Siti Fadilah Supari Menghancurkan Lingkaran Setan Dunia

Senyumnya ramah. Bicaranya lembut. Namun, jangan kaget kalau ia bisa berapi-api ketika berbicara mengenai kesewenang-wenangan dan penindasan negara kaya, lembaga internasional, serta kapitalis vaksin terhadap negara miskin. Dialah DR.Dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), Menteri Kesehatan RI, yang kini sedang menjadi sorotan dunia karena gebrakannya dalam melawan dominasi WHO (World Health Organization) dan Barat (Amerika Serikat).

Ceritanya bermula dari paksaan WHO terhadap Indonesia agar mengirimkan virus flu burung H5N1 strain Indonesia yang melanda negeri ini dua tahun lalu ke WHO Collaborating Center (CC) untuk dilakukan risk assesement, diagnosis, dan kemudian dibuatkan seed virus. Entah bagaimana caranya, virus asal Indonesia itu berpindah tangan ke Medimmune dan diolah menjadi seed virus. Hebatnya, seed virus ini diakui sebagai miliknya karena diolah dengan teknologi yang sudah mereka patenkan. Indonesia, yang memiliki virusnya tidak punya hak apa-apa. Padahal, dengan seed virus inilah perusahaan swasta itu membuat vaksin yang dijual ke seluruh dunia dengan harga mahal.

Bagi Siti Fadilah, hal ini aneh. Yang memiliki teknologi mendapatkan hak amat banyak. Sebaliknya, yang memiliki virus tidak dapat apa-apa. “Sehebat apapun teknologi Medimmune, jika ditempelkan di jidatnya kan tidak akan menghasilkan seed virus H5N1 strain Indonesia,” kata lulusan kedokteran Universitas Gadjah Mada yang juga lulus program doktor di Universitas Indonesia itu dalam bukunya yang berjudul Saatnya Dunia Berubah – Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

Apa yang terjadi di Indonesia ternyata juga dialami negara miskin lain. Negara yang terjangkit penyakit, dipaksa mengirimkan virusnya ke WHO CC melalui skema GISN (Global Influenza Surveilance Network). Namun bukannya dimanfaatkan untuk kesehatan seluruh dunia, virus itu malah disalahgunakan oleh negara kaya untuk membuat komoditas dagang, antara lain dalam bentuk vaksin. Bahkan ada kemungkinan dijadikan senjata biologis. Celakanya, negara miskin sering kesulitan mendapatkan vaksin tersebut karena sudah diborong negara lain yang belum terkena virus tersebut untuk pencegahan.

Kalau posisinya seperti itu, Siti Fadilah berpraduga, negara kaya akan berusaha menciptakan virus baru untuk dilemparkan ke negara miskin. Kemudian negara miskin mengirim virus baru tersebut ke WHO. Dan selanjutnya WHO akan mengirim virus ke negara kaya untuk dibuatkan vaksinnya. Dus, negara kaya pun memiliki komoditas dagang virus baru.

“Siklus itu akan berputar seumur hidup,” kata spesialis jantung dan pembuluh darah ini. Negara miskin akan sakit terus, sakit dan sakit. Siklus yang tak berujung ini bak lingkaran setan. Celakanya, ketika negara miskin makin terpuruk gara-gara virus, negara kaya datang bak dewa penolong dengan memberikan sumbangan yang tidak seberapa dibanding keuntungan mereka dari berdagang vaksin.

Siti Fadilah melihat ketidakadilan itu — yang ternyata sudah berlangsung selama 60 (enam puluh) tahun dilakukan oleh WHO. Tergeraklah nuraninya. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang Menteri Kesehatan dari negara bukan super power. Namun, ia berpikir dan bergerak cepat. Nalurinya mengatakan, kalau bahwa pemaksaan pengiriman virus ke WHO adalah salah satu kunci lingkaran setan. Maka kalau ia enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi. Intuisinya benar. Dunia bereaksi. Negara barat — terutama pemerintah dari negara penghasil vaksin — geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke seluruh dunia dan terjadi pandemi.

sitifadilah

Dari sinilah perang Siti Fadilah terhadap penindasan WHO dan negara kaya dimulai. Ia membuka borok WHO dalam mengelola lalulintas virus dunia. Perang ini amat menggetarkan, seru dan melelahkan. Maklum, yang dilawan adalah lembaga dunia yang didukung penuh oleh negara kaya dan berkuasa, yang bisa berbuat apa saja. Pertempuran itu tergambar begitu bagus di bukunya. Saya terpukau membaca halaman per halaman. Saya tak mau berhenti sejenak pun. Terbayang betapa gigihnya Siti Fadilah dan timnya berjuang di kancah internasional. Pengagum Bung Karno ini tak mengenal kata mundur. Ia tanpa lelah melobi negara-negara lain untuk mendukungnya. Setiap anak buahnya mengabarkan bahwa posisinya terjepit di tengah negosiasi dan kemungkinan besar kalah, ia selalu mengatakan: tidak ada kompromi. Aturan pengiriman virus ke WHO yang tidak transparan harus dihapus.

Perjuangannya berhasil. Ia mampu memaksa WHO berubah. Ia berhasil menghancurkan lingkaran setan pervaksinan dunia. Kini aturan mainnya lebih adil, transparan dan setara.

Adil artinya negara miskin yang mendapat penyakit flu burung mendapatkan hak atas virus yang dimilikinya. Jika virus itu dibuat vaksin, maka negara korban akan mendapat haknya atas vaksin sesuai aturan.

Transparan artinya negara yang menderita maupun negara lain mengetahui pasti kemana virus itu perginya, diapakan oleh siapa, dan yakin bahwa virus itu tidak digunakan untik senjata biologis.

Setara artinya antara pengirim virus dan pembuat vaksin setara, selevel.

Tak terasa, buku setebal 200 halaman yang diluncurkan 6 Januari 2008 lalu itu saya khatamkan dalam tempo empat jam.

Dari sinilah saya mulai bangga memiliki seorang menteri bernama Siti Fadilah. Ia bukan hanya menteri. Ia juga ilmuwan yang sudah menghasilkan 150-an karya ilmiah dan meraih berbagai penghargaan (antara lain: Best Young Investigator Award pada Kongres Kardiologi di Manila, Filipina, 1998. T. Best Young Investigator Award pada Konferensi Ilmiah tentang “Omega 3” di Texas, Amerika Serikat, 1994. Serta Antony Mason Award dari University New South Wales, Sidney, Australia).

Namun, lebih dari itu, dalam kasus melawan WHO dan AS, ia menujukkan diri sebagai seorang negosiator tangguh dan “diplomat” ulung yang mengangkat harkat bangsa Indonesia di kancah dunia.

Jangankan saya, pihak luar pun sangat bangga dengannya. Dengarlah apa kata majalah top dunia seperti The Economist (6 Agustus 2006):

For the sake of basic human interest, the Indonesian government declares that genomic data on bird flu viruses can be accessed by anyone. With those words, spoken on August 3rd (2006), Siti Fadilah Sapari started a revolution that could yet save the world from the ravages of pandemic disease. That is because Indonesia’s health minister has chosen a weapon that may prove more useful than todays best vaccines in tackling such emerging threats as avian flu: transparency.

Namun puteri Solo kelahiran 6 Nopember ini sadar, perjuangan belum selesai. “Saya sedang membuat buku kedua,” katanya kepada saya setelah acara talkshow di SmartFM Jakarta Jumat lalu (2 Mei 2008).

Related posts

110 thoughts on “Siti Fadilah Supari Menghancurkan Lingkaran Setan Dunia

  1. HambaAllah

    Semakin jelas dan terkuak siapa sebenarnya dibalik sepak terjang KPK ini, targetnya adalah orang2 yang bersih dan berpotensi untuk membuka borok2 kaki tangan zionis akan dihancurkan dengan segala cara…

  2. Hatijah Ayu

    Berjuang terus srikandiku..

  3. siti fs lover

    Semoga Ibu Siti Fadilah senantiasa dalam lindungan dan berkah Allah serta diberi kekuatan lahir&batin.

  4. sarnidi

    Siti fadilàh dan dahlan iskan adalah pejuàng ikhlas yg hàrus dihancurkan agar antek2 jahudi senaknya berkeliaràn dg bebas dibumi indonesia utk menguasai bumi negàra tercinta….

  5. nonot.s

    Sejatinya Srikandi kemanusiaan. Semoga Allah memberikan rohmat dan barokah selalu kepada Ibu.

  6. sayid

    Ya Allah Robb semesta alam, tunjukilah bagi kami yang haq dan yg bathil, kuatkanlah iman kami dalam memperjuangkan kebenaran, maju terus bu Siti Fadilah dan tawaqal

  7. Bambud

    Kita harus bersatu, bergandeng tangan utk melawan, apa yg oleh Bung Karno disebut Neo-kolonialisme. Apa yang dilakukan oleh ibu Siti Fadilah Supari, adalah perjuangan membela kemerdekaan bangsa dan negara RI dari penghisapan oleh negara2 imperialis. Mari kita berjuang bersama ibu Siti Fadilah….
    Yang di sektor migas, yang di sektor tembakau, yang di sektor pertanian, yang di sektor pertambangan, yang di sektor pendidikan, yang di sektor kesehatan, yang di sektor pertanahan, peternakan, dll, mari belajar dari kasus virus ini. Karena begitulah pola gerak neo-kolonialisme di segala sektor kehidupan bangsa2 yg dihisap. Ibu Siti Fadilah, kami siap di belakangmu…..

  8. Johan Akbari

    Ya Allah , Jika memang KAU ada ,Kuatkan SriKandi Ku , Teguhkan Imannya , Sehatkan Dia
    Ibu !!! … Sebarkanlah Info sekecil apapun mengenai Kasus ibu, Kezhaliman ini biar Masyarakat yg menyelesaikan , ini tidak bisa dibiarkan !

  9. saiful ridjal

    lihat F Supari jadi ingat Gus Dur. Orang baik, krn mengancam berbagai kepentingan fihak lain direkayasa sedemikian rupa dg target gus dur jatuh.
    aktor utamanya adl amin rais. tiap hari difitnah dan diberitakan miring. akhirnya gus dur memang jatuh. dan amin rais lah pemenangnya.
    tapi rakyat tdk selamanya bodoh. tuhan pun berkehendak dg cara lain. makin hari kehormatan gus dur makin bertambah. sementara amin rais makin hari makin terpuruk bhkn semakin kerdil (kasus ahok). jauh dr sikap negarawan. memang emas tetaplah emas meski di lumpur lapindo.

  10. […] Maka kalau ia enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi. Intuisinya benar. Dunia bereaksi. Negara barat – terutama pemerintah dari negara penghasil vaksin – geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke seluruh dunia dan terjadi pandemi.(sumber) http://sudutpandang.com/2008/05/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/ […]

Leave a Comment