home
Inspirasi

Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja

Posted on November 13, 2009

commentsComment: 11 Comments

Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi cerita.

Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.

jidoushi

Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.

Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.

Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi.

Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin.

Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: “Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.” Secara harfiah kalimat itu berarti: “Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan”.  Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.

Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi (P), harga jual (J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:

P + L = J

Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:

J – P = L

Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.

Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau intransitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.

Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak”. Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat “Souchi (alat) ga kowareta“.  Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab, “Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.” (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan).

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Dalam hal ini saya. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku “Seven Habits” tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.

jidoushi01
Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.

“Cintai dia.” Nasihat Stephen.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”

“Bisa. Cintai dia.”

“Tidak mungkin.”

“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”

Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Ditulis untuk Sudutpandang.com oleh: Hasanudin Abdurakhman, Direktur PT Osimo Indonesia

Bookmark and Share

11 Responses to “Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja”

  1. Wonderful post !!

    Erich Fromm pernah bilang; jangan sekedar “being” namun harus berusaha “becoming”.

  2. Apakah ini artinya bila kita melakukan sesuatu yang belum kita cintai maka nantinya kita akan mencintai hal itu? Atau

    Bagaimana jika kita mencintai/melakukan hal yang memang sudah kita cintai?

  3. Cara berpikir Jepang sih bukannya menentukan ongkos produksi dulu baru harga jual (J)…. tetapi bagaimana membuat sesuatu dengan harga sekian (fixed). Baru mereka berpikir dengan urusan ongkos produksi (P) dan laba (L). Suatu hal yang beda dengan kebanyakan pola pikir kita / barat.

  4. ada nasihat umum juga dari para pengusaha…kalau mau berusaha mulailah dari (CMIIW):
    1. yang paling menghasilkan (menguntungkan) dahulu
    2. yang paling mudah
    3. kemudian yang paling menyenangkan buat kita (kita cintai).

    Nah…betul tuh Oom Stephen Covey. Usaha yang paling menghasilkan belum tentu kita cintai.

  5. Watashi wa Indonesia jin desu..hmmm a little bit japanese conversation ya..

  6. wagh … sebuah perjuangan besar …good post !

  7. Salam.

    Asline Kang Hasan ini memang orang yang pinter bin cerdas. Tulisannya enak dibaca [dan perlu]

    Salut bin TOP BGT.

    Salam

  8. salam kenal, baru kali ini mampir di blog bapak. thansk buat saran yang membangun

  9. tulisan yang inspitratif bung Hasan.

    salam .. :)

  10. Tulisan menarik Kang Hasan, inspiratif.

  11. tulisan yang sangat cerdas…
    inspiratif sekali

    salam damai :)

Leave a Reply

Twitter

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

cahaya meubel:

Kalou Gitu sekarang lebih mudah melakukan riset di dunia maya, ketimbang pergi ke pasar, namun...

Eddy:

Memang dibutuhkan kejelian dalam melakukan analisa atas data yang tersedia. Pengalaman dalam melakukan bisnis...

rsigit pesanlogo:

riset memang bikin kita sedikit ribet, tapi hasilnya kita tak kebingungan dan langkah yang kita...

hartoto:

harus melototin data tiap hari nampaknya ni Pak Nukman.

bunga:

Setuju dengan om nukman, riset membuat kita mampu mendapatkan celah pasar yang tepat dan mengail ikan-ikan...