Posted on June 19, 2009
Saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana bisa sukses membuat situs web yang banyak dikunjungi dan bisa berjualan di online, baik oleh pebisnis online maupun para pelaku bisnis offline yang ingin ekspansi pasar melalui dunia maya. Bahkan beberapa diantaranya berharap dapat sukses dengan biaya seminim mungkin, kalau perlu gratis. Belakangan ini, seiring dengan maraknya social media, saya juga sering mendapat pertanyaan, bagaimana cara cepat agar bisa berjualan lewat jejaring sosial seperti Facebook. Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Kenapa sulit? Karena yang ditanyakan adalah sesuatu yang taktis. Bagaimana membuat web yang bakal banyak dikunjungi pengguna Internet , itu taktis. Bagaimana menggunakan Facebook sebagai ajang jualan, itu taktis. Kita seringkali lupa, online itu hanya medium. Website perusahaan, web site jualan barang, toko online, e-commerce, Facebook, Twitter dan lain sebagainya itu hanyalah sebuah media.
Banyak pengusaha baik kecil menengah maupun yang enterprise, terjebak pada pendekatan taktis. Mereka seolah lupa bahwa untuk sukses itu wajib melakukan pendekatan strategis, dengan cara berfikir strategis.

Apa bedanya taktis dan strategis? Yang taktis sudah saya contohkan di atas. Sedangkan yang strategis lebih esensial. Saya berikan contoh yang menarik ketika berdiskusi dengan salah satu pengusaha kecil yang memproduksi sebuah produk yang tidak saya sebut di sini. Ia sudah mendistribusikan produknya ke berbagai kota besar dan lumayan laku. Ia sudah membuat sebuah situs web dengan harga yang dianggapnya cukup mahal. Ia berharap akan banyak order dari pengguna Internet di berbagai belahan Nusantara. Ia berharap ada pembeli retail atau perorangan. Ia juga berusaha memanfaatkan Facebook untuk mempromosikan barangnya.
Ia mengeluhkan betapa kecilnya trafik ke situs webnya, yang otomatis juga memperkecil peluang mendapatkan pembeli perorangan di situsnya.
Untuk menggali di mana masalahnya, saya ajak ia diskusi, yang saya petikkan sebagian diantaranya di bawah ini.
Nukman: Apakah anda memproduksi sendiri produk itu?
Pengusaha: iya, betul, saya memang produsennya.
Nukman: Anda jual/distribusikan sendiri?
Pengusaha: Saya titipkan ke berbagai toko di kota-kota besar
Nukman: Laku?
Pengusaha: Alhamdulillah laku dan berkembang, sehingga karyawan saya lumayan banyak, tapi saya ingin lebih laku lagi, terutama lewat Internet.
Nukman: Barapa harga per item produknya?
Pengusaha: Rp 40 ribuan
Saya langsung terbayang, betapa repotnya mengurusi penjualan retail untuk produk yang semurah itu. Untuk mendapat omset Rp 4.000.000 sehari paling tidak ia harus menjual 100 item ke 100 pembeli, yang sepertinya agak sulit jika melalui Internet.
Nukman: Jadi anda berharap banyak orang membeli produk itu lewat Internet?
Pengusaha: Iya, betul. Bukankah sekarang eranya berjualan lewat Internet? Saya tidak mau ketinggalan tren ini.
Nukman: Baiklah. Seandainya ada pembeli online yang berasal dari sebuah kota, katakanlah Jogjakarta, dan di kota itu sebenarnya ada toko yang menjual produk Anda, apakah pemilik toko itu tidak marah?
Pengusaha itu diam sejenak dan tidak menjawab.
Nukman: Bagaimana jika situs webnya bukan untuk jualan retail, tapi untuk memperluas jaringan, untuk mencari distributor baru? Dengan menjaring sebanyak mungkin distributor baru melalui online, diharapkan produk Anda semakin banyak tersebar ke berbagai wilayah.
Saya membayangkan, akan lebih mudah mencari pembeli grosir dalam jumlah banyak sekali beli, sehingga omset onlinenya bisa lumayan besar.
Pengusaha: ahaaaaa, jadi melalui web saya lebih banyak melayani distributor ya? Tidak perlu jualan ke retail ya?
Pengusaha itu bertanya sambil tersenyum cerah.
Pengusaha: dan selanjutnya saya tinggal melakukan promosi agar kosnumen paham produk saya dan akhirnya berniat beli ke distributor atau toko-toko yang menjual produk saya tadi?
Saya mengangguk saja.
Dengan diskusi sederhana itu, pekerjaan rumahnya bukan bagaimana meningkatkan penjualan retail di Internet, tetapi bagaimana membangun jaringan yang lebih luas agar produknya tersebar di berbagai wilayah, sekaligus melakukan promosi online agar target audiencenya memahami produknya, kemudian mencari dan membelinya.
Itulah salah satu contoh berpikir secara strategis, yang selalu dimulai dengan pertanyaan sederhana:
1. Apa sih tujuan/objektif (misalnya) masuk ke Internet?
2. Siapa target pasarnya?
3. Bagaimana perilaku online target pasarnya?
4. Bagaimana menjangkau target pasarnya?
5. Dan seterusnya.
Dengan berpikir strategis, langkah-langkah taktis dapat dilakukan dengan lebih terarah dan terukur, dan efisien. Yang tadinya ingin berjualan retail, kini berubah menjadi berjualan grosir atau memperluas distribusi dengan skala penjualan yang lebih besar.
Diskusi strategis di atas hanyalah contoh. Kita bisa membuat contoh-contoh lain, yang selalu dimulai dengan apa TUJUANNYA.
Kalau sudah runtut seperti di atas, baru masuk ke langkah taktis. Misalnya, untuk contoh di atas, bagaimana membangun webnya, bagaimana mempromosikannya, bagaimana menggunakan Facebooknya atau social media lain, bagaimana menggunakan email marketingnya, dan seterusnya.
Kalou Gitu sekarang lebih mudah melakukan riset di dunia maya, ketimbang pergi ke pasar, namun...
Memang dibutuhkan kejelian dalam melakukan analisa atas data yang tersedia. Pengalaman dalam melakukan bisnis...
riset memang bikin kita sedikit ribet, tapi hasilnya kita tak kebingungan dan langkah yang kita...
harus melototin data tiap hari nampaknya ni Pak Nukman.
Setuju dengan om nukman, riset membuat kita mampu mendapatkan celah pasar yang tepat dan mengail ikan-ikan...
Lebih Jauh tentang Social Recruiting Survei 2011
Survei 2011: LinkedIn, Rajai Social Media untuk Rekrutmen
Infografik: 2011, Social Recruitment Meningkat Drastis
June 19th, 2009 at 8:09 am
Memang terkadang beberapa orang melupakan hal-hal yang sederhana seperti ini…
June 19th, 2009 at 8:49 am
hihi, bahkan saya pun suka kebablasan lebih memikirkan teknis (atau taktis) daripada strategis.. lebih memikirkan printil2nya daripada grand ideanya..:P
June 20th, 2009 at 4:07 am
Hmmmm,,, betul juga pak, terkadang kita perlu menyesuaikan cara berpikir kita. Tentu yang sesuai dengan tujuan yang dibuat sebelumnya.
Mungkin saya orang yang seimbang aja deh,
Strategis dan taktis,,, dan yang terpenting saudara2 how to success with your mindset, not how to success with your action.
June 21st, 2009 at 11:47 pm
betul pak, tulisannya sangat inspiratif, membuka sudut pandang
June 22nd, 2009 at 4:31 am
sy rasa ada kerancuan dalam menilai produk tsb layak dijual online atau tidak hanya dari segi harga. jika harganya dinaikkan, lets say, 70rb, apakah langkah tsb menjadi bernilai strategis? Utk mencapai omset sekian, tentunya sangat repot jika harus melakukan pengiriman sekian ratus kali…. itu rasanya relatif ya. Amazon juga memiliki item yg harganya tidak lebih mahal dari 50rb. Sebetulnya tulisan pak Nukman kali ini kurang menjelaskan apa itu berpikir strategis. Kalau mau lebih jelas mengenai strategi, lebih baik membaca buku2 dewa strategi spt trout, drucker, dst.
June 22nd, 2009 at 4:56 am
@Bagus:
Mungkin ada bagian terlewatkan yang belum mas Bagus baca mengenai cara berpikir strategis. Saya kutipkan lagi sebagian tulisan di atas.
…salah satu contoh berpikir secara strategis, yang selalu dimulai dengan pertanyaan sederhana:
1. Apa sih tujuan/objektif (misalnya) masuk ke Internet?
2. Siapa target pasarnya?
3. Bagaimana perilaku online target pasarnya?
4. Bagaimana menjangkau target pasarnya?
5. Dan seterusnya.
Kasus Amazon berbeda dengan contoh kasus yang saya sampaikan di atas. Amazon adalah perantara, mereka tidak punya produk. Amazon mengambil buku dari mana saja dan kemudian menjualnya. Sebaliknya, yang saya ceritakan di atas adalah produsen, pembuat langsung. Produsen lebih tepat membangun jaringan yang lebih luas dan mempromosikan brand nya, ketimbang menjual langsung secara retail dan harus bersaing dengan distributirnya sendiri.
Dengan berpikir strategis, kita tidak hanya melihat apakah produk itu layak jual apa tidak, tetapi bagaimana kita mempertanyakan apa Objektif atau Tujuan kita hadir di dunia maya.
June 24th, 2009 at 2:51 am
betul pak, saya setuju sekali dengan berfikir strategis, kadang2 saya sendiri masih berfikir taktis sementara yang strategis jarang difikirkan.
June 27th, 2009 at 5:09 am
Wah Mas Nukman… udah jadi begawan Online Business nech… Salam dari muridmu darn temen lama waktu jalan-jalan di TATP dulu ya Mas..
Setuju.. memang berpikir strategis seperti yang disebutkan sama Mas Nukman relevan untuk masalah tersebut. Karena bagaimana membuat sebuah situs ramai dikunjungi dan jualannya laris sudah masuk dalam area STRATEGIS. Bukan lagi area tektis dan persoalan coding semata..
Membuat sebuah situs ramai dikunjungi tentu saja satu hal.. Membuat product yang display disana ramai di serbu pembeli juga satu hal lagi.. Dan hal itu pasti juga tidak akan jauh-jauh dari diri kita dan mereka (pengunjung maksudnya) sebagai manusia. Mahluk social yang punya sesuatu yang kita kenal dengan sebuatn INTEREST..
Bagaimana mungkin kita bisa membuat orang berkunjung ke situs kita dan berharap orang tersebut akan bercerita ke orang lain akan menariknya situs kita, kalau isi dalam situs tersebut tidak menarik minat siapapun untuk mengaksesnya.. Membaca isinya.. Mendownload materi-materi disana.. Apalagi menceritakan ke orang lain..
Menarik minat saja tidak kok..
Begitu juga dalam membuat product yang dijual disana bisa laris diserbu oleh para pengunjung yang akhirnya berhasil dibujuk untuk mampir.
Seberapa menarik harga, product atau cara menawarkannya di dalam situs tersebut. Apa advantage yang ditawarkan..
Bagaimana juga jika dibandingkan dengan penawaran dari offline business yang relatif jauh lebih murah misalkan.. Pilihan lebih beragam misalkan..
Apa yang bisa membuat orang lebih memilih membeli product tersebut secara online tentu saja bukan hal-hal taktis.. Tetapi sudah 100% strategis.. Sudah masuk dalam area MARKETING yang pure STRATEGIC MOVE
Dan yang lucu lagi.. Banyak orang mengabaikan hukum SEBAB AKIBAT dalam upayanya untuk menarik pengunjung datang ke situs web mereka dan berharap product-product yang mereka tayangkan akan di beli oleh pengunjung situs mereka..
Padahal hanya dengan mengikuti hukum sederhana ini.. Maka membuat orang untuk berkunjung ke situs tertentu dan berbelanja didalamnya menjadi akan urusan yang bisa jadi lebih mudah akhirnya..
Salam
Laksita Utama
June 29th, 2009 at 12:02 am
@Laksita:
Waah ketemu lagi sama mas Laksita setelah sekian lama. Senang bisa ketemu lagi. Komentar panjang dan dalam dari mas Laksita bener-bener mak nyus, dan mengena. Kapan-kapan kita ngopi2 ya
June 29th, 2009 at 6:33 am
Siap Mas… Siap berguru lagi sama Mas Nukman.. Tentu saja Mengenai Internet Marketing dan strategi terbaik untuk memanfaatkannya..
Kalau aku ke Jakarta.. Insya Allah mampir..
Soalnya sekarang udah nggak di Bandung lagi.. udah menetap di Malang..
Tapi melihat semangat yang ada dalam tulisan Mas Nukman.. Betul-betul luar biasa !!!
Siapa sangka Teknik Nuklir UGM malah jadi Bill Gates Indonesia di bidang Internet..
July 2nd, 2009 at 6:00 am
Makasih pak Nukman, atas artikel yang sangat berharga ini!
July 7th, 2009 at 1:34 am
mantap om.. terima kasih atas infonya…
saya akan terus berusaha….
salam super…
July 9th, 2009 at 3:22 am
wah sangat inspiratif..
August 3rd, 2009 at 11:20 pm
memang harus begitu…terkonsep..dan terstruktur…
August 22nd, 2009 at 9:30 am
Salam sejahtera dari saya pak Nukman,
Bapak bisa menjadi tunggangan saya tidak pak?
jika bisa tlg bales dalam email pribadi saya
saya tunggu ya pak
karena ada beberapa pertanyaan yg mau saya tanyakan
ya itu mengenai buka usaha
termia kasih sebelumnya pak
August 22nd, 2009 at 9:44 am
Saya suka baca artikel artikel bapak
meski saya ga banyak waktu
tapi selalu saya sempatkan buat baca
hehe
August 24th, 2009 at 11:19 am
Gaya ini yang saya suka dalam setiap tulisan Pak Nukman: informatif, bernas dan sangat logis untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.
Terima kasih atas ilmunya, Pak Nukman.
November 15th, 2009 at 12:29 pm
Saya jadi ingat satu hal, biasanya setiap kita beli barang secara online ongkos kirim selalu dibebankan kepada pembeli, nah coba bayangkan kalo ongkos kirim dari barang yg kita jual secara retail ternyata lebih besar dari harga barang itu sendiri…ini kadang yg menyebabkan transaksi batal terjadi, terus terang saya punya pengalaman seperti itu. Makanya sekarang saya coba terapkan untuk pembelian retail minimum harus 3 pcs dan akan diberikan diskon sebesar 5%
November 17th, 2009 at 6:16 am
kalau ini berbalik dengan saya ya pak….saya lebih suka jual retail krn retail itu lebih personal.memang jual grosir lebih cepat dan menguntungkan tapi ya itu tadi kalau jual grosir misal baju ukuran SML, kebesaran atau kekecilan dan model yg pasaran kita ngk mau tahu.beda dngn saya yng lebih suka personal…ibu maunya baju ukuran apa ? modelnya gimana ? ngk suka kain yang ini ?… dll, dll..jadi bersifat personal, kalau sdh suka, ongkir yg lebih mahal dari harga produk mereka tetap mau kok….tapi ya itu tadi kembali ke tujuan kita dan target kita…mau mengincar niche market yang masih biru dan luas spt samudra atau ngincar pasar grosiran yang sudah merah dan “no personal” touch..kalo bisa sih di combine aja.alhamdullilah sudah saya lakukan
March 21st, 2010 at 5:32 am
Wah, inspiratif banget mas…
July 13th, 2010 at 2:46 pm
wah teknik berpikir yang sangat bagus, makasih infonya, saya tunggu tulisan selanjutnya ya…