Hidup di Antara Dua Dunia: Karyawan dan Pengusaha

Saya mendapat pertanyaan pamungkas yang sangat menarik tatkala mengisi breakout session mengenai Blogpreneurship di Pesta Blogger 2009, kemarin, Minggu 25 Oktober 2009. Pertanyaan datang dari seorang blogger yang masih berstatus karyawan sebuah perusahaan, namun pada saat yang sama juga merintis usaha sendiri. “Sebaiknya apa yang saya lakukan, saya bingung diantara dua hal ini: bekerja sebagai karyawan atau usaha sendiri?”.

Bukan sekali dua kali saya menerima pertanyaan seperti ini. Puluhan, mungkin lebih dari seratus kali. Yang tidak bertanya mungkin lebih banyak. Kalau saya amati di sekitar saya sendiri saja, tak sedikit yang hidup di dua dunia seperti itu: mereka tetap bekerja dari jam 08:00 hingga 17:00 sebagai karyawan, dan selepas itu mereka berjibaku sebagai pengusaha (biasanya kecil-kecilan). Inilah yang oleh keluarga Tangan Di Atas (TDA) disebut sebagai pengusaha amfibi: waktunya dibagi sebagai karyawan dan pengusaha. Bukan pengusaha tulen. Bukan pula 100% karyawan.

2
Pertanyaan seperti di atas, biasanya muncul pada anak-anak muda yang masih sangat tergantung pada gaji untuk menopang hidupnya sehari-hari namun memiliki semangat wirausaha. Usianya yang muda membuatnya mampu bekerja siang malam nyaris tanpa lelah. Atau bisa juga pertanyaan itu muncul dari karyawan senior yang ingin berwirausaha, sudah mencoba, namun ketergantungannya pada gaji membuatnya takut melangkah penuh menjadi pengusaha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan tersebut seperti ini:

Pertama: Hidup sebagai amfibi itu kurang optimal dan menarik.

Bagaimana pun, waktu itu hanya 24 jam sehari. Seorang karyawan yang baik, sedikitnya mencurahkan delapan jam sehari demi kemajuan perusahaan yang memberinya lapangan kerja dan menggajinya dengan baik. Mereka yang bekerja dengan baik, biasanya cukup lelah selama kerja, sehingga waktu di luar jam kerja dimanfaatkan betul untuk istirahat, menikmati hiburan dan bersosialisasi.

Karyawan yang baik tidak akan mencuri waktu kerjanya untuk hal-hal di luar kebutuhan kerja, baik untuk mengurusi bisnisnya sendiri atau mengerjakan pekerjaan lain yang biasanya disebut sebagai moonlighting.

Sebaliknya, pengusaha menghabiskan 24 jam sehari untuk  membangun dan membesarkan usahanya. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, nafasnya adalah mengembangan usaha.

Maka mereka yang hidup di dua dunia ini akhirnya akan lelah sendiri dengan dua risiko: prestasinya sebagai pekerja tidak akan istimewa dan bisnisnya pun sulit berkembang.

Kedua: Sulit mencari amfibi yang sukses

Sampai hari ini saya kesulitan menemukan sosok sukses seorang amfibi. Jauh lebih mudah menemukan pengusaha yang berhasil atau karyawan yang berprestasi hebat. Alasan pertama di atas menjadi penyebab utamanya. Mustahil berprestasi hebat di dua dunia dalam kungkungan waktu 24 jam sehari.

Oleh karena itu, kepada para karyawan/pengusaha amfibi, saya menyarankan:

Satu: Kalau bisa, keluarlah dari status amfibi dan menjadi  karyawan/pengusaha tulen.

Dengan menjadi yang tulen, potensi kita untuk menjadi karyawan hebat dan berprestasi akan jauh lebih besar. Banyak contoh karyawan hebat berprestasi yang bisa kaya raya mengalahkan pengusaha. Lihat saja para manager, GM, direksi perusahaan-perusahaan mapan.

Dengan menjadi tulen pula, potensi dan peluang kita membesarkan usaha terbuka semakin luas. Iim FahimaAulia Halimatussadiah yang biasa dipanggil Ollie, dan Mohammad Rosihan adalah sebagian contoh yang memutuskan sepenuhnya menjadi pengusaha dan kini menuai sukses.

Dua: tetapkan waktu kapan menjadi karyawan/pengusaha tulen.

Bagi yang sudah bertahun-tahun menjadi amfibi, memang sulit untuk memutuskan menjadi tulen. Untuk mempermudahnya, tetapkan waktu kapan  untuk menjadi tulen,  misalnya paling lama setahun dari sekarang. Dengan demikian kita dapat membuat perencanaan matang keluar dari kungkungan amfibi.

Related posts

56 thoughts on “Hidup di Antara Dua Dunia: Karyawan dan Pengusaha

  1. sebenarmya hidup ini banyak pilihan ya..

  2. Setuju Pak, niat saya buat self-employed baru muncul 4 tahun belakangan ini sejak punya anak, dan saya baru serius jadi amfibi 2 tahun ini, target jadi amfibi 2 tahun lagi dengan pertimbangan lunasi utang keluarga + cari modal usaha + modal hidup, welcome 2014!!

  3. sekarang sih saya masih jadi amphibi dan menikmati dua peran tersebut…sudah pasang target metamorfosis, semoga kesampaian.

  4. Akhirnya per Juli 2012 (lebih awal 1,5 tahun dari target semula), saya lepas dari status amfibi, siap bermetamorfosis fokus di jalan mompreneur, thanks Pak Nukman!!

  5. bang udin

    saya tadinya wiraswasta, sekarang saya menjadi pegawai tapi masalah usaha sudah saya serahkan sepenuhnya kepada orang kepercayaan saja….
    masih amphibi-kah saya???

Leave a Comment