjadi bahan utama ketika saya diwawancarai koran Sindo, dan terbit hari ini, Selasa, 9 Feb 2010. Isinya dapat dibaca di: Nova Hilang,Diduga Diculik Teman Facebook

  13. .
    Lha sayah sebagai orang tuwa ndak ngerti maenan anak-anak jaman sekarang macem ; komputer, internet, apalagi Fesbuk….

    Piye jal…??? 😛

  14. Mohon ijin untuk copas di blog anak saya

  15. Endah

    Hal ini juga menjadi keprihatinan saya… sedih melihat orangtua dengan “bangga” membuatkan akun fesbuk untuk anak-anaknya di bawah 13 thn, bahkan yang masih balita. Orangtua cenderung permisif & tidak ada kemauan untuk memberikan penjelasan yang logis untuk anak-anak mereka.
    Setidaknya untuk memuaskan orangtua di sekitar saya/yang saya kenal, saya menyarankan untuk tidak membuatkan akun fesbuk untuk anak yang di bawah umur yang diijinkan… memberi alternatif dengan akun “Fesbuk Anak-anak” yaitu: KIDSWIRL, yang didesain sesuai usia & ada kelompok/kategori umurnya (2 thn – 18 thn) disertai dengan panel orangtua, guru, rohaniwan. Setidaknya masih ada pengawasan/kontrol dari orang dewasa… Tapi kita sendiri tahu, gambaran orang Indonesia pada umumnya, ada yang menerima secara positif/terbuka tetapi ada pula yang pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak peduli. Apa sih bangganya kalau anak kita punya akun fesbuk dewasa? … Saya pribadi sih tidak mau anak-anak saya menjadi cepat dewasa sebelum waktunya.

  16. Adi

    Salah benar, baik buruk, saya kira itu sisi yang harus kita pandang dengan bijak. Golok bisa dipake kerja di kebun, bisa juga dipake bunuh orang. Para koruptor menggunakan ponsel untuk berkomunikasi mengatur kejahatannya, makanya disadap oleh KPK. Apakah kemudian golok dan ponsel akan dilarang?

    Saya kira anak-anak masih rentan karena konsep baik buruk benar salah belum cukup kuat tertanam di dalam dirinya, karena itu orang tua masih perlu memberi bimbingan, sehingga bisa ngenggunakan fasilitas seperti golok, handphone, dan facebook untuk keperluan yang baik dan benar.

    Saya dengar pernyataan Pak Nukman yang membuat saya merenung cukup lama, tentang social media yang telah berhasil mengalihkan perhatian orang-orang dari situs porno. Manfaat dan mudharat dalam hal ini saya kira lebih dipengaruhi sudut pandang kita.

  17. Apakah orang tua nya juga sudah membaca dan memahami peraturan itu Bang?

    Apa malah ikut senang anaknya bisa ber-facebook ria?

  18. memang internet sangat luaaaaaass sekali, jadi bagaimanapun juga anak2 masih butuh bimbingan orang tua. alias parental advisory.

  19. saya satuju kalau orang tua jaman skrg juga hrs aware dgn perkembangan dunia maya saat ini..paling tidak untuk mengawasi anak anak mereka

  20. […] Adalah kewajiban orang tua untuk melindungi anak anaknya dengan baik dari berbagai macam ancaman dari luar. Jangan karena gagal melindungi lantas menudingkan kesalahan pada keadaan. Memang kita tak bisa sendiri, it takes a village to raise our children kata Hillary Clinton. Bagaimana cara melindungi yang baik yang seharusnya disosialisasikan oleh media dan bukan menyebarkan berita ketakutan yang tidak proposional. […]

  21. cukup memprihatinkan jika media sosial telah berubah dampak serta memberikan nuansa negatif bagi sebuah keluarga atau masyarakat.

    diantara mengekang ekspresi anak-anak dengan memberikan kebebasan secukupnya, dilain pihak kemajuan teknologi dapat di dapat hanya melalui media seluler (ponsel) yang cukup banyak sisi negatif lainnya.

    semoga bangsa dan masyarakat Indonesia lebih menjaga aturan sosial dengan kultur budaya di media sosial online. 🙂

    ~tulisan yang menarik dari Sudut Pandang

  22. agung

    Thanks Pak artikelnya. Ijin share Link-nya.

  23. Good article pak.. ijin di share 😉

  24. Di indonesia kasusnya itu lebih terletak pada kesenjangan teknologi, saya kira.

    Orang-orang tua rada2 nggak melek internet, sedang anaknya pada sudah mengerti internet. Karena itulah kadang anak tidak terawasai di dunia maya.

    Padahal seandainya saja orang tua dan anak berada pada jejaring sosial yang sama (e.g. sama-sama punya account facebook). Tentu saja pengawasan bisa dilaksanakan.

    Bahkan bisa berefek positif. Orang tua yang berjauhan dan jarang berkomunikasi di ranah nyata bisa memonitor anaknya melalui dunia daring.

    Teman saya sendiri mengalami hal yang sama. Jadi lebih segan untuk out spoken dan ‘ngomoeng ngasal’ karena ternyata orang tuanya ada pada jejaring sosial yang sama dan sering komentar terhadap status anaknya.

    Lack daya serap teknologi ini tentu akan bisa dipersempit seiring perjalanan waktu.

  25. sore Gan…

    tulisannya “nyentil” juga nih…
    😆

  26. Tantangan orang tua semakin hari semakin berat, harus cerdas, cekatan dan tau teknologi..

  27. […] Orang tua sering melarang anak-anak di bawah umur atau balita bermain pisau karena bisa melukai anak tersebut. Pisau hanya boleh digunakan oleh mereka yang berhak. Sama juga dengan Facebook. Aturan Facebook sudah jelas dan terang benderang. Hanya mereka yang sudah berusia 13 tahunlah yang boleh menggunakannya. Anak-anak tidak berhak menggunakan Facebook! […]

  28. hehehe..13 tahun masih mending pak….anak tante saya dah punya facebook padahal umurnya blon genap 10 tahun…pernah saya liat doi facebookan, Syukurnya masih dalam tahap yang wajar..klo nyalain facebook plg lari larinya ke maen farmville, dari pihak orang tua sendiri juga setau saya ndak ngasih tu bocah fb an klo sedang sendiri ato tanpa pengawasan…hasilnya setelah setahun berjalan sebagai fbers sepertinya blon memberikan pengaruh yang kurang baik..

    intinya seh di pengawasan orang tua, mending jangan dilarang soalnya takutnya jiwa pemberontaknya malah keluar..

  29. arief

    mungkin anak2 indonesia, “paksa dewasa”

  30. […] setengah tahun lalu saya sudah mengingatkan hal ini. Silahkan baca di: Jejaring Social Bukan untuk Anak-Anak. var addthis_pub = ''; var addthis_language = 'en';var addthis_options = 'email, favorites, […]

  31. […] Dua setengah tahun lalu saya sudah mengingatkan hal ini. Silahkan baca di: Jejaring Social Bukan untuk Anak-Anak. […]

  32. iua kartiua

    Ya itu benar facebook sangat buruk bagi anak anak

Leave a Comment