Menjadi Entrepreneur Bukan Sekadar Memperkaya Diri Sendiri

Pekan lalu, dua andalan Virtual Consulting — yakni Iim Fahima dan Tuhu Nugraha — terpilih sebagai finalis IYCEY 2008, yaitu sebuah ajang pemilihan Young  Creative Entrepreneur  yang diadakan setiap tahun oleh British Council. Sepuluh finalis kebanyakan berlatarbelakang CEO, Founder, GM  maupun Director dengan usia dibawah 35 tahun ini. Iim Fahima sendiri adalah founder, direktur, dan online marketing communications strategist Virus Communications, sayap usaha Virtual Consulting di bidang online marketing communications yang ia lahirkan bersama suaminya, Adhitia Sofyan, dua tahun lalu. Sedangan Tuhu Nugraha adalah senior web consultant Virtual Consulting yang banyak memberi terobosan baru Web 2.0 marketing pada klien-klien Virtual Consulting, termasuk Toyota Astra Motor.

Meski tidak menang, keduanya sangat terkesan dengan ajang tahunan tersebut dan bertekad akan mengikuti lagi tahun dengan dengan semangat yang tak kalah menggebu dibanding tahun ini.

Bagaimana kesan Iim Fahima? Di bawah ini penuturannya:

iim2

Para finalis, buat saya, adalah sekumpulan anak muda brilian yang membuat saya begitu  bangga dan bersyukur bertemu dengan mereka. Kreatifitasnya, pemikiran-pemikirannya yang tajam, semangat untuk menerobos  kemapanan adalah segelintir attitude yang membuat saya thrilled. Jangan menduga dengan attitude seperti itu, mereka adalah  orang-orang yang ’serius’. No. Mereka sangat jauh dari sifat serius atau pun kaku. Mereka ‘bocor’ dan ‘gila’ =).

Oleh-oleh yang paling berbekas di benak saya dari event ini ada 2:

Pertama: Saya semakin disadarkan dan diingatkan bahwa menjadi entrepreneur bukan hanya untuk memperkaya diri.

Triawan Munaf, salah satu Juri IYCEY sempat ngobrol selintas dengan saya tentang perlu ditonjolkannya pemikiran dan action terkait aktifitas Corporate Social Responsibility (CSR).

Irfan Amalee, Founder dan CEO Mizan Publisher yang menjadi pemenang di sektor komunikasi, mengangkat sebuah success story Mizan Publisher dalam membuat ‘Peace Generation Program’ yang eksekusinya berupa buku-buku interaktif untuk anak-anak yang isinya  sarat dengan pesan moral perdamaian. Lewat promosi door to door yang zero funding, saat ini sudah lebih dari 10.000 pelajar  dari Jawa, Kalimantan dan Aceh terlibat di program ini, juga 100 peace agent yang terdiri dari guru, trainer dan donatur menyebar di seluruh Indonesia. Irfan bercita cita suatu saat program Peace Generation ini bisa mendunia.

Dua hal diatas, somehow kembali mengingatkan saya perlunya sebuah perusahaan memiliki sebuah VISION, yang buat saya adalah sebuah spiritual objective yang diturunkan dalam spriritual statement, spiritual action. Vision ini yang akan  menjadi tujuan akhir perusahaan, memberi hati pada setiap aktifitas dan pada akhirnya membuat perusahaan memiliki dampak  positif terhadap lingkungan. Bukan sekedar memperkaya diri.

CSR ‘hanya’ sebuah eksekusi amal baik. Di balik CSR, harus ada sebuah dorongan yang lebih besar. Vision. Hal ini lah yang akan membuat CSR betul-betul dilakukan dengan hati, bukan topeng untuk menarik simpati publik.

Memiliki visi yang jelas dan bulat, bukanlah hal mudah. Membuatnya mendarah daging dalam diri kita is another hard work,  apalagi membuatnya mendarah daging di para pegawai. Tapi itulah tantangan entrepreneur, karena menjadi entrepreneur bukan  hanya untuk memperkaya diri sendiri, tapi lebih besar dari itu, membuat bisnis kita memberi dampak positif  terhadap lingkungan, negara, kemanusiaan.

Kedua: Luangkan waktu untuk berpikir hal-hal strategic.

Salah satu acara selama masa karantina IYCEY adalah diskusi tentang business strategic yang dipandu oleh Wayah PhD dari  Universitas Bina Nusantara. Dalam diskusi tersebut, pak Wayah menyebutkan bahwa hal yang biasa terjadi pada pengusaha yang  baru membuka bisnisnya adalah tuntutan untuk memantau bahkan ikut terlibat secara detail setiap aktifitas bisnis.  Akibatnya, setiap hari kita sibuk tenggelam dalam hal-hal yang sifatnya eksekusi dan lupa meluangkan waktu untuk berpikir  strategic untuk mengembangkan bisnis. Ketika kita sadar, pasar sudah berubah, kompetisi sudah bergeser, dan kita gelagapan  mengantisipasi perubahan itu.

Sebuah paparan yang insightful.

Kata salah seorang finalis, berikan waktu untuk bengong, alias keluar dari rutinitas dan berpikir kreatif. Ipod adalah hasil bengong Steve Jobs. Bengong tidak akan membuat produktifitas menurun. Sebaliknya, justru akan membantu kita stay alert dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan bukan tidak mungkin, ditengah bengong kita malah mendapatkan ide kreatif  untuk mengembangkan bisnis.

 

Itulah sudut pandang Iim, yang memutuskan pindah kuadran dari profesional iklan menjadi entrepreneur dua tahun lalu. “Being an entrepreneur is not only about making yourself rich“, katanya. Menjadi entrepreneur bukan sekadar memperkaya diri sendiri.

Sayangnya, saya masih sering mendengar, motivasi mereka yang ingin pindah kuadran ke pengusaha adalah uang, harta, kekayaan dan sejenisnya. Memang, jenis-jenis kekayaan kasat mata ini merupakan motivasi paling manjur. Itu sebabnya banyak motivator yang laris manis karena menawarkan jurus-jurus dan motivasi kaya mendadak — kalau perlu, tanpa modal.

Di tengah arus yang seperti itu, saya senang mendengar sudut pandang Iim. Saya bahagia ada ajang seperti IYCEY yang membekali pengusaha mudah belia dengan semangat untuk menjadi lebih dari sekadar kaya, untuk lebih banyak memberi manfaat kepada yang lain. Semangat ini yang terus digembar-gemborkan oleh segelinir pengusaha atau kelompok pengusaha seperti Roni Yuzirman dan kawan-kawan melalui Tangan Di Atas, dengan tagline-nya “Bersama Menebar Rahmat”, serta Jamil Azzaini dengan visi “Sukses Mulia” nya.

Related posts

60 Thoughts to “Menjadi Entrepreneur Bukan Sekadar Memperkaya Diri Sendiri”

  1. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya angkat topi buat mba Iim Fahirna, telah memiliki kesadaran yang demikian mendalam tentang arti sebuah kesuksesan bin keberhasilan. Saya ingat, ketika saya harus memutuskan untuk tidak meneruskan ikut tanda tangan kontrak kerja pada sebuah bank ternama selepas kuliah, namun bersama 2 orang teman yang juga masih muda sepakat mendirikan sebuah lembaga keuangan mikro syariah yang lebih dikenal dengan nama BMT, yang kami beri nama BMT Cengkareng Syariah Mandiri. Hanya dengan modal 60 jutaan ditahun 2006, alhamdulillah kini beraset 1,3 Miliar di 2008. Lembaga tersebut bergerak pada pembinaan, pengembangan dan pembiayaan bagi Usaha Kecil Muslim yang selama ini kesulitan dalam mengakses lembaga perbankan untuk modal usahanya. Dengan motto “Bersama Berbuat Terbaik untuk Kebaikan Bersama” kami yakin bisa berbagi manfaat dan menebar maslahat bagi masyarakat. Hingga kini hampir kurang lebih 1000an orang yang kami layani. Dan ternyata lebih mudah membuka lapangan pekerjaan daripada mencari pekerjaan. Selamat Buat Mba Iim & Terimakasih buat Pak Nu’man.

  2. Adi

    Wuih .. benar2 bermanfaat tulisan ..diatas, mendapat pencerahan, wawasan baru, inspirasi baru .. moga2 tidak akan pernah kehilangan motivasi untuk menulis seperti ini …

  3. seemoet

    #51 “Dan ternyata lebih mudah membuka lapangan pekerjaan daripada mencari pekerjaan”

    Membuka lapangan pekerjaan memang mudah, tapi menjaganya untuk tetap konsisten dan berada pada jalan yang benar (baca: tidak membodohkan/membodohi orang kebanyakan)…?

    Oom Nur emang tipe orang yang punya sifat high integrated kali ya..

  4. shodiq

    sekaranglah saatnya membangun bangsa ini dengan entrepreneur yang sejati, jangan takut menjadi entrepreneur dan mimpikan yang besar dengan memulainya dari yang kecil.

  5. itakatsuki

    GOOD…Saluttt…cap jempol 2 tangan dan 2 kaki.
    Jgn mau kalah ama entrepreneur2 asing.Kita bisa….

  6. Iya setuju!
    Jadi Entrepreneur, selain membuat diri sendiri kaya raya, juga tentunya ikut mengayomi para pegawai agar mereka juga merasakan kebahagiaan dan bisa hidup layak.

    Kemudian masyarakat di sekitar kita juga harus ikut merasakan kemakmuran kita selaku entrepreneur. Kita semestinya ikut membangun kesejahteraan lingkungan sekitar bahkan lingkungan yang jauh dari kita pun perlu kita ayomi juga.

    Jadi Entrepreneur memang bukan untuk memperkaya diri sendiri. 😀

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano 🙂
    Motivational Blog – Support Your Success
    Entrepreneur Campus – Support Your Future

  7. Menjadi Enterpreneur di masa awal tidak terlepas dari keinginan untuk memperkaya diri sendiri, hal tersebut manusiawi dan tidak dapat ditampik, mengingat sesesorang yang memutuskan memilih menjadi enterpreneur menginginkan usahanya untuk maju dan otomatis membukukan laba yang berlebih.

    Tujuan lain dari menjadi enterpreneur di masa awal bervariasi, ibadah, membuka lapangan pekerjaan, menambah penerimaan negara dengan membayar pajak dari usahanya (yg ini jarang terjadi, hehehe) dll.

    Seiring dengan kemajuan yang dicapainya baik materi maupun kematangan berbisnis, seorang enterpreneur tidak lagi berfikir teknis secara rinci tentang apa yang harus dilakukannya…..IDE…hanya ada IDE dan IDE tersebut harus mendatangkan MANFAAT (tidak harus selalu PROFIT.

    In the end…..KEPUASAN….dan kembali lagi ke IBADAH….

    let see…..happy life….

  8. talitha

    nyanyi dulu ah. .tergugah . .aku tuk menulis. . .semua coment dan yg dcomentari ok banget . . .seperti itulah yg di inginkan tuhan . . .segala sesuatu yg kta lakukan dengan tujuan menyembah kepadanya begitupun ktka kta kaya . . .harus berbgi kpd mahluk tuhan lainnya . .amiin

  9. Sebenarnya ngga hanya dengan menjadi entrepreneur aja sih mas. Pokoknya segala apapun yang kita lakukan yang sifatnya menghasilkan bukan semata-mata untuk tujuan memperkaya diri. Lebih baik menjadi orang yang mampu daripada menjadi orang yang kaya.

  10. Tips dan Tulisan postingannya bermanfaat, saya dalam ide baru dari postingan ini. Terima kasih banyak

Leave a Comment