Menulis itu Gampang: Memberi “Roh” pada Tulisan

mumu

Arswendo Atmowiloto adalah orang yang paling bertanggung jawab atas meluasnya keyakinan bahwa menulis itu gampang. Masalahnya, keyakinan semacam itu sebenarnya tidak banyak membantu dalam praktiknya –kecuali sekedar menjadi jargon yang menghibur.

Faktanya, menulis tetaplah sesuatu yang sulit, setidaknya bagi sebagian orang. Bagi sebagian yang lain lagi? Memang tidak sulit, melainkan “sangat sulit”. Oke, lupakan saja. Ketika kita “tiba-tiba” menghadapi suatu zaman yang memungkinkan semua orang bisa menjadi penulis (lewat teknologi blog), maka sudah tidak diperlukan jargon apapun dalam soal menulis itu sendiri. Sehingga, masalahnya sekarang tinggal, bagaimana menulis dengan bagus, itu saja.

Kita sering memuji orang lain, atau sebaliknya, mendengar orang lain memuji kita, “Tulisan lu bagus deh!” Tapi, ketika diminta merumuskan tulisan yang bagus itu seperti apa, kita kelimpungan. Mungkin ini isyarat bahwa tulisan yang bagus memang tak ada rumusnya, atau tak perlu (atau tak bisa?) dirumuskan. Melainkan, hanya bisa dirasakan. Ah, tapi pernyataan seperti ini pasti bohong juga. Sebab, paling tidak secara teknis, pasti ada semacam kriteria atau katakanlah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sebuah tulisan bisa disebut bagus. Dan, kita mungkin memang harus merumuskannya, untuk memudahkan pemahaman dan praktik.

Baiklah, mari kita coba rumuskan sama-sama. Nanti, yang keberatan atau tidak setuju langsung saja tunjuk jari.

1. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang jujur, hasil dari penggalian yang tak henti terhadap gaya sendiri, dikembangkan dari kepekaan personal –sesuatu yang tidak bisa ditiru dari (dan oleh) orang lain, karena datang dari dalam diri.

2. Itu filosofinya. Praktiknya, tulisan yang bagus –dalam bahasa Srimulat– adalah tulisan yang “tunjep poin” alias langsung menukik ke pusat inti masalah, atau kadang bahkan langsung ke dampak suatu masalah.

3. Atau, kalau Srimulat terlalu ngocol untuk urusan menulis, saya pinjam rumusan kritikus sastra Nirwan Dewanto deh biar lebih puas: tulisan yang bagus itu dimulai dari tengah.

Oke, sampai di sini, untuk sementara, kita sudah menemukan satu rumusan: menulis dari tengah. Artinya apa? Jangan pernah memulai tulisan dengan pernyataan-pernyataan atau klaim-klaim atau premis-premis yang klise. Kata Kholid Hussaini (penulis novel best seller “The Kite Runner”): hindari klise seperti kau menghindari penyakit menular.

Contoh pembukaan tulisan yang klise:

Seiring dengan kemajuan teknologi….atau, Di zaman globalisasi seperti sekarang ini…atau, Seperti kita ketahui bersama kita hidup di era informasi

Pangkas habis klise-klise seperti itu. Mengatakan sesuatu yang sudah teramat-sangat jelas hanya akan membuat perut kembung dan akhirnya muntah-muntah. Plis, jangan siksa pembaca tulisanmu!

4. Yang bagus itu bukanlah isinya, melainkan cara menyampaikannya. Menulis tentang pengalaman cinta pertama tidak lebih hina –atau pun lebih hebat– ketimbang misalnya kenangan seputar peristiwa G 30 S/PKI. Semua tema, materi, pengalaman, perasaan dan sebagainya punya tempat dan derajat yang sama dalam tulisan; yang membedakannya adalah bagaimana semua itu dituturkan.

Ya, jadi, bagaimana semua itu “harus” dituturkan –agar menjadi tulisan yang bagus?

— Gunakan sudut pandang yang berbeda, unik, orisinal, detail. Ibaratnya, melihat sebuah pohon dari atas batu dengan dari helikopter yang terbang tentu hasil penglihatannya akan berbeda.

— Perkaya, pertajam dan perkuat dengan kosa kata yang terjaga. Banyak-banyaklah membaca puisi. Chairil Anwar, Rendra, Sitor Situmorang tentu wajib. Rekomendasi: Goenawan Mohamad, Dina Oktaviani. Lainnya: cari sendiri.

— Beri sentuhan lain: humor nyaris selalu diperlukan. Kontradiksi-kontradiksi dan ironi-ironi memberikan kedalaman pada tulisan. Sinisme kadang-kadang membuat tulisan bercahaya seperti kristal. Sarkasme, bitchy bisa asik asal sesuai dosis.

— Pertimbangkan aspek “visual” –yang memungkinkan pembaca seolah-olah “merasakan sendiri” atau “hadir”, dan bukannya sekedar memberi tahu mereka.

———————————

Tulisan di atas adalah sudut pandang Mumu Aloha , yang coretan pena dan ketikan keyboardnya amat sangat saya sukai, mengenai Menulis itu Gampang. Dipersembahkan khusus untuk Sudutpandang.com.

Tulisan terkait:

Related posts

27 thoughts on “Menulis itu Gampang: Memberi “Roh” pada Tulisan

  1. pada akhirnya semua kembali kepada selera kita ya pak …
    mau nulis yang bagaimana ..

  2. Tulisan Mumu terakhir di blog-nya yang bertajuk : “Dia Melihat ke Arahku (Atau: Mengapa Kita Bisa Bahagia dengan Hal-hal yang Sederhana?)” mungkin salah satu contoh tulisan yang teramat brilian.

    Bloger lain yang tulisannya punya “nyawa” mungkin adalah Wicaksono Ndoro Kakung

    Saya juga suka dengan gaya tulisan Roni Yuzirman

    Untuk dunia off line, nama-nama seperti GM, Seno Gumira, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, dan Nirwan Dewanto mungkin merupakan nama yang patut dijadikan referensi.

  3. kw

    tulisan yang bagus itu bisa “mengkampak” muka pembacanya kata kafka. 🙂

  4. Setuju Pak Yodhia. Tulisan Mumu itu keren. Menghipnotis pembaca.

    Terima kasih atas apresiasinya terhadap tulisan saya. Saya masih belajar kok. Tapi paling tidak, saya berusaha cerita apa adanya, kepada teman.

    Pak Nukman, saya menikmati blog anda yang satu ini. Kenapa nggak dari dulu aja pak…

  5. tulisan bagus atau jelek yang tergantung yang membaca tulisan kita…
    biar nulisnya jelek, kalo dibilang bagus oleh orang lain ya bagus….

    yang lebih penting kan manfaat dari tulisan tersebut…

  6. tulisan bagus itu menurut aku yang bisa membuatku tertawa ….hahahahahaa,,,baik inspirational,tragik,motivational,enlightment…dan mampu me-cas semangatku …dan meluaskan wawasanku…dan memberiku sudut pandang yang lain…dan membuatku tersenyum tatkala memngingatnya…dan mampu mendewasakan aku lewat isi yang terkandung di dalamnya…so,menulis emang gampang kok!
    dan itu ada pada tulisan pak roni yuzirman yang selalu memunculkan hal2 baru bagiku sejak 2005 silam.terus nulis pak…

  7. sugiyo

    Kita hanya butuh penulis yang menulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting, bukan menulis sekedar untuk menulis. Blog yang bertebaran membuat siapapun penulis merasa dirinya menjadi “center of the universe”, sehingga kemudian berbagai hal remeh temeh seolah menuntut sang penulis untuk mendedikasikan waktu dan perhatiannya, menulis tentang hal tsb. Contoh : membahas gaya bicara Cinta Laura. Ketika hal seremeh itu menjadi “buzzwords” di blogosphere, maka hal itu menjadi penting, kalau Anda tidak ikut, Anda keluar lingkaran. Saya sedih melihat begitu banyak penulis merasa hebat dengan tulisannya hanya karena efek “flocking” (banyak comments, banyak yang lihat, banyak yang suka dsb.). Sangat menyedihkan. Generasi ‘penulis blog’ boleh berpesta dengan jaman bebas ini, tapi mereka melahirkan generasi yang semakin dangkal dan dangkal…

  8. siap siap minta tanda tangane mumu nih.

  9. Bener pak, menulis itu tidak sulit tetapi ama sangat sulit. dari satu titik masalah harus dijabarkan menjadi 1500 bahkan lebih 2000 kata. tetapi bukan banyaknya kata . melainkan roh tulisan itu sendiri yang mengena dipikiran dan pemikiran pembaca. trimakasih.

  10. bangkodir

    menurut gw berkomentar juga merupakan suatu tulisan, ini juga bisa menjadi awal latihan buat bikin tulisan. pertama adalah merangsang persepsi pribadi mengenai suatu masalah yang dibaca kemudian mengkritisinya (bisa pro atau kontra). soo lansung aja nulis kolom komentar yang disediakan, tanpa basa basi. oke

  11. MONIQ

    bagaimana caranya ya masukkan ‘roh’ itu?

  12. sungguh di luar dugaan, tulisan yang singkat tpi bobot dengan makna, saya seakan menemukan pencerahan, untuk mempertajam teknik penulisan saya,,,

  13. boleh nggak tulisan ini saya posting di blog saya???

    1. boleh saja Dimas asal disebutkan sumbernya dan link ke original postingnya

  14. Pak Nukman, mohon izin menulis ulang tulisan bagus ini di blog kami. Terima kasih sebelumnya.

  15. Tulisan Yang ada di sudut pandang bagus-bagus susah milihnya, besar manfaatnya, sukses selalu.
    mohon izin copy paste, terimakasih.

  16. inspirasional sekali…

    saya juga lagi belajar nulis yang baik dan bermanfaat…

    terima kasih mas…

  17. Mumu adalah salah satu penulis favoritkuh 😀

  18. aji

    Kalo saya baca dan ngga mau berhenti, itu bagus.

  19. beniardi

    sy bc smpe akhir brarti bagus. Ya, tulisannya bagus. Nmun, rumusan itu lebih cocok untuk menulis di blog (atau notes efbe) bukan? Tulisan reportase dan analisis kurng tepat kalo mgunakan rumusan tsb krn akan tjebak pd unsur2 sastrawi. 🙂

  20. lilik

    tulisan anda saya jadikan acuan dalam tuntutan pekerjaan baru saya, terima kasih tulisanya

  21. Trima kasih mas, tulisan ini memecahkan “bisul” menulis di otak saya.
    Tulisan ini >> http://t.co/lHrGpcfSoJ buah dari tulisan anda.
    Sekali lagi trima kasih.

    #Now4tomorrow

  22. wakidul kohar

    Mantap

  23. syafriansah viola

    memang, menemukan karakter tulisan dgn gaya sendiri itu sulit sekali.
    mesti terus di gali biar halus
    Terimakasih sdh share pak!

    1. ifunk

      Apa pun bentuknya…mulailah menulis. baik tidaknya…entar diedit.

  24. Yang penting menulis, bagaimana hasilnya terserah, karena saya yakin lama kelamaan juga pasti akan terbiasa dan akhirnya timbul keasyikan tersendiri. Saya yakin semakin sering membaca dan menulis, akan membuat semakin menambah “Roh pada tulisan” itu sendiri.

Leave a Comment